June 23, 2009

REVIEW: GARUDA DI DADAKU






































"Jangan pernah lari dari suatu masalah, karena itu akan menciptakan masalah baru."

Baguuuuuuussssssss! Kalau Indonesia bikin film berkualitas kayak gini terus, pasti perfilman kita bakal maju pesat, emang sih sekarang ini udah maju kalau dibanding beberapa tahun yang lalu, tapi kalau boleh dihitung film berkualitasnya khan cuma sedikit. Sisanya? Ga mutu semua! Horror dengan judul kampungan lah, film yang cuma bisa jualan badan lah, poster asal-asalan lah (contohnya yang sebentar lagi bakal main, judulnya The Maling Kuburan, itu posternya jelek dan ngasal parah!). Btw, ceritanya sih memang klise yaa, tentang seorang anak yang mempunyai impian dan berusaha mewujudkan mimpinya itu. Tapi filmnya ringan, enak ditonton, cocok buat seluruh keluarga banget! Cara penyajiannya ga kampungan, pengambilan gambar dalam film ini juga bagus. Sutradaranya, Ifa Isfansyah saya denger-denger sih baru selesai study di Korea Selatan, mungkin hal ini juga yang bikin film ini ada sentuhan drama Koreanya sedikit, bumbu komedinya 'dapet' banget. Garuda di Dadaku bercerita tentang seorang anak bernama Bayu (Emir Mahira) yang mempunyai impian masuk timnas U-13 Indonesia, namun sayangnya keinginannya ini ditentang keras oleh kakeknya yang kolot, Pak Usman (Ikranagara). Tapi dibantu oleh temannya Heri (Aldo Tansani) yang juga pecinta sepak bola, Bayu akhirnya berhasil bertemu dengan pelatih sepakbola dan lolos uji seleksi timnas. Yaa pokoknya inti ceritanya begitulah, si Bayu ini harus berjuang sekuat tenaga untuk membuat mimpinya menjadi pemain sepak bola hebat tercapai, meskipun banyak halangan yang harus dihadapi. Menurut saya film ini memiliki deretan pemain yang passsss sekali dengan karakter yang dibawakan, lalu kembali ke masalah pengambilan gambar yang mantap, didukung dengan soundtrack yang sesuai, beberapa sindiran kepada pemerintah yang cukup 'nyentil', dan unsur komedi yang berhasil memberi nilai lebih. Bicara soal nilai lebih, pasti ada kekurangannya juga, yaa kalau cuma kekurangan kecil saja sih ga perlu saya bahas deh disini (adegan iklan shampoo Lifebuoy yaa dimaklumi aja), insan perfilman Indonesia bisa bikin film bagus dan enak ditonton kayak gini saya udah senang banget. Lagipula tadi waktu nonton film ini, emosi saya berhasil dibuat naik turun, dari mulai ketawa, terharu, sedih, campur aduk deh! Padahal biasanya saya paling males nonton film Indonesia, soalnya sering rugi, ga ada isinya semua. Tapi satu hal yang perlu diketahui, jangan terlalu berharap banyak untuk porsi sepakbolanya, karena memang sedikit banget. Denger-denger para pecinta sepakbola yang awalnya mengira kalau film ini 'bola banget' malah pada kecewa. Karena yaa memang ini tuh film keluarga, namun didukung dengan tema sepak bola, jadi lebih menitikberatkan pada unsur drama dibanding sepak bola itu sendiri. Buat yang suka males nonton film Indonesia (saya termasuk salah satunya nih!), coba dulu deh nonton ini, dijamin bakal menghibur koq, lagian bagus khan jadi sekalian bisa ningkatin rasa ..hmm.. nasionalisme kita yang udah mulai karatan. Kalau tahun 2008 kita ada Laskar Pelangi, 2009 so far Garuda di Dadaku masih jadi juaranya! :)

+ komentar + 1 komentar

June 23, 2009 at 7:19 PM

I LOVE THIS MOVIE!!!
BAYU .. YOU're SO ASTONISHING!!

adalagi tuh yang aneh selain The Maling Kuburan. Mau Dong Ah sama Paku Kuntilanak .. hii males banget deh ..

Terimakasih the ultimate prince atas Komentarnya di REVIEW: GARUDA DI DADAKU

Post a Comment