March 5, 2010

REVIEW: ALICE IN WONDERLAND




































"This is impossible. Only if you believe it is."

Pertama kali tahu bahwa film Alice in Wonderland akan disutradarai oleh sutradara nyentrik Tim Burton saya langsung semangat dan menaruh ekspektasi yang sangat tinggi karena saya pikir film ini memang cocok sekali jika digarap oleh Tim Burton. Apalagi begitu tahu ada Johnny Depp dan Helena Bonham Carter, wow! Ternyata, entah karena ekspektasi yang terlalu tinggi atau bukan, film ini seperti kehilangan magic seorang Tim Burton. Saya mengira film ini akan sehebat karya Burton sebelumnya seperti Edward Scissorhands atau Big Fish, tapi Alice in Wonderland terlihat seperti bukan buatan Burton. Ceritanya sangat datar dan mudah ditebak, ditambah lagi dengan pemilihan Mia Wasikowska sebagai Alice yang ternyata belum terlalu bisa berakting. She absolutely had no connection with her character in this movie.

Kisah dibuka dengan Alice kecil yang selalu mengalami mimpi yang sama berulang-ulang, tentang suatu tempat asing yang memiliki kelinci putih, kucing tersenyum, ulat bulu besar berwarna biru, dan makhluk aneh lainnya. Beruntung sang ayah adalah seorang yang imaginatif dan selalu mengatakan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Tiga belas tahun kemudian Alice Kingsley (Mia Wasikowska) telah beranjak remaja, ayahnya telah meninggal dunia. Ia tengah berada dalam sebuah situasi dimana sang ibu dan saudara perempuannya memaksa agar ia mau menikah dengan pemuda bangsawan yang aneh. Ketika pemuda tersebut ingin melamarnya, tiba-tiba saja Alice melihat kelinci putih yang selalu ada dalam mimpinya sejak kecil. Ia mengikuti kelinci tersebut sampai akhirnya terperosok dalam sebuah lubang yang membawanya ke Underland. Lalu disana Alice bertemu dengan The Mad Hatter (Johnny Depp) yang memberitahunya kalau ia lah yang ditakdirkan membantu The White Queen (Anne Hathaway) untuk merebut kembali haknya sebagai pemimpin Underland dari tangan jahat The Red Queen (Helena Bonham Carter). Disana Alice juga bertemu dengan makhluk yang sudah sering ia lihat dalam mimpinya seperti Tweedledee/Tweedledum, Cheshire Cat, Blue Caterpillar, White Rabbit, dan makhluk lainnya. Lalu dimulailah petualangan Alice!

Kenapa Tim harus merubah Wonderland menjadi Underland? Sounds soooo weird.. Menurut saya itu hal yang tidak perlu dilakukan, seperti membuang sebuah esensi penting dalam film ini. Dengan naskah yang tidak dapat dibanggakan, beruntung Alice in Wonderland dikemas dalam visualisasi yang menarik khas Tim Burton. Sedikit lega melihat masih ada sedikit sentuhan Burton melalui gambar yang berwarna-warni tapi tetap sekaligus memberikan kesan misterius, karakter makhluk yang diperbaharui menjadi lebih segar dan unik. Akan tetapi ada bagian dari film ini yang terasa terlalu berlebihan dalam hal CGI, bahkan beberapa karakter benar-benar terlihat seperti kartun, bukan animasi. Animasi yang ditampilkan terkesan masih 'setengah matang'. Belum lagi saya dengar versi 3D-nya juga tidak terlalu terasa. Saya rasa menonton versi 2D sudah cukup. Ending film juga terkesan terburu-buru, keseluruhan film ini sudah dapat saya tebak dengan mudah dari awal. Ya, saya tahu ini memang diadaptasi dari serial anak-anak, tapi yang satu ini memang terasa too plain, too simple, too flat..

Dari semua kekurangan yang sudah saya sebutkan diatas, saya tetap tidak bisa bilang film ini jelek karena memang film ini cukup fun dan entertaining. Tepuk tangan meriah saya berikan untuk Helena Bonham Carter, istri Tim Burton, yang bermain sangat apik dalam memerankan karakter The Red Queen. Teriakan, intonasi, dan gelagatnya sangat pas dengan peran yang harus ia mainkan. Belum lagi dandanannya yang freak dengan kepala berbentuk hati yang super besar dan bibir love ala Jeng Kelin. Menghibur sekali. Johnny Depp yang memerakan The Mad Hatter memang jagonya peran-peran nyeleneh seperti ini dan sepertinya ia tidak kesulitan dengan perannya kali ini. Anne Hathaway tampil membawakan karakternya sebagai The White Queen yang sebenarnya agak konyol menurut saya, dengan tangan yang selalu melambai-lambai kesana kemari, but never mind, mungkin memang harus begitu. Ia cukup baik membawakan perannya. Seandainya saja peran Alice bukan dimainkan oleh Mia Wasikowska, entahlah.

Overall, film ini tetap layak untuk ditonton. Ceritanya standar namun dikemas dalam visualisasi yang indah dan sedap dipandang mata. Bagi yang tidak punya harapan terlalu tinggi pada film ini pasti akan sangat terhibur. Mungkin review saya kali ini sedikit subjektif karena saya terlalu mengharapkan sesuatu yang lebih dari seorang Tim Burton. Sudah pasti hal ini turut terpengaruhi oleh ekspektasi saya sejak awal. Namun biar bagaimanapun juga saya cukup menikmati film ini. In the end...it's NOT A BAD MOVIE at all, it's surely a perfect movie for family, but definitely not what I'd expected. :)





+ komentar + 10 komentar

March 5, 2010 at 2:01 PM

Sama banget gab pendapatnya,
saya juga merasakan hal yang sama, stone faced Wasikowska, lemahnya cerita, dan semua itu berusaha ditutupi dengan visualisasi Wonderland yang 'wah'
well, it works, tapi pada akhirnya audiences jadi cukup bosan.
Saya juga paling salut dengan The Red and The White queen, unik sekali!
btw, bener banget, efek 3Dnya gak begitu terasa, bahkan membuat saya kesulitan karena accent britishnya sangat kental, so pas bagian Mad Hatter mumbling gitu, saya cuma bisa melongok bingung

Terimakasih Movietard atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 5, 2010 at 4:08 PM

@ Movietard: Untung saya nonton versi 2D, krn temen2 yg udah nonton duluan memang pd blg kalau versi 3D ga terlalu bagus. Dan katanya 3Dnya itu dimasukin setelah filmnya udah rampung, jd ga akan sebagus Avatar (misalnya) yg memang efek 3D dikerjain barengan selama pengambilan gambar.. Hehe..

Mia Wasikowska hmm..ga begitu suka liat dia disini.. Ga tau kenapa kynya aktingnya, gaya bicaranya, kakuuuu.. Saya ga pernah nonton Alice versi kartun sebelumnya tp mustinya pemeran Alice disini harus dicari yg at least lebih luwes dan lebih bisa akting dibanding Mia. Cm pendapat aja sih.. Hehe.. :p

March 5, 2010 at 5:19 PM

iya setuju. akting mia pemeran alice kurang masuk ke dalam cerita. setuju banget

Terimakasih Annisha atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 5, 2010 at 6:18 PM

Mia Wacikowska bukannya memang disuruh berakting seperti itu, ya? Makanya mukanya di sepanjang film tampak sedikit mengernyit terus. Karakternya lebih cenderung bingung dan annoyed dengan keadaan Underland. Sedangkan di versi novelnya memang Alice justru excited dengan kebingungan yang dia temui di dunia itu.

Mungkin kita harus lihat dari perbedaan penokohan si Alice yang ini dengan yang lama. Mungkin lagi, hal inilah yang dikecewakan oleh banyak kritikus saat ini.

Btw, nice review :)

Terimakasih cupris atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 7, 2010 at 9:26 AM

Wah reviewnya cukup mempengaruhi anggapan saya gab tentang film ini soalnya belum nonton hehe. Tapi bagus ulasannya. Iya saya juga lebih setuju kalau bukan Mia yang jadi Alice. Lindsay Lohan mungkin lebih baik...

Terimakasih Shop magazines atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 7, 2010 at 10:03 AM

Setuju nih Gab. Saya juga bosan sekali di pertengahan cerita. Bahkan untuk karakter-karakternya juga terasa hambar... ga cuma Alicenya aja.

Depp udah ga impresif lagi karena rolenya yang udah sering gitu. Bonham Carter mungkin bisa jadi scene stealer di beberapa momen pertama keluarnya tapi akhirnya jadi terlalu sinting untuk tasteku. Sepertinya Tim Burton dial the crazy tone tooooo high. Kaya yang dia lakukan di Batman Returns setelah sukses di Batman.

Overall, it's a style over substance film. The world is memorable but the inhabitants are forgettable. >_>;

Bland Burton... Bland!

Terimakasih maxim84 atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 8, 2010 at 2:07 AM

Skenarionya kurang bagus, nothing special, terlalu text book...

Terimakasih Yofie Setiawan atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
Anonymous
March 9, 2010 at 12:21 PM

Iya setuju bgt,filmnya terlalu datar dan kurang mengena g kayak avatar,karakter alice kurang kuat shg g bisa bikin film ini terlihat greget.
Terus yang bikin gw agak aneh pas adegan pertama waktu ayahnya alice bilang mo expand bisnis sampe keluar negeri,dia kn nyebutin nama kota besar dari beberapa negara..nah salah satunya tu Jakarta. Perasaan pada tahun segitu (menurut gw film alice tu bersetting abad 15 atau 16,sebelum penemuan mesin ato mobil soalnya mereka msih pke kereta kuda) nama jakarta kn sunda kelapa ato jayakarta,..entahlah.tetapi yg jls bkn jakarta.Tapi seneng jg siy bbrp daerah di indonesia disebutin di situ kyk sumatra and borneo.

Terimakasih Anonymous atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
March 28, 2010 at 10:57 AM

Film ini yang paling menarik jelas si Johnny depp nya lah.
waw tapi selain pendapatannya banyak disisi lain, banyak menerima kritikan

Terimakasih Afif atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND
Anonymous
April 17, 2010 at 6:30 AM

well, alice is just a fiction and everybody has their own interpretation with that.

mnrt saya tim burton memberikan sesuatu yg berbeda pd film ini termasuk nama wonderland mjd underland krn naskahnya sendiri berbeda dr novelnya, tokoh2 yang smkin nyentrik. tp memang tll singkat dan dipadatkan sehingga alur sptnya datar. dan sepertinya film ini ingin segera selesai.
but apreciate for the visualisation.

Terimakasih Anonymous atas Komentarnya di REVIEW: ALICE IN WONDERLAND

Post a Comment