July 9, 2010

REVIEW: THE COVE




































"How much do you love dolphins?"

Siapa sih yang tidak suka dengan ikan lumba-lumba? Waktu kecil saya sering diajak ke tempat wisata di daerah Jakarta Utara untuk melihat atraksi lumba-lumba, seperti melihat sebuah sirkus! Disana saya juga pernah difoto oleh ayah saya ketika sedang mencium lumba-lumba, sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Saya yakin diantara para pembaca sekalian pasti ada yang memiliki pengalaman serupa. Akan tetapi dulu saya masih terlalu kecil, saya belum menyadari kalau binatang-binatang sirkus itu diperdaya demi uang. Sekarang saya malah merasa kasihan melihat binatang-binatang dalam sirkus, memang menghibur; apalagi untuk anak kecil, tapi saya tidak berani membayangkan betapa tertekannya mereka karena dipaksa melakukan atraksi yang sebetulnya tidak ingin mereka lakukan. Ternyata ada yang lebih mencengangkan lagi daripada itu, The Cove menguak sebuah pembantaian ikan lumba-lumba yang terjadi di Jepang! :'(



















Film ini adalah sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Louie Psihoyos. Di awal film kita diperkenalkan kepada Richard O'Barry, seorang mantan pelatih lumba-lumba yang handal, ia juga dikenal karena pernah membintangi serial televisi terkenal tentang lumba-lumba berjudul Flipper pada tahun 1960-an. Ia bukan hanya membintangi film tersebut, tapi juga melatih lima ekor lumba-lumba yang bermain disana dan menampung mereka di danau dekat rumahnya. Ketika seekor dari lumba-lumba itu mati karena stress, Ric pun sadar kalau mengeksploitasi mereka bukan lah hal yang benar. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menjadi seorang aktivis pecinta lumba-lumba. Bertahun-tahun melatih lumba-lumba membuat Ric faham betul gerak-gerik mereka, bahkan sudah seperti ada ikatan batin antara dirinya dengan binatang tersebut. Ia yakin sekali kalau lumba-lumba adalah binatang dengan tingkat kepintaran yang luar biasa.



















Mendengar desas-desus tentang pembantaian lumba-lumba di Jepang, Ric dan para kru memutuskan untuk mencari kebenaran sekaligus menjadikannya sebuah film dokumenter. Daerah yang mereka tuju adalah Taiji. Memasuki kota Taiji seperti memasuki sebuah kota yang berkedok pecinta lumba-lumba. Kota tersebut dihiasi segala pernak-pernik lumba-lumba, mulai dari umbul-umbul, kapal, museum, dan yang lainnya, persis seperti kota wisata lumba-lumba. Akan tetapi ada satu daerah terlarang di pinggir pantai Taiji, sebuah teluk kecil yang sangat dijaga ketat. Sebuah tempat yang sangat mencurigakan. Disanalah Ric dan kawan-kawan akan menguak kebenarannya. Bermodalkan strategi yang matang dan alat-alat bantuan, mereka memulai pengintaian di sekitar teluk. Hal yang tidak mudah dilakukan karena nelayan setempat sangat menjaga dan menutup rapat rahasia besar itu.



















Kalau film dokumenter biasanya membosankan, berbeda dengan The Cove. Dari awal kita disuguhkan dulu informasi tentang lumba-lumba, lalu kita diajak mengikuti Ric dan para kru ke Taiji, kita juga seakan ikut merasakan bagaimana susahnya mereka mendapatkan informasi tentang pembantaian itu, sampai pada akhirnya kita diperlihatkan kekejian yang terjadi dibalik teluk kecil tersebut. Saya sendiri sampai tidak dapat berkata-kata melihat air laut yang tadinya biru menjadi merah karena bercampur darah puluhan lumba-lumba yang dibantai para nelayan setempat. Hal ini terjadi setiap hari! Setiap hari sekelompok lumba-lumba ditangkap dan dibantai, begitu seterusnya. Masyarakat Jepang di daerah lain pun tidak mengetahui tentang adanya pembantaian ini, pemerintah seperti menutup rapat tentang apa yang terjadi dibalik teluk di Taiji. Miris sekali menonton The Cove. Apalagi pada akhir film disajikan sebuah adegan yang betul-betul membuat klimaks film ini sangat tersampaikan. Perasaan saya campur aduk ketika menyaksikan adegan akhir itu; sedih, haru, bangga, dan puas. Selesai menonton film ini, hati anda akan tersentuh. The Cove adalah sebuah film dokumenter yang wajib ditonton. Fakta membuktikan kalau sejak akhir tahun 2009 lalu, sudah sekitar 23.000 ekor lumba-lumba yang dibantai dengan keji, lalu apa yang harus kita perbuat? ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹ ☹




+ komentar + 8 komentar

July 9, 2010 at 10:16 PM

sadis!!!!!!!

Terimakasih dr. B atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
July 10, 2010 at 10:37 AM

parah
btw knapa lumba2nya dibantai??

Terimakasih Ambharr atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
July 10, 2010 at 5:11 PM

soalnya dagingnya diambil dan dimakan, trus dipasarin ke daerah2 lain jg. >.<

Anonymous
July 11, 2010 at 3:03 PM

ini masuknya film dokumenter ato film biasa?

Terimakasih Anonymous atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
Anonymous
July 12, 2010 at 3:45 PM

ngeri amat tuh lumba2 dibantai...

anyway, thanks buat pemilik blog review2 dari anda memudahkan saya untuk memilih tontonan yang berkualitas, hehehe.

Terimakasih Anonymous atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
July 18, 2010 at 7:48 PM

gab, nonton d mana nih?

Terimakasih jimmy thenedy atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
Kvnto
July 29, 2010 at 6:16 PM

Film bagus bikin james bond kaya film anak anak ...
Sayang filmnya searah dan tidak melihat dari sisi pemerintah Jepang jadi filmnya seolah olah propaganda.
Ooh btw lumba lumba sama halnya dengan pinguin atau anjing laut, mereka bukan hewan langka tapi lebih kearah hewan 'imut'. Kalo berkata sadis tanya diri sendiri yang pada makan ikan tuna karena tuna sirip kuning yang dulu jadi konsumsi kita justru sekarang termasuk langka.

Terimakasih Kvnto atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE
April 23, 2011 at 12:58 PM

saya jadikan bahan untuk tugas sinematografi saya boleh mba?
terimakasih

Terimakasih Khansa atas Komentarnya di REVIEW: THE COVE

Post a Comment