December 8, 2010

12th JIFFEST 2010 - REVIEW: BIUTIFUL




































Biutiful - Spain / Mexico


Biutiful adalah sebuah film yang rumit namun menarik untuk diikuti. Sang sutradara Alejandro González Iñárritu (Amores perros, 21 Grams, Babel) sepertinya ingin menenggelamkan para penonton kedalam alur cerita depresif dan berusaha menghubungkan titik-titik yang berhubungan satu sama lain dalam film ini. Biutiful adalah sebuah film yang menayangkan potret kehidupan yang ada di masyarakat sekitar kita, sebuah potret yang kita tahu akan keberadaannya namun tidak ingin menjalani kehidupan seperti itu. Film ini depresi, gelap, putus asa, gila, kotor, sesak, dan sebutlah segala macam kata yang dapat mengekspresikan suasana keterpurukan yang ingin diangkat Iñárritu disini. Saya rasa, ide dibalik Biutiful adalah tentang kehidupan, bagaimanapun buruknya nasib dalam hidup; tak perduli betapa miskin dan menderita, selalu ada keindahan yang tersimpan. Kita harus berusaha tetap positif dalam menjalaninya agar dalam melihat keindahan itu. Biutiful = Beautiful.

Uxbal (Javier Bardem) adalah seorang ayah dengan dua anak yang sedang berjuang mati-matian menjalani hidup. Ia baru mengetahui kalau ia menderita penyakit ganas dan harus menjalani perawatan rutin. Selama ini, ia mencari uang dengan menjadi perantara para imigran gelap asal Cina atau Afrika dan mencarikan mereka lapangan kerja yang mau memakai jasa para imigran dengan bayaran upah yang jauh lebih murah. Ia juga bisa berbicara dengan orang yang sudah meninggal dan terkadang menerima bayaran dari talentanya itu. Istrinya, Marambra (Maricel Álvarez), sudah tidak tinggal serumah dengannya dan anak-anak. Marambra mempunyai kepribadian ganda dan terkadang bisa berlaku seperti orang gila. Meski mempunyai pekerjaan yang melanggar hukum, Uxbal termasuk orang yang peduli terhadap sesama, ia rela membantu istri dan anak salah seorang pekerjanya yang tidak tahu harus tinggal dimana karena sang suami tertangkap polisi dan akan dideportasi ke negara asalnya. Namun, waktu terus berjalan dan Uxbal berada di situasi genting yang amat menyakitkan dimana ia benar-benar harus menahan rasa sakit dari penyakitnya, lalu kenyataan bahwa umurnya hanya tinggal beberapa bulan lagi, juga fikiran tentang bagaimana nasib anak-anaknya kelak kalau ia tiada.

Really depressing. Menonton film ini saya merasakan sekujur tubuh saja kaku tidak bisa tenang. Apalagi ditambah sedikit bumbu ‘horror’ yang dimasukkan Iñárritu, lengkap sudah kegelapan dalam film ini. Alur cerita sebetulnya sangat simple namun dibuat sedemikian rupa sehingga mungkin terkesan berputar-putar. Tapi saya lumayan menikmati setiap putaran dalam Biutiful. Salah satu faktor yang membuat saya menikmati adalah kualitas akting luar biasa yang dibawakan oleh Javier Bardem. Tidak salah kalau ia menjadi salah satu kandidat nominasi Oscarterkuat melalui aktingnya dalam film ini. Ekspresi kesakitan, gelisah, putus asa, depresi, sedih, takut, semua terpancar jelas di wajah Bardem. He really done a great job with his brilliant performance. Film ini berjalan lambat di awal dan pertengahan namun saat berjalan menuju akhir sampai ke puncak film, kita disuguhkan sebuah scene penuh emosi yang menyesakkan dada. Bagi sebagian orang mungkin Biutiful akan terasa membosankan sekali, tetapi kalau kita lebih meresapi ceritanya dan membayangkan menjadi karakter Uxbal itu sendiri, damn, this movie is very … human.





+ komentar + 1 komentar

December 8, 2010 at 8:42 PM

Salah satu film akhir tahun yang ingin saya tonton, berharap menemukan secercah cahaya dikegelapan. Nice review btw :)

Terimakasih Budi Cahyono atas Komentarnya di 12th JIFFEST 2010 - REVIEW: BIUTIFUL

Post a Comment