Showing posts with label INDONESIAN. Show all posts
Showing posts with label INDONESIAN. Show all posts

September 17, 2010

REVIEW: SANG PENCERAH




































"Sebuah biopik tentang KH Ahmad Dahlan."

Kalau sedang membicarakan tentang sutradara berkualitas di Indonesia, nama Hanung Bramantyo pasti masuk kedalam obrolan. Sebut saja Catatan Akhir Sekolah (2005), Jomblo (2006), Get Married (2007), Doa yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Get Married 2 (2009), Menembus Impian (2010), dan masih banyak lagi. Kali ini Hanung memilih untuk mengangkat kisah hidup dari KH Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah. Sang Pencerah juga ditayangkan bertepatan dengan momen lebaran tahun ini, sehingga nuansanya terasa sangat pas. Film ini juga memboyong para aktor dan aktris ternama dalam negeri seperti Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Sudjiwo Tejo, Ikranegara, Yati Surachman, Dennis Adiswara, dan Zaskia Mecca. Ada juga dua orang penyanyi yang mencoba peruntungan dalam dunia seni peran yaitu Giring 'Nidji' dan Ikhsan 'Idol'. Perlu diketahui, film ini menghabiskan dana sebesar Rp. 12 Miliar!

Berlatar belakang di Jogja, kisah KH Ahmad Dahlan disini diceritakan sejak ia remaja dan masih memakai nama Muhammad Darwis (Ikhsan 'Idol'). Sejak muda Dahlan sudah memiliki jalan pemikiran yang berbeda dari orang lain. Ia ingin melakukan sebuah perubahan yang signifikan dalam agama Islam pada masa itu yang masih percaya tahayul dan menyembah sesajen. Sampai akhirnya Dahlan muda berkesempatan untuk pergi ke Mekkah untuk berhaji dan mendalami ajaran Islam. Setelah lima tahun berada di Mekkah, ia kembali ke kampung halamannya dan memulai perubahan demi perubahan yang menurutnya benar. Tentu saja perubahan yang dibawa Dahlan (Lukman Sardi) tidak segampang itu diterapkan, para penghulu di Masjid Gede Jogja gusar dibuatnya. Makian demi makian mulai dilontarkan kepada Dahlan, bahkan banyak yang menyebutnya 'kafir'. Namun Dahlan tetap memiliki lima orang murid yang setia dan turut andil dalam upayanya mendirikan organisasi Muhammadiyah.

Kalau tentang sejarah agama Islam dan Muhammadiyah saya sama sekali tidak tahu menahu, jadi apakah film ini sesuai dengan kenyataannya saya kurang bisa memberikan komentar. Namun, meskipun Sang Pencerah merupakan sebuah film biopik yang sarat dengan unsur Islami, sebagai non-Muslim saya masih bisa menikmati. Memang pada awalnya saya kurang tertarik dengan film ini, akan tetapi beberapa teman yang sudah menyaksikan membuat saya penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mencoba menonton. Ternyata filmnya tidak menggurui dan banyak dialog-dialog bagus yang berisi pesan moral didalamnya. Saya juga merasa Hanung secara tidak langsung sepertinya mencoba untuk menyelipkan beberapa adegan yang 'menyindir' keadaan di negara kita saat ini. Good job! Tokoh Ahmad Dahlan yang diperankan oleh Lukman Sardi menurut saya juga sangat cocok sekali. Ada juga dua nama yang tadinya saya pikir akan jadi lelucon malah menunjukkan performa akting yang baik, yaitu Giring 'Nidji' dan Ikhsan 'Idol'. Secara keseluruhan film ini memiliki nilai produksi diatas rata-rata; skrip, tata gambar, dan pemilihan para pemain sangat baik, begitu juga dengan scoring hasil aransemen Tya Subiakto yang menggugah sepanjang film.





September 9, 2010

REVIEW: DARAH GARUDA


























"Film kedua dari Trilogi Merah Putih"

Trilogi Merah Putih adalah sebuah proyek film yang bisa dikatakan ambisius. Bukan hanya dalam hal biaya, segala hal sepertinya diperhitungkan dengan baik, mulai dari deretan pemain, sutradara, sampai kru-kru yang melibatkan beberapa sineas luar negeri yang sudah pernah menangani film Hollywood. Nama Yadi Sugandi yang duduk di bangku sutradara sudah terkenal di kalangan perfilman sebagai salah satu sinematografer kebanggaan Indonesia. Ia sudah pernah menangani beberapa film dalam negeri yang berkualitas seperti sebut saja Kuldesak (1999), Petualangan Sherina (2000), Pasir Berbisik (2001), Eliana, Eliana (2002), 3 Hari untuk Selamanya (2007), The Photograph (2007), Lost in Love (2008), Laskar Pelangi (2008), dan Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Pada tahun 2009, debut pertamanya sebagai sutradara dalam Merah Putih mendapat sambutan yang sangat baik meski filmnya sendiri belum bisa dikatakan sempurna. Namun, saya termasuk menyukai film tersebut. Kali ini film kedua Trilogi tentang perang kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dibantu lagi dengan hadirnya sutradara tambahan, Conor Allyn.

Masih merupakan kelanjutan dari film pertamanya, Merah Putih, film ini berlatar belakang masa Indonesia di tahun 1947 dan bercerita tentang nasib keempat tentara gerilya yang berhasil selamat saat berusaha menyerang tentara Belanda. Mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya), dan Dayan (T. Rifnu Wikana). Mereka nekat menyerang markas Belanda untuk menyelamatkan ketiga wanita yang mereka cintai, Lastri (Atiqah Hasiholan), Senja (Rahayu Saraswati), dan Melati (Astri Nurdin). Tidak tahan dengan perlakuan Belanda yang seenaknya, perjalanan tentu tidak terhenti sampai disitu saja, mereka memutuskan untuk bergabung dengan para tentara Jendral Sudirman dan pada akhirnya diberikan sebuah tugas rahasia guna melawan Jendral Van Mook (Rudy Wowor) yang keji. Banyak halangan yang mereka temui selama perjalanan, bukan hanya dari tentara Belanda namun juga dari para tentara lokal yang tidak terlalu berpihak kepada mereka.

Darah Garuda dimulai dengan tempo cerita yang lambat dan sedikit membosankan menurut saya. Sampai ke pertengahan film saya merasa tidak ada greget pada saat menonton film ini. Bahasa yang dipergunakan juga sangat baku sehingga skrip dan jalan cerita yang baik sangat diperlukan agar penonton tidak dibuat jenuh. Beruntung mulai dari pertengahan sampai akhir, film ini mampu membangun suasana tegang dan penuh aksi. Special effects yang digunakan juga terlihat lebih halus dibandingkan dengan Merah Putih yang notabene sudah bagus sekali untuk ukuran film Indonesia. Akting para pemain terlihat biasa-biasa saja, ada pula pemain-pemain baru yang kali ini turut membantu film ini seperti Ario Bayu, Alex Komang, dan bintang cilik pendatang baru, Aldy Zulfikar. Diantara semuanya, T. Rifnu Wikana menurut saya menunjukkan performa akting yang paling baik. Ada satu adegan yang merupakan favorit saya, yaitu pada saat ia ditahan dan diinterograsi oleh Belanda. Mimik wajah dan emosi yang dipancarkan sungguh meyakinkan. Tidak ada peningkatan signifikan dari film kedua Trilogi Merah Putih ini, segi cerita masih perlu dibenahi. Saya berharap film ketiganya nanti, Hati Merdeka, akan lebih baik. Namun secara keseluruhan, Darah Garuda merupakan sebuah tontonan yang amat sangat jauh lebih baik dari film-film lokal 'asal jadi' yang sering ada di bioskop kita.





May 25, 2010

REVIEW: RATU KOSTmopolitan




































"Cantik.. Jagoan.. Ngekost tetep ngutang!"

Hari ini saya berkesempatan untuk menyaksikan gala premiere film Ratu KOSTmopolitan. Film ini disutradarai oleh Ody C. Harahap yang sudah pernah menyutradarai beberapa film Indonesia seperti Alexandria (2005), Selamanya (2007), Kawin Kontrak (2008), Kawin Kontrak Lagi (2008), dan Punk in Love (2009). Sebelumnya saya belum pernah menyaksikan film besutannya sama sekali. Maka ini adalah film pertamanya yang saya tonton. Saya sebetulnya kurang tertarik dengan film ini, malah saya tidak terlalu 'ngeh' akan adanya film ini. Maklum, saya memang jarang mengikuti perkembangan film Indonesia karena lebih sering dikecewakan. Akhir-akhir ini film Indonesia kebanyakan menjual aurat tubuh dan hantu asal-asalan dibanding kualitas cerita dan akting pemain. Tapi karena gratisan saya pun tidak menolak untuk mencoba menonton film ini. :)

Ratu KOSTmopolitan bercerita tentang tiga anak kost di Jakarta yang masing-masing berasal dari daerah berbeda, ada Gina (Luna Maya), Tari (Tyas Mirasih), dan Zizi (Imey Liem). Gina bekerja sambilan sebagai seorang wartawan, Tari sebagai guru aerobik, lalu Zizi sebagai seniman tattoo. Mereka bertiga banting tulang bekerja di Jakarta. Kehidupan di Jakarta memang keras, untuk membayar uang kost saja mereka sering telat. Untungnya, ibu kost mereka, Ibu Laksmi (Yatti Surachman) adalah ibu kost yang baik. Mereka boleh mengutang, bayar seadanya dulu, bahkan masih disediakan makanan. Mereka bertiga juga punya gebetan bernama Seno (Fathir Mochtar) yang tinggal tidak jauh dari kost. Suatu hari datang segerombolan preman yang diketuai Rido (Reza Pahlevi) yang mengganggu ketenangan daerah tempat kost mereka. Atas perintah bosnya yang kaya, Rido juga mengatakan bahwa warga disana harus menjual rumah mereka atau kalau mereka tidak mau, mereka terpaksa harus digusur paksa. Tiga anak kost ini tidak tinggal diam, mereka lalu membuat rencana konyol melawan para preman tersebut agar tempat yang mereka itu tidak diganggu lagi.

Cerita film ini sebetulnya tidak istimewa dan gampang tertebak, namun beruntung film ini dibintangi oleh para pemain yang 'bisa akting' dan sedap dipandang mata. Para pemeran utama film ini seperti Luna Maya, Tyas Mirasih, Imey Liem, Fathir Mochtar, dan Reza Pahlevi menjalankan perannya dengan sangat baik. Mereka semua jelas bisa berakting. Meskipun Tyas Mirasih lebih sering mengambil peran-peran yang memamerkan keindahan tubuh, akan tetapi aktingnya disini bisa dibilang baik. Imey Liem yang notabene pendatang baru malah berhasil mencuri perhatian dengan tingkah dan tampangnya yang nyeleneh. Luna Maya yang sudah bisa dibilang lebih 'senior' dari yang lainnya juga berhasil kembali bermain baik disini. Para aktor dan aktris senior dalam film ini juga patut diacungi jempol. Sang ibu kost, Yatti Surachman, sangat cocok sekali dengan karakter yang dimainkan. Secara keseluruhan saya lumayan terhibur dengan film ini. Memang ada beberapa bagian yang terkesan 'maksa', tapi itu bisa termaafkan karena saya tertawa menontonnya. Selain itu, film ini juga mengangkat isu sosial yang marak terjadi di Indonesia, disertai keanekaragaman suku yang berhasil diangkat kedalam film. Kalau pengen nonton yang ringan bisa coba tonton film ini.

January 15, 2010

REVIEW: HARI UNTUK AMANDA




















"Cerita tentang pilihan dan kepastian hati"

Sebuah film manis yang sangat sempurna untuk menjadi salah satu pembuka perfilman Indonesia di awal tahun 2010. Cerita yang simple dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, namun dibalut dengan sangat indah dan menyentuh. Amanda (Fanny Fabriana) sebentar lagi akan menikah dengan Doddy (Reza Rahardian), seorang pria yang mempunyai pekerjaan mapan sebagai seorang junior brand manager di sebuah perusahaan advertising. Sepuluh hari menjelang pernikahannya, Doddy masih berkutat dengan pekerjaannya yang super sibuk, sedangkan Amanda menginginkan agar pernikahannya berjalan sempurna. Di tengah kebimbangan itu, Hari (Oka Antara), mantan pacar Amanda muncul kembali dalam kehidupannya. Kenangan indah bersama Hari selama delapan tahun lalu mereka berpacaran mendadak datang satu persatu mengusik perasaan Amanda. Hari lalu berusaha mati-matian agar Amanda tidak menikah dengan orang lain, karena ia masih sangat mencintai Amanda dan ia pun meyakini sebaliknya. Film ini menceritakan tentang kegundahan hati seorang Amanda dalam memilih pasangan hidup yang terbaik untuk dirinya. Akting Oka Antara dalam film ini patut diacungi dua jempol. Dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan, Oka mampu membuat para penonton ikut terharu menyaksikan aktingnya. Fanny Fabriana yang termasuk pendatang baru dalam dunia layar lebar cukup menunjukkan performa akting yang lumayan. Reza Rahardian yang selalu bermain baik dalam setiap filmnya, kali ini hanya kebagian porsi sedikit, namun tetap dengan kualitas akting yang memukau. Beberapa bagian di film ini berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Entah kenapa 'feel'nya sangat terasa. Padahal hanya dengan jalan cerita yang simple, film ini mampu menempatkan kelasnya sendiri dalam genre drama di Indonesia. Tidak picisan seperti drama lainnya. Didukung dengan kualitas akting para pemainnya dan soundtrack yang pas, Hari Untuk Amanda pastinya akan sangat sayang untuk dilewatkan.



January 12, 2010

JAGOAN MOVIES EXCLUSIVE INTERVIEW: ARIFIN PUTRA (RUMAH DARA - 2010)
















Beruntung sekali Jagoan Movies berkesempatan untuk wawancara langsung dengan Arifin Putra via Facebook, sehubungan dengan film layar lebar terbarunya RUMAH DARA. Berikut hasil wawancara singkat tersebut:

Jagoan Movies (JM): Hai Arifin, sekarang kamu lagi sibuk apa aja nih?
Arifin Putra (AP): Sekarang aku lagi sibuk promo film RUMAH DARA dan sedang mulai shooting tuk sinetron baru.(belum bisa kasih info lebih banyak. hehehe)

JM: Bisa ceritain ga gimana awalnya kamu bisa dapat peran sebagai Adam di film Rumah Dara?
AP: Awalnya aku dihubungin oleh Casting Director mereka bernama Stanley. Dia rekomendasiin aku karna kita dulu pernah ikut sekolah akting yang sama (Sakti Aktor Studio). Trus aku dateng ke kantor Mo Brothers untuk casting dan mereka pas awalnya agak skeptis gitu ngeliat aku, karna mereka ga yakin aku bisa mainin karakternya sesuai dengan harapan mereka. Tapi begitu selesai casting mereka langsung tertarik dan akhirnya shooting deh. Hehehe..

JM: Menurut Jagoan Movies, akting kamu di Rumah Dara sangat total. Gimana cara kamu bisa menjiwai peran sebagai pembunuh berdarah dingin seperti Adam? Padahal khan sebelumnya kamu tidak pernah memainkan peran seperti itu.
AP: Makasi ya! Ok... Itu persiapannya cukup panjang.. Proses tuk menjiwai karakter Adam itu memakan waktu 2-3 bulan. Aku banyak melakukan riset di internet tentang berbagai macam pembunuh berantai di seluruh dunia untuk bisa mengerti isi kepala mereka, sampe mereka bisa bunuh orang tanpa rasa bersalah sama sekali. Selain itu di lokasi aku juga mengisolasi diri dan tidak ngomong dengan siapa pun juga. bener-bener berada dalam duniaku sendiri. Hehehehe..

JM: Apa kendala yang paling sulit untuk kamu saat menjalani syuting Rumah Dara?
AP: Kendala paling sulit mempertahankan intesitas karakter aku. Karakter Adam sangat intense dan memerlukan konsentrasi penuh tuk tetap berada dalam karakter. VJ Daniel suka banget bercanda di lokasi shooting jadi kadang-kadang konsentrasi buyar dan keluar masuk karakter. Akhirnya aku menyendiri dan menghindari orang-orang yang suka bercanda di lokasi tuk bisa tetep dalam karakter.

JM: Harapan kamu untuk film Rumah Dara yang tanggal 22 Januari 2010 akan tayang apa?
AP: Aku berharap film ini bisa memacu sineas indonesia untuk menciptakan film yang lebih bermutu secara kualitas dan juga cerita. Kita semua membuat film ini sepenuh hati dan terlihat dari hasilnya yang diakui oleh pengamat film luar negeri. Saat ini banyak bermunculan film indonesia yang kurang memerhatikan kualitas dan hanya mengutamakan pemasukan. Harusnya bisa lebih seimbang antara film-film yang berkualitas sekaligus menghibur dan film yang purely hanya mencari untung dari pasar. Selain itu aku berharap bahwa film ini bisa menjadi bench mark untuk film-film slasher berikutnya dan akan memulai trend baru pasar penikmat slasher indonesia. Intinya si memberikan warna baru pada perfilman Indonesia yang selama ini lebih banyak diserbu oleh film komedi, drama, horror mistis dan religi.

Siapa sih yang tidak kenal dengan aktor tampan satu ini? Wajahnya memang sudah sering wara-wiri di pertelevisian Indonesia. Arifin Putra lahir pada tanggal 1 Mei 1987. Pria berdarah Jerman ini memang mengawali karir di beberapa sinetron seperti Kisah Kasih di Sekolah, Senandung Masa Puber, Mawar, dll. Ia juga pernah menjadi finalis MTV Vj Hunt tahun 2003 bersama Daniel Mananta. Pada awal tahun 2008 ia juga mendapat kesempatan untuk bermain dalam proyek layar lebar pertamanya yaitu, Lost in Love bersama dengan aktris pendatang baru Pevita Pearce dan Richard Kevin. Sebentar lagi kita semua bisa menikmati film layar lebar terbarunya, RUMAH DARA. Sebuah film yang saya yakin akan mampu membawa nama Arifin Putra menjadi salah satu aktor paling bersinar di tahun ini.

Wajib tonton yaa film RUMAH DARA yang akan tayang tanggal 22 Januari 2010! Akting Arifin Putra disitu bagus banget, sangat menjiwai. Jarang-jarang khan melihat Arifin Putra yang biasanya kalem malah jadi pembunuh berdarah dingin kali ini. Penasaran? Nonton! :)




January 4, 2010

December 26, 2009

REVIEW : SANG PEMIMPI








































"Yang penting dari mimpi, bukanlah seberapa besar mimpi itu, tapi sebesar apa kita untuk mimpi itu."

Sang Pemimpi adalah sekuel dari Laskar Pelangi yang sangat sukses dan terkenal tahun 2008 kemarin. Kembali diangkat dari novel tetralogi Laskar Pelangi kedua, Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata. Kalau di Laskar Pelangi kita diceritakan tentang masa kecil para anak-anak dari Belitung, kali ini Sang Pemimpi mengangkat masa remaja anak-anak tersebut yang telah beranjak dewasa. Berfokus pada pertemuan Ikal (Vikri Setiawan) dengan Arai (Ahmad Syaifullah) yang baru ditinggal mati kedua orang tuanya. Arai merupakan sepupu jauh Ikal, dikarenakan tidak ada yang mengurus, Arai lalu tinggal bersama Ikal dan keluarga. Disini diceritakan bahwa Arai adalah orang yang selalu mengajak Ikal untuk memiliki mimpi-mimpi, salah satunya adalah mimpi untuk mendapatkan beasiswa di Paris dan berkeliling Eropa. Selain Ikal dan Arai, mereka juga bersahabat dengan Jimbron (Azwir Fitrianto) yang juga adalah anak yatim piatu, seorang anak beragama islam yang soleh, namun diurus oleh salah seorang teman keluarganya yang adalah seorang pastur Katolik. Kita diajak ikut menikmati keseruan masa remaja mereka bertiga. Karakter ketiga tokoh diatas juga digambarkan dengan jelas dalam film, seperti misalnya Ikal yang lebih pendiam, namun pintar dan sangat sayang pada ayahnya. Arai, sang pemimpi yang nakal, namun selalu mempunyai daya kreatifitas yang lebih dan jatuh cinta pada teman sekelasnya, Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda). Jimbron, anak yang gagap sepeninggal orang tuanya, sangat menyukai dan terobsesi dengan kuda. Sesuai dengan judulnya, Sang Pemimpi menceritakan hal-hal positif tentang bagaiman caranya meraih mimpi-mimpi kita. Jangan hanya bermimpi yang setinggi langit, kita juga harus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi tersebut. Saya belum membaca semua novel Andrea Hirata, jadi penilaian saya terhadap film ini dan Laskar Pelangi murni dari pandangan penonton yang sama sekali belum membaca novelnya. Menurut saya filmnya baik, namun saya tetap lebih suka dengan Laskar Pelangi. Durasi yang terlalu panjang dan banyaknya adegan yang tidak terlalu penting mungkin yang menjadi faktor kenapa film ini sedikit membosankan di pertengahan. Namun beruntung, film ini digarap oleh sutradara handal, Riri Riza, lalu akting para pemain yang luar biasa, mulai dari pemain-pemain baru remaja maupun senior seperti Mathias Muchus dan Rieke Diah Pitaloka. Kalau di Laskar Pelangi ada Cut Mini dengan karakter guru yang sangat mencuri perhatian, di Sang Pemimpi ada Nugie yang juga menjadi seorang guru bernama Pak Balia. Nugie ternyata bermain sangat baik disini. Lukman Sardi dan Ariel 'Peterpan' juga bermain di film ini sebentar, menceritakan sedikit tentang Ikal dan Arai dewasa. Siap-siap saja melihat akting mereka berdua di sekuel selanjutnya. Menurut saya Ariel bermain cukup baik untuk ukuran pemula, hanya saja wajahnya terlihat kurang meyakinkan sebagai orang 'susah'. Lukman Sardi sih cocok sekali, aktingnya pun tidak perlu diragukan lagi. Kita tunggu saja sambungannya! :)





December 2, 2009

REVIEW: HEART-BREAK.COM




































"Patah hati anda: bisnis kita!"

Heart-break.com beneran ada situsnya lho guys! Coba aja buka kalau ga percaya, kamu juga bisa curhat tentang masalah patah hati kamu disitu. Seru yaa.. Filmnya yang pasti juga seputar masalah patah hati dan segala solusinya dong! Pasti kamu kira film ini tuh drama yang sedih atau merana seputar kasus patah hati, eitss..kamu salah. Filmnya sumpah gokil banget, dari awal sampai akhir saya ga bisa berhenti tertawa melihat tingkah si duo gokil Ramon Y. Tungka dan Ananda Omesh. Yup, ternyata filmnya itu lucuuuu abis! Ceritanya Agus Supriatna (Ramon Y. Tungka) sudah berpacaran selama 3 tahun dengan Nayla (Raihaanun). Namun suatu hari Nayla harus melanjutkan sekolah di Melbourne. Sedih lah si Agus ditinggal sang kekasih hati. Akhirnya setelah penantian panjang, Nayla pulang juga. Agus senang bisa ketemu Nayla lagi, soalnya Agus sayang banget sama Nayla. Ternyata waktu Agus sampai rumah Nayla, Nayla udah punya pacar baru yang namanya Kevin (Gary Iskak). Agus patah hati! Untung ada Wawan (Ananda Omesh) dan pacarnya Raya (Richa Novisha) yang setia menemani Agus. Tanpa disengaja, Agus ketemu website heart-break.com yang katanya sih jagonya masalah patah hati. Akhirnya Agus memutuskan untuk memakai jasa heart-break.com biarpun biayanya selangit, tapi yang penting jaminan Nayla bisa kembali pacaran sama Agus dijamin 99% oleh Mba Elza (Sofie Navita), penemu website tersebut. Lalu, dimulailah hari-hari Agus dengan tim heart-break.com guna mendapatkan cinta Nayla kembali. Berhasilkah Agus? Silahkan tonton sendiri guys.. Menurut saya filmnya bagus, menghibur sekali. Berhasil membuat saya tertawa, bahkan ngakak. Akting Omesh dan Ramon hebat! Raihaanun dan Richa Novisha juga ga kalah hebat. Kehadiran Imelda Therine sebagai cewek penggoda juga pas banget. Lalu ada juga Lukman Sardi yang berhasil (banget) mencuri perhatian walaupun hanya muncul sebentar. Hanya saja akting Gary Iskak menurut saya kurang maksimal, pas ngomong bahasa inggris rada kurang pas aja gitu. Casts sisanya hmm..oke lah. Hehe.. Sebetulnya filmnya sendiri tipikal seperti film-film ftv gitu, ketebak banget jalan ceritanya. Tapi, overall bagus sih menurut saya. Istilahnya, paket lengkap deh! Pemasaran oke, ide mantap, cerita asik, jajaran pemainnya hebat, lucunya juga 'dapet' banget! Two tumbs up buat film Heart-Break.com! :)

November 15, 2009

REVIEW: RUMAH DARA (MACABRE)






































Setelah menanti cukup lama, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menonton film Rumah Dara karya The Mo Brothers di Opening INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival) 2009 kemarin. Dan ternyata penantian saya selama ini tidak sia-sia karena Rumah Dara was f*ckin AWESOME! Bercerita tentang enam anak muda yang tiba-tiba ditengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang mengaku habis dirampok, lalu mereka berbaik hati untuk mengantarkan wanita tersebut pulang. Namun siapa sangka kalau wanita tersebut akhirnya malah membawa hidup mereka semua kedalam jurang maut yang mencekam. Pembunuhan sadis pun mulai mendera mereka satu persatu. Mengusung genre slasher (semacam Saw, Hostel, dll) yang notabene masih asing dan sangat jarang digarap oleh sineas perfilman Indonesia, Rumah Dara hadir membawa angin segar. Selain menarik minat penonton tanah air, film ini juga sangat menarik minat dunia internasional lho! Akting para pemain disini patut diacungi dua jempol. Julie Estelle seperti biasa tampil begitu meyakinkan. Shareefa Daanish membawakan peran dengan penuh totalitas, wajar saja kalau gelar Best Actress di PiFan berhasil dikantonginya. Tidak kalau memukau, Arifin Putra kali ini membuat semua penonton terpana dengan aktingnya yang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Ini bisa dikatakan penampilan terbaiknya selama ini. Sigi Wimala pun bermain sangat baik. Ario Bayu dengan kharisma khasnya. Lalu, debut layar lebar VJ Daniel juga tidak bisa dikatakan jelek, langkah awal yang baik. Imela Therinne top banget, karakter psycho-nya dapet! Tidak ketinggalan nama-nama lain seperti Dendy Subangil, Mike Muliadro, Ruly Lubis, Aming, dll, yang semuanya bermain baik. Timo dan Kimo a.k.a The Mo Brothers selaku sutradara menurut saya telah berhasil membawa horror di Indonesia ke tingkat yang lebih baik dari sebelumnya. Belum sempurna memang, tapi menurut saya ini adalah horror terbaik yang dimiliki Indonesia so far. Saya juga merasa beruntung sekali karena kemarin mendapat kesempatan menonton versi uncut-nya yang dimana belum sensor sana sini. Juga sengaja tidak saya bocorkan jalan cerita film dan spoilers disini, kasihan yang belum nonton nanti jadi tidak seru lagi khan! Apalagi tayangnya juga masih lumayan lama. Rumah Dara akan rilis di seluruh Indonesia tanggal 22 Januari 2010, wajib tonton yaa! Dukung terus perfilman Indonesia guys, jangan hanya Hollywood dong! Sukses buat The Mo Brothers, semoga film-film berikutnya semakin berkualitas dan tetap 'ENAAAK KANNNNN?'





August 27, 2009

REVIEW: cin(T)a






































"Why do You create us differently if You only want to be worshipped in one way?"

Akhirnya tadi saya berhasil memuaskan rasa penasaran terhadap film cin(T)a. Sejak pertama kali melihat trailernya saya sudah amat -sangat- tertarik dengan film ini. Sinopsis pun sudah pernah dibahas di blog ini beberapa waktu lalu. Ceritanya tentang Cina (Sunny Soon), seorang mahasiswa baru di perguruan arsitektur yang berusia 18 tahun, Batak keturunan Chinese dan beragama Kristen, pintar dan apa adanya. Annisa (Saira Jihan), mahasiswi tingkat akhir yang kuliahnya terhambat karena karirnya di dunia film, seorang Jawa pemeluk agama Islam yang juga taat dan kental. Popularitas dan kecantikan membuatnya kesepian, sehingga ia bersahabat dengan jarinya sendiri yang digambari bermuka sedih. Sampai suatu hari datang ‘jari’ lain yang menemani. Inti dan tema film ini sebenarnya sangat bagus dan jarang diangkat, yaitu 'menyentil' tentang masalah agama dengan dibalut percintaan. Yang lebih diangkat dalam film ini adalah masalah perbedaan dan bagaimana kita dapat menerima perbedaan itu. Overall, saya suka dengan film ini tapi entah kenapa ada kekecewaan. Mungkin karena saya terlalu berharap lebih terhadap film ini sejak awal jatuh cinta pada trailernya. Filmnya sendiri tidak seistimewa trailer, bagian-bagian yang menarik dan 'wahh' sudah dipertontonkan semua di trailer, sisanya biasa saja. Memang potongan adegan di trailer cin(T)a diakui banyak orang sangat menarik. Yang paling mengganggu adalah sound mixingnya berantakan sekali, banyak score yang terlalu keras sehingga malah dialog tidak terdengar. Tadi saya lebih banyak membaca subtitle bahasa inggrisnya ketimbang mendengarkan dialog, karena di beberapa bagian benar-benar sampai tidak terdengar sama sekali. Tadi saya nonton di Blitzmegaplex Mall of Indonesia, suara musik film ini pecah sekali, sampai membuat sakit telinga (sebelah saya pun komplain tentang hal yang sama). Saya tidak tahu masalah suara pecah ini memang dari filmnya sendiri atau dari bioskop tempat saya menonton tadi. Beberapa adegan pun menurut saya agak aneh, karena terlalu theatrikal. Ending film juga tidak memuaskan. Durasi juga terlalu pendek. Dan lagi, saya terganggu dengan penampilan Saira Jihan yang terkesan 'sok kalem', sepanjang film cara berbicaranya seperti berbisik. Aneh! Namun sebaliknya, akting Sunny Soon malah terbilang lumayan untuk ukuran pendatang baru. Well, biar bagaimanapun film ini berhak mendapatkan nilai tersendiri karena berani mengangkat tema yang 'berani'. Dialog-dialog pintar di film ini pun sangat menyelamatkan keseluruhan film. Sekarang terserah anda mau memutuskan untuk nonton atau tidak. :)