Showing posts with label CRIME. Show all posts
Showing posts with label CRIME. Show all posts

July 12, 2013

REVIEW: THE HEAT

Agent Sarah Ashburn: They're spandex, they just hold everything together.
Det. Shannon Mullins: Why? What's going to come popping out?

I really had fun watching The Heat! Siapa sangka kalau film ini bisa membuat seisi bioskop terhibur dan tertawa hampir di sepanjang film. Tema yang diangkat The Heat memang bukanlah sebuah tema yang baru, sudah banyak film dengan tema serupa, seperti sebut saja 21 Jump Street (2012); meski dengan gender yang berbeda. Bridemaids (2011) karya sutradara Paul Feig juga merupakan tontonan yang sangat menghibur, jadi tidak heran kalau kali ini Paul kembali memperlihatkan kepiawaiannya membuat film komedi lainnya. Terus terang saya malah lebih menyukai The Heat dibandingkan Bridesmaids, ada beberapa lelucon di Bridesmaids yang menurut saya sedikit berlebihan. The Heat memiliki komposisi keseluruhan yang pas.

Sarah Ashburn (Sandra Bullock) merupakan seorang agen FBI yang cemerlang. Ia memiliki insting yang kuat dan sudah banyak kasus-kasus yang dipecahkannya dengan mudah. Namun karena sikapnya yang arogan, ia tidak disukai oleh teman-temannya. Ketika ada kesempatan untuk kenaikan jabatan di kantor, ia langsung bersedia ketika disuruh sang atasan untuk menangani sebuah kasus yang berkaitan dengan pengedaran narkoba di Boston. Disana ia terpaksa harus bekerja sama dengan seorang detektif lokal bernama Shannon Mullins (Melissa McCarthy). Mullins bisa dibilang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Ashburn, ia jauh lebih 'gangster style', but still, she's great in what she's doing. Kedua karakter ini mau tidak mau bersatu guna memecahkan kasus tersebut, namun permusuhan yang terjadi diawal bisa saja berujung dengan persahabatan.

Chemistry, chemistry, chemistry! It's all about chemistry! Ini merupakan hal penting dalam The Heat, karena kalau antara Bullock dan McCarthy tidak tercipta jalinan chemistry yang sedemikian rupa, pastilah hasilnya akan berbeda. Sandra Bullock kembali membuktikan kalau jalur ini memang jalur yang sangat dinikmatinya, she ruled it! Melissa McCarthy juga untungnya tidak berlebihan disini, tadinya saya sedikit takut kalau ia akan terlalu over, alias 'maksa'. Namun ternyata dengan dipasangkannya kedua aktris ini, The Heat menjadi sebuah tontonan guilty pleasure yang sangat menghibur! Script yang ada juga patut dipuji, banyak jokes segar yang dihadirkan didalam film ini. Jadi meskipun tema dan jalan cerita biasa saja, jokes dan akting para pemainnya tidak akan membuat penonton kecewa. Lagi pula, ini film komedi, tidak perlu jalan cerita ribet yang membuat penonton pusing, just watch it and you'll be entertained.






March 30, 2012

REVIEW: SAFE HOUSE


































"Remember rule number one: you are responsible for your house guest. I'm your house guest."

Denzel Washington dan Ryan Reynolds dalam satu frame? Sudah pasti saya tonton! Safe House menurut saya adalah sebuah film yang sangat entertaining. Meskipun mungkin dalam segi plot cerita masih ada miss disana-sini, namun tetap saja saya terhibur dengan apa yang saya tonton. Cast dalam film ini terasa sangat pas sekali, keduanya Denzel dan Ryan menyuguhkan performa akting yang meyakinkan. Pacuan adrenalin non-stop dalam Safe House berhasil membuat saya ikut tegang. Memang kalau mau jujur memang sudah tertebak juga kira-kira film ini akan berakhir seperti apa, tapi 'perjalanan' menuju ending disajikan dengan baik sehingga saya pun tidak merasa bosan.

Ryan Reynolds berperan sebagai Matt Weston, seorang agen CIA muda yang bekerja di sebuah rumah aman rahasia milik CIA di Cape Town, Afrika Selatan. Pekerjaan tersebut sangatlah membosankan karena jarang sekali ada 'tamu' yang berkunjung kesana. Weston menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memeriksa dan mengecek kembali perlengkapan lokasi tersebut (makanan, air, kamera, suplai darah, dll), atau yang paling sering...memantulkan bola karet ke dinding. Ia sangat berharap kalau bosnya, David Barlow (Brendan Gleeson), mau mengabulkan permintaannya untuk pindah area ke Paris atau dimanapun selain di Afrika. Paris akan sempurna karena pacarnya berasal dari sana.

Malam Weston yang membosankan tiba-tiba berubah drastis karena kehadiran seorang penjahat kelas kakap, Tobin Frost (Denzel Washington) yang tertangkap di Cape Town dan akhirnya dibawa ke rumah rahasia tersebut untuk di interogasi. Pada saat interogasi tersebut berlangsung, tiba-tiba tempat itu diserang oleh gerombolan pria bersenjata. Ternyata bukan hanya CIA saja yang mengejar Frost. Situasi menegangkan tersebut menjebak Weston untuk berada pada pilihan sulit, kabur dan menjaga Frost tetapi mengancam keamanan dirinya sendiri atau kabur dan tetap hidup.

Action scenes yang disajikan dalam Safe House sangat menarik dan menghibur, mulai dari tembak menembak sampai kejar-kejaran mobil di jalanan yang menegangkan. Poin paling penting adalah akting Ryan Reynolds yang luar biasa bagus dalam film ini. He is a really great actor! Jadi ingat waktu dia di Buried (2010). Hehe.. Lalu film ini juga didukung dengan akting matang dari Denzel Washington. Pas sekali! Safe House menurut saya termasuk sebuah film yang patut untuk ditonton, meskipun tidak terlalu spesial sekali tapi tetap saja anda tidak akan rugi menyaksikan film aksi ini. Go check it out! :)





REVIEW: MAN ON A LEDGE


































"Today is the day when everything changes."

Man on a Ledge bisa dibilang mengangkat tema yang tidak terlalu orisinil. Seorang pria yang berdiri diujung gedung tinggi, mengancam akan melompat dan bunuh diri guna berusaha mengungkap kebenaran. Mungkin semua juga bisa menebak akhir dari film ini. Sebetulnya plot cerita seperti ini memang selalu berhasil memacu adrenalin penonton untuk ikut seru melihat sang pemeran utama mempertaruhkan nyawa sambil menunggu detik-detik kebenaran terungkap. Contoh, Phone Booth (2002) yang juga mengangkat tema cerita yang kurang lebih hampir sama. Stu Shepard (Collin Farrell) yang tidak bisa meninggalkan kotak telepon umum karena ancaman-ancaman yang diterimanya dan ia harus memutar otak untuk terbebas dari situasi tersebut. Phone Booth merupakan sebuah film dengan tema sederhana namun didukung dengan script yang luar biasa dan akting para pemainnya yang total. Lain halnya dengan Man on a Ledge yang menurut saya sangat miscast dan kurang sekali dari segi script. Scene-scene yang harusnya menegangkan pun terasa biasa-biasa saja. Sampai akhir film sepertinya klimaks yang harusnya ada pun terasa sangat kurang.

Nick Cassidy (Sam Worthington) adalah seorang mantan polisi berstatus narapidana yang sedang menjalankan sebuah misi. Misi tersebut mengharuskannya untuk berada di garis pinggir Hotel Roosevelt di Manhattan. Dengan melakukan misi ini ia berharap dapat membuktikan kalau tuduhan yang diberikan kepadanya itu tidak benar, ia ingin membuktikan kepada dunia kalau dirinya tidak bersalah. Semua ini berhubungan dengan David Englanger (Ed Harris), seorang pebisnis yang sukses. Ia menuduh Nick mencuri sebongkah berlian miliknya. Nick yang tidak terima dirinya dipenjara atas kesalahan yang tidak pernah dibuatnya pun akhirnya merancang sebuah misi dimana ia dipaksa untuk berada di situasi mengancam. Dibantu adiknya, Joey Cassidy (Jamie Bell) dan pacar sang adik, Angie (Genesis Rodriguez), akhirnya misi tersebut pun dijalankan. Seorang polisi bernama Lydia Mercer (Elizabeth Banks) yang percaya dengan instingnya bahwa Nick tidak bersalah juga membantu mengeluarkan Nick dari situasi tegang itu.

Titik lemah dari film ini adalah ceritanya. Plot cerita yang lemah itu sayangnya tidak dibantu dengan akting yang baik dari para pemainnya. Bahkan, seperti yang sudah saya sebut diatas, miscast. Entah kenapa hampir semua karakter yang diperankan oleh aktor dan aktris yang terpilih dalam film ini terasa kurang pas. Sam Worthington menurut saya pribadi sangat tidak cocok memerankan karakter Nick Cassidy. Elizabeth Banks apalagi, lumayan mengganggu juga melihat aktingnya sebagai karakter Lydia Mercer, tidak meyakinkan. Belum lagi Genesis Rodriguez yang sepanjang film terasa over-acting sekali. Akan tetapi mungkin para pria tentu saja akan terhibur dengan kehadiran Rodriguez yang latina cantik itu. Overall, Man on a Ledge bukanlah sebuah film yang sangat buruk, akan tetapi saya bisa memastikan kalau film ini tidak akan memorable. Maklum, mungkin juga karena ini merupakan film perdana dari sutradara Asger Leth. Saya pribadi ketika menonton film ini rasanya geregetan sekali, ingin rasanya mendorong Nick untuk buru-buru lompat saja kebawah gedung, the end. Haha..





August 19, 2011

REVIEW: FAST FIVE




































"You only live once, lets do this!"

Perlu diakui kalau franchise film ini memang selalu menarik untuk dijadikan tontonan hiburan. Para lelaki terhibur dengan mobil-mobil keren dan para wanita cantik nan sexy yang selalu hadir disini. Lalu wanita juga tentunya terhibur dengan para pria macho yang hobi ngebut. Belum lagi ditambah soundtrack yang selalu bersemangat dan asik untuk didengar. Saya pribadi paling suka dengan film pertama yakni The Fast and The Furious (2001). Waktu itu yang ada dalam benak saya, 'Filmnya keren banget!'. Selanjutnya 2 Fast 2 Furious, ohh well..tidak ada Vin Diesel dalam jajaran cast, tentu saja penonton kecewa, filmnya sendiri pun menurut saya memang mengecewakan. Berlanjut lagi dengan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) yang memangkas semua para pemain lama, digantikan dengan pemain baru. Kali ini menurut saya lumayan saja, namun kehadiran sosok Han yang diperankan oleh aktor Korea; Sung Kang, cukup mencuri perhatian. Terakhir Fast & Furious (2009) boleh ditonton, jauh lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Namun, siapa sangka kalau Fast Five kali ini merupakan yang terbaik dari semua yang ada, at least ini menurut pendapat saya.

Fast Five bercerita tentang Brian O'Connor (Paul Walker) dan pacarnya yang juga adik Dom, Mia (Jordana Brewster) sedang berada di Rio de Janiero, Brazil, untuk bertemu dengan teman lama mereka, Vince (Matt Schulze). Disana juga akhirnya mereka bertemu lagi dengan Dominic Toretto (Vin Diesel) yang baru melarikan diri dan berstatus buronan. Mereka bertiga akhirnya setuju dengan tugas baru yang diberikan oleh Vince, yakni membantu mafia no.1 di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida). Namun ada sesuatu yang janggal dalam misi itu, sampai akhirnya Dom memutuskan untuk melakukan misi 'bunuh diri' yang apabila berhasil dapat merubah hidup mereka semua. Untuk merealisasikan misi ini mereka tidak bisa hanya bertiga saja, mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama untuk membantu dan nantinya hasil yang didapatkan akan dibagi rata. Tentu saja jumlah yang mereka incar sangat amat besar, namun itu juga dibarengi dengan konsekuensi yang luar biasa besar pula. Apalagi Dom dan kawan-kawan sedang dicari FBI yang mengutus orang terbaik mereka, Luke Hobbs (Dwayne Johnson).

Apa sebenarnya alasan saya berani mengatakan kalau Fast Five adalah film terbaik dari keseluruhan franchise ini? Senang sekali rasanya melihat para pemain yang berkesan muncul dan reuni bersama dalam film ini. Jalan cerita yang ditawarkan kali ini memang bisa dibilang tidak istimewa, namun selipan humor yang ada sangat menghibur! Kehadiran 'The Rock' dalam film ini juga membuat keseluruhan isi film semakin meriah. Fast Five hadir pure sebagai entertainment movie, tidak perlu berfikir pada saat menonton, nikmati saja aliran adegan aksi yang ada. Banyak dialog yang membuat penonton tertawa, ini juga semakin menambah nilai plus. Mungkin ada beberapa orang, terutama para pria pecinta otomotif yang kecewa karena dalam Fast Five kali ini tidak menyajikan mobil-mobil super keren seperti sebelumnya. Namun bagi orang yang memang tidak terlalu mempermasalah itu, Fast Five benar-benar sebuah tontonan yang memuaskan apalagi jika disaksikan dalam layar lebar. Jadi tidak sabar menunggu sekuel selanjutnya, kabarnya Eva Mendes akan kembali bergabung, begitu juga dengan karakter Letty yang diperankan oleh Michelle Rodriguez yang sepertinya akan diceritakan ternyata belum atau tidak jadi mati. Well, we'll see..





February 13, 2011

REVIEW: THE GREEN HORNET



































Kato: I was born in Shanghai. You know Shanghai?
Britt Reid: Yeah, I love Japan.

Setelah beberapa kali penundaan dan masalah pada saat produksi akhirnya The Green Hornet dirilis juga awal 2011 ini. Green Hornet sendiri adalah karakter superhero klasik yang terkenal pada tahun 1960-an mulai dari radio hingga diangkat ke serial televisi, kala itu karakter sidekick Green Hornet diperankan oleh icon martial-arts Bruce Lee. Kali ini sang sutradara, Michel Gondry, paling dikenal lewat filmnya Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), ada juga film-film lainnya seperti Be Kind Rewind (2008) dan Tokyo! (2008). Kali ini Seth Rogen yang juga menjadi co-writer film ini bersama Evan Goldberg, berperan menjadi sang superhero Green Hornet. Penyanyi kawakan asal Taiwan, Jay Chou menggantikan posisi Bruce Lee memerankan tokoh Kato.

Britt Reid (Seth Rogen) adalah anak tunggal dari James Reid (Tom Wilkinson), pemilik surat kabar lokal 'The Daily Sentinel'. Britt tumbuh menjadi seorang playboy yang memiliki gaya hidup mewah serta gemar pesta pora, hal ini disebabkan oleh renggangnya hubungan dengan sang ayah. Ketika tiba-tiba ayahnya meninggal dunia, mau tidak mau Britt harus mewarisi 'kerajaan' surat kabar milik ayahnya tersebut. Tidak sengaja ia bertemu dengan Kato (Jay Chou) yang ternyata adalah montir ayahnya dan juga orang yang selama ini membuatkan kopi nikmat untuknya setiap pagi. Britt sangat terkesan dengan kemampuan Kato dengan mesin, ia mampu membuat mesin pembuat kopi canggih, mobil dengan senjata, dll. Tidak disangka, Kato juga mahir bela diri, ia juga memiliki suatu kelebihan dimana ia bisa melihat segala sesuatu dengan perlahan. Britt lalu menemukan sebuah ide gila yaitu menjadi superhero, Kato pun menyutujui dan akhirnya mereka sepakat menjadi 'The Green Hornet'. Ternyata kehadiran pahlawan misterius ini membuat gusar ketua gangster Chudnofsky (Christoph Waltz) dan memerintahkan semua bawahannya untuk membunuh 'The Green Hornet'.

Saya benar-benar tidak berekspektasi apapun ketika menyaksikan film ini, malahan saya mengira kalau filmnya akan mengecewakan. Tapi ternyata tidak seburuk yang saya kira, film ini lumayan menghibur meskipun ada beberapa yang sedikit mengesalkan juga. Karakter Seth Rogen disini lumayan annoying kalau menurut saya, hehe.. Lalu akting Jay Chou masih terlihat sedikit kaku meskipun aksi bela diri yang ditampilkan sudah luwes dan sangat baik. Mungkin hal ini turut dipengaruhi oleh bahasa Inggris Jay Chou yang masih belum terlalu lancar. Tapi secara keseluruhan menurut saya Jay Chou cocok dengan peran Kato. Chemistry antara Seth Rogen dan Jay Chou untungnya terjalin dengan baik, karena film ini sangat mengutamakan hubungan pertemanan yang kuat antara Britt dan Kato. Saya suka dengan kehadiran Christoph Waltz disini, menghibur! Cameron Diaz sayangnya kurang pas bermain disini, entahlah menurut saya mungkin sudah terlalu berumur jika dibandingkan dengan Rogen dan Chou. But I like her anyway! Intinya ini bukan film action, tapi film komedi. Lumayan lah untuk hiburan awal tahun. Jangan lewatkan penampilan konyol sekilas dari James Franco di awal film yaa! Saran: lebih baik nonton versi 2D, katanya 3D-nya kurang 'maknyusss'.. :)





REVIEW: THE MECHANIC



































"Someone has to fix the problems."

The Mechanic yang disutradarai oleh Simon West (Tomb Raider, Con Air) adalah sebuah remake dari film berjudul sama pada tahun 1972 yang diperankan oleh Charles Bronson dan Jan-Michael Vincent. Disini Jason Statham dipasangkan dengan aktor muda Ben Foster dalam film action bertempo cepat dan tak kunjung henti memacu jantung para penonton dengan adegan demi adegan seru sekaligus brutal didalamnya. Saya belum menonton versi originalnya, tapi terus terang saya sangat menikmati film ini. Meskipun saya juga bukan penggemar Jason Statham, namun harus saya akui kalau kharisma Statham sebagai aktor film laga memang luar biasa, sepertinya untuk masa sekarang ini belum ada yang menyaingi kharismanya. Wajah sangar, badan tegap, suara berat, kepala plontos, kriteria 'preman' apalagi yang kurang dari seorang Statham?

Jason Statham berperan sebagai Arthur Bishop, seorang pembunuh professional yang biasa mempunyai sebutan 'mechanic' karena para pembunuh ini bukan pembunuh sembarangan, dimana mereka harus bisa membuat kejadian itu terlihat seperti sebuah kecelakaan, seolah tak pernah ada kejadian pembunuhan disana. Jadi semua yang dilakukan oleh Arthur sudah terencana dengan detail dan dibuat skenario seperti dalam sebuah film. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah yang bagus namun terpencil. Arthur mempunyai seorang mentor sekaligus teman dekatnya yang bernama Harry McKenna (Donald Sutherland). Suatu hari ia mendapat tugas untuk membunuh Harry karena diduga berkhianat, awalnya Arthur menolak namun pada akhirnya ia harus tetap menjalankan tugasnya secara professional. Ia lalu mendekati anak Harry, Steve McKenna (Ben Foster) yang kemudian ia latih menjadi seorang 'mechanic' seperti dirinya. Masalah belum usai, bagaimana kalau Steve tahu kalau Arthur lah yang membunuh ayahnya?

The Mechanic menurut saya adalah sebuah film layak ditonton bagi para penggemar action movies. Terlebih, Jason Statham sepertinya memang sudah sangat spesialis dengan peran-peran sebagai seorang pembunuh bayaran yang tenang dan terkesan tanpa emosi. Dalam film ini ia memainkan peran andalannya itu dengan sangat baik. Beberapa adegan ada yang lumayan brutal visualisasinya, namun selingan humor yang diberikan sangat membantu mencairkan suasana tegang. Chemistry yang dihasilkan oleh Statham dan Foster sepertinya juga terjalin dengan baik, perbedaan karakter yang dimainkan membuat keduanya mempunyai daya tarik masing-masing untuk ditonton. Kesimpulannya kalau anda penggemar film action, sudah pasti wajib menonton film ini.





January 18, 2011

REVIEW: THE AMERICAN



































"Don't make any friends, Jack."

Poster film ini memang menipu! Anda pasti akan mengira bahwa ini sebuah film action dengan adegan baku tembak yang menegangkan sepanjang film. Ternyata bukan, ini bisa dibilang sebuah drama yang diberikan sedikit bumbu aksi. Tidak ada suasana yang terlalu intens dalam filmnya. Dialog pun minim, musik juga terasa mendayu-dayu. Jadi apabila anda mengharapkan sebuah film action pastinya akan kecewa.

Ini juga bukan film yang bisa dinikmati semua orang. Sebagian akan suka sekali dengan film ini, sebagian lagi akan mencaci maki karena tidak mengerti dan bosan setengah mati. Anda termasuk bagian yang mana? Menurut saya, kalau anda tidak suka dengan film ber-plot lambat atau memang sedang ingin menikmati film action super seru, ada baiknya lewatkan saja film ini.

Jack (George Clooney) adalah seorang pembunuh dan pembuat senjata professional yang mempunyai nama samaran Edward atau Eduardo. Selama ini ia terbiasa hidup menyendiri. Setelah tugasnya di Swedia selesai dan berakhir tragis, ia mendapatkan sebuah tugas 'terakhir' dari sang atasan, Pavel (Johan Leysen), untuk membuatkan senjata kepada seorang wanita misterius bernama Mathilde (Thekla Reuten) di daerah pedalaman Italia. Jack pun selalu diingatkan oleh Pavel untuk tidak berteman dengan siapa pun, karena kondisinya yang memang tidak memungkinkan untuk bersosialiasi. Namun, di tempatnya kali ini Jack malah berteman dengan seorang pastor bernama Father Benedetto (Paolo Bonacelli) dan menjalin hubungan asmara dengan seorang pekerja seks lokal, Clara (Violante Placido). Saat Jack merasa ia telah siap untuk keluar dari pekerjaan gelap yang dijalaninya saat ini, ia malah dihadapkan pada situasi menegangkan yang dapat mempertaruhkan nyawanya.

'The American' memiliki sinematografi yang luar biasa indah. Hal ini mungkin didapat dari gaya sang sutradara Anton Corbijn yang memang adalah seorang top photographer. Semua sudut pengambilan gambar terasa sangat detil dan artistik dari mulai awal sampai akhir film. Belum lagi ditambah suasana pemandangan pedalaman Italia yang menurut saya sangat eksotis. Para pria tentunya juga akan menikmati pemandangan lain yaitu wanita-wanita sexy Italia yang di ekspos habis-habisan disini.

Penampilan George Clooney disini juga menurut saya merupakan salah satu penampilan terbaiknya selama ini. Aktingnya terasa sangat matang dan meyakinkan. Menurut saya Clooney memiliki banyak kelebihan dari wajah tampannya yang semakin tua malah semakin sedap dipandang mata, di satu sisi ia bisa terlihat konyol dan lucu, namun di sisi lain ia bisa juga terlihat seperti agen FBI atau mafia kelas kakap, sisi lainnya lagi ia juga bisa menjadi seorang yang kesepian dan menderita seperti dalam film ini. Wajah Clooney menyimpan berbagai macam karakteristik.

Meskipun judulnya bernuansa Amerika, namun nuansa Eropa, terutama Italia, malah yang sangat terasa dalam film ini. Sebagian pemainnya adalah para pemain asal Italia, lokasi pengambilan gambar juga di Italia. Maka tidak heran kalau saya yang memang menyukai film-film Eropa juga langsung menyukai 'The American'. Bagi yang sudah terbiasa menonton film-film Eropa pasti tidak akan kaget, malah akan menikmati plot cerita yang berjalan lamban tapi emosional ini. Selamat menonton! :)