Showing posts with label BIOGRAPHY. Show all posts
Showing posts with label BIOGRAPHY. Show all posts

March 17, 2011

REVIEW: THE FIGHTER



































"I'm the one who's fighting. Not you."

Banyak film yang mengangkat tema tinju seperti Rocky (1976), Raging Bull (1980), Ali (2001), Million Dollar Baby (2004), Cinderella Man (2005), dan lain-lain. Beberapa contoh yang saya sebutkan tergolong sukses di pasaran, hal ini menandakan kalau film dengan tema tinju masih digemari. Kali ini David O. Russell kembali menyegarkan memori kita dengan film bertema tinju dalam The Fighter. Deretan pemain film Hollywood ternama bermain disini, sebut saja Christian Bale, Mark Wahlberg, Amy Adams, dan Melissa Leo. Berkat bakat dari para pemainnya itulah akhirnya The Fighter sukses berlaga dalam beberapa ajang penghargaan film seperti Golden Globe dan Oscar tahun ini, serta membuahkan piala untuk Christian Bale dan Melissa Leo.

Film ini mengangkat kisah nyata 'Irish' Micky Ward, seorang petinju yang terkenal pada masanya. David O. Russell mengemas kisah ini menjadi sebuah film dengan sangat baik. Christian Bale bermain menjadi Dicky Ecklund, kakak Micky yang kecanduan narkoba dan selalu mengulang-ngulang kisahnya saat mengalahkan Sugar Ray Leonard. Ada crew film yang mengikutinya, yang katanya sedang membuat sebuah reality show tentang kembalinya Dicky dalam ring tinju. Ibu mereka diperankan oleh Melissa Leo yang mempunyai keinginan kuat untuk dapat melihat anak-anaknya tenar, meskipun hal yang ia lakukan menyimpang dari kebenaran. Ia menyangkal kalau Dicky terlibat obat-obatan terlarang, juga merasa paling benar dan paling tahu kebutuhan anak-anaknya.

Lain lagi dengan karakter Mark Wahlberg yang lebih terkesan tenang sebagai Micky Ward. Ia menjalin hubungan cinta dengan Charlene Fleming yang diperankan Amy Adams disini. Mereka berkenalan di sebuah bar dan pada akhirnya Charlene berhasil membuka pikiran Micky dan menjauhkannya dari pengaruh buruk di keluarga, terutama sang ibu dan Micky. Pada awal film ini kita akan diperlihatkan betapa eratnya hubungan kakak beradik Micky dan Dicky. Mulai pertengahan muncul konflik diantara mereka dan juga sang ibu. Pada intinya, film ini menceritakan kisah perjalanan Micky Ward dari mulai sebelum sukses di ring tinju serta lika-liku hubungan dengan keluarganya tercinta.

Beruntung sekali The Fighter memiliki Christian Bale dan Melissa Leo yang memang terlihat paling mendalami karakter masing-masing, wajar saja kalau mereka lah yang mendapatkan piala-piala dengan gelar 'Best Supporting Actor / Actress'. Totalitas Bale semakin terlihat dengan menunjukkan penurunan berat drastis lagi dalam film ini setelah sebelumnya sudah pernah terlihat seperti tengkorang dalam The Machinist (2004) dan kembali sixpack dalam The Dark Knight (2009). Saya pun sampai bingung, sepertinya Bale gampang sekali menaik-turunkan berat badan, meski pada kenyataannya saya yakin hal itu pasti sangat sulit. Sayangnya, Mark Wahlberg yang mengaku selama ini menjaga bentuk tubuhnya agar tetap sixpack supaya lebih pas dengan karaternya pada film ini malah terlihat kurang menunjukkan emosi dan chemistry antara dirinya dengan Amy Adams juga kurang terjalin dengan baik. Namun secara keseluruhan The Fighter memberikan warna baru dalam film dengan tema tinju. David O. Russell mengemas film ini dengan gaya indie / vintage yang simple namun menarik untuk ditonton.





March 12, 2011

REVIEW: THE KING'S SPEECH



































"When God couldn't save The King, The Queen turned to someone who could."

Sejak kemunculan pertamanya dalam Telluride Film Festival pada bulan September tahun lalu, The King's Speech memang sudah diprediksi akan dengan mulus mendapatkan nominasi awards dan memenangkannya. Terbukti, film ini berhasil menjadi Best Motion Picture di ajang Oscar dan juga Colin Firth yang menyandang gelar Best Actor versi Oscar dan Golden Globe tahun ini. Bahkan sang sutradara pun berhasil meraih gelar Best Director Oscar 2011. Masih banyak lagi nominasi dan kemenangan yang didapatkan oleh The King's Speech. Film yang ditulis David Seidler dan disutradarai oleh Tom Hooper ini memang asik untuk dinikmati, didukung juga dengan akting menawan dari para pemain didalamnya.

Diangkat berdasarkan kisah nyata Raja George VI yang berjuang melawan kegagapannya, The King's Speech berhasil dikemas dengan sangat baik dan menghibur. Awalnya, Pangeran Albert (Colin Firth) merasa aman-aman saja dengan gagap yang dimilikinya. Namun, ketika ayahnya, Raja George V meninggal dunia dan melimpahkan tahta kerajaan kepada kakaknya Pangeran Edward (Guy Pearce), Albert mulai ketakutan. Ia tahu bahwa kakaknya sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang janda, dimana hal itu menyalahi aturan kerajaan yang melarang seorang raja menikah dengan janda. Ketakutannya pun terbukti, Edward akhirnya melepaskan tahta dan menurunkannya pada Albert yang menjadi Raja George VI. Albert pun stress dengan beban yang sedang dipikulnya sekarang, yang paling membuatnya pusing tujuh keliling adalah kenyataan bahwa dirinya gagap!

Selama ini Bertie -sapaan akrab Albert- dan istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) sudah sering berobat ke dokter-dokter hebat kerajaan namun penyakit sang suami tak kunjung sembuh. Suatu hari Elizabeth mendatangi seorang ahli pidato asal Australia bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush) dan memintanya untuk menangani kesulitan suaminya dalam berpidato. Meskipun awalnya Bertie sangat tidak yakin dengan Lionel, perlahan terapi unik yang diberikan memberikan kemajuan. Dan pada tahun 1939, dimana Bertie harus mendeklarasikan perang dengan Nazi Jerman kepada seluruh bangsanya, ia memiliki Lionel disampingnya. Ia ingin membuktikan bahwa selain menjadi Raja yang baik ia juga bisa menjadi seorang komunikator yang handal.

Skrip David Seidler ini memang sangat pintar dan lucu, chemistry antara karakter Pangeran Albert dan Lionel terjalin dengan perlahan tapi pasti. Tom Hooper selaku sutradara juga sepertinya tetap membuat segala sesuatu dalam film ini terlihat sederhana namun mampu menggugah setiap orang yang menontonnya. Design kostum sangat mendukung dan membuat karakter yang ada lebih bersinar. Hal yang tidak kalah penting adalah para pemain dalam The King's Speech yang sangat pas. Colin Firth tentu saja memberikan salah satu performa terbaiknya. Begitu juga Helena Bonham Carter dan Geoffrey Rush yang sangat mendalami karakter mereka. Para cameo seperti Guy Pearce dan Michale Gambon juga menambah nilai plus. Sebuah film yang menghibur, menyentuh, dan juga informatif. Selamat untuk segala kemenangan yang diraih! :)





February 16, 2011

REVIEW: 127 HOURS




































“There is no force more beautiful than the will to live.”

James Franco adalah salah satu aktor favorit saya, hal ini bukan hanya dikarenakan ketampanan fisik atau betapa manis senyumnya, akan tetapi kualitas akting yang diberikan Franco dalam setiap filmnya selama ini selalu berhasil menarik perhatian saya meskipun itu hanya peran figuran sekalipun seperti yang terakhir saya saksikan dalam The Green Hornet (2011). Sayang, belum ada peran yang benar-benar berhasil membawa namanya ‘naik level’ dalam kancah perfilman Hollywood. Betapa bahagianya saya ketika tahu kalau James Franco yang akan berperan sebagai Aron Ralston dalam film yang diangkat dari kisah nyata arahan sutradara Danny Boyle (Slumdog Millionaire) bertajuk 127 Hours.

Film ini mengangkat kisah nyata Aron Ralston, seorang pendaki gunung yang pada tahun 2003 silam melakukan petualangan ke daerah tebing terpencil di Blue John Canyon – Utah. Ia tidak memberitahukan kepada siapapun tentang kepergiannya itu, ia juga tidak membawa telefon genggam. Aron hanya ingin merasakan kenikmatan adrenalin yang mengalir deras ketika melakukan petualangan favoritnya tersebut. Namun nasib naas rupanya malah menimpa dirinya, ketika sedang kesulitan menelusuri tebing terjal dan sempit ia tidak sengaja terperosot masuk kedalam dan lebih parahnya lagi, tangan kanannya tertimpa batu besar. Ia terperangkap di bawah tebing dengan kondisi tangan kanan tidak bisa digerakkan sama sekali hanya dengan sedikit sisa air minum, beberapa peralatan mendaki, dan pisau lipat made in China pemberian ibunya.

Saya tidak ingin spoiler, tetapi adegan ‘itu’ memang lumayan disturbing buat saya. Ketika menonton saya sesekali menutup mata dengan tangan saya dan mengintip dari sela-sela jari. Ya, visualisasi adegan ‘itu’ memang disajikan Danny Boyle dengan vulgar. Ada juga beberapa adegan selain adegan ‘itu’ yang cukup men-jijay-kan (hehe!). Saya suka dengan scene-scene flashback yang diselipkan Boyle disini, membuat film menjadi tidak monoton. Begitu juga dengan dialog-dialog menghibur yang ada. Pilihan soundtrack juga menjadi salah satu nilai tambah. Belum lagi pemandangan tebing yang diperlihatkan dalam film ini, simply breathtaking! Tapi satu esensi penting yang menjadi faktor penentu sukses atau tidaknya 127 Hours adalah penampilan brilian James Franco.

Seperti yang sudah saya tulis diatas, James Franco selama ini sepertinya belum mendapatkan peran yang membuatnya mampu menunjukkan totalitas akting yang membuatnya setingkat lebih dikenal lagi dari sebelumnya, akan tetapi dalam film ini ia akhirnya menemukan sesuatu yang baru bagi karirnya. He really nailed it! Sebegitu baik aktingnya dalam film ini, ia akhirnya dinobatkan menjadi nominasi Best Actor dalam ajang Oscar 2011. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan, apalagi kalau sampai nanti ia berhasil menang. Namun, sepertinya memang sulit, mengingat saingan yang lain juga tak kalah bagus. But I wish him the best! Saya tidak yakin apabila tokoh Aron Ralston diperankan aktor lain, mungkin tidak akan sebagus ini. Mungkin.

Secara keseluruhan saya menyukai 127 Hours, apalagi mengingat film ini based on a true story. Mungkin banyak yang membandingkan film ini dengan Buried (2010), menurut saya 127 Hours berbeda. Buried lebih menitikberatkan kearah thriller, sedangkan 127 Hours lebih menonjolkan sisi drama dan bagaimana perjuangan seorang Aron Ralston untuk mempertahankan hidupnya dengan segala cara sampai cara yang gila sekalipun. Film ini mempunyai nilai positif yang bisa kita ambil yaitu untuk tidak putus asa dalam keadaan apapun, meski kesempatan yang tersisa sepertinya sangat kecil. Mungkin beberapa orang akan sangat suka film ini dan akan ada juga beberapa orang yang sangat tidak suka film ini. But, I love this movie! How about you guys?












































































The real Aron Ralston picture (from Google):

November 4, 2010

REVIEW: THE SOCIAL NETWORK





































"A story about the founders of the social-networking website, Facebook."

Sejak mendengar nama David Fincher yang akan duduk di bangku sutradara dalam proyek film ini, saya langsung sangat excited! Fincher merupakan salah satu sutradara favorit saya, sudah banyak film-film berkualitas yang berhasil dihasilkannya, sebut saja Se7en (1995) dan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Tentu saja tidak ketinggalan, Fight Club (1999), yang selalu masuk ke jajaran film kesukaan saya. Kali ini dengan The Social Network, Fincher kembali membuat saya terkesima. Film ini menceritakan biografi Mark Zuckerberg, pembuat website Facebook yang sangat fenomenal itu. Ada juga rekan-rekan Mark dalam mendirikan Facebook dari awal. Seru rasanya melihat visualisasi bagaimana awal terbentuknya sebuah website yang memang membuat para penggunanya yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia menjadi sangat addicted. Perhatian Fincher pada setiap detail dalam film ini patut diacungi dua jempol, sampai-sampai The Social Network disebut-sebut akan menjadi kandidat kuat dalam beberapa nominasi Oscar berikutnya.

Mark Zuckerberg (Jessie Eisenberg) adalah seorang mahasiswa Harvard yang sangat jenius dalam bidang pemograman komputer. Ia telah membuat beberapa website yang memang menjadi heboh di universitas tersebut. Suatu hari ia mendapatkan ide untuk membuat sebuah website social-networking yang awalnya ia beri nama The Facebook. Mark pun mengajak sahabatnya, Eduardo Saverin (Andrew Garfield), untuk memberikan suntikan finansial dan bersama-sama menjalankan proyek yang mereka yakini akan menjadi 'besar' ini. Tidak disangka hanya dalam waktu dua jam sejak peluncuran perdananya, Facebook telah mendapat kunjungan sebanyak 22.000 hits! Namun tentu saja jalan yang mereka tempuh tidak mulus, mulai dari gugatan yang diajukan senior mereka di Harvard karena mereka merasa Mark telah mencuri ide mereka dan juga tawaran bantuan mencurigakan dari Sean Parker (Justin Timberlake); pendiri website Napster. Tentu saja jalan yang ditempuh seorang Mark Zuckerberg untuk menjadi 'the youngest billionaire in history' tidak akan mudah.

Saya terkesan sekali dengan deretan cast yang dipilih David Fincher untuk film ini, mulai dari Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, sampai Justin Timberlake. Mereka semua bermain sangat brilian, tidak terkecuali Timberlake. Terus terang tadinya saya sangat meremehkan kehadiran Timberlake disini, saya pikir ia hanya akan menjadi 'perusak', but hey, saya salah! Justin Timberlake bermain apik disini, ini film pertamanya yang menurut saya berhasil membuat penonton yakin bahwa selain bernyanyi, ia juga bisa berakting. Kalau berbicara tentang Jesse Eisenberg, OH MY GOD, saya tidak tahu harus berkata apa! Siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain Eisenberg? Fincher tahu itu, ia tahu kalau Eisenberg adalah pilihan yang sangat tepat! Mulai dari wajah dan kesan 'geek', sampai kualitas akting yang superb. Dialog-dialog diucapkan Eisenberg dengan sangat meyakinkan dan sempurna tanpa cela. Awesome job! The Social Network bertopang pada skrip yang luar biasa dan akting para pemainnya. Masalah satu-satunya mungkin hanya ada pada ending yang menggantung, tetapi menurut saya memang sebaiknya dibuat seperti itu, jadi penonton bisa menebak-nebak sendiri bagaimana kelanjutannya. Akhirnya ada satu lagi film yang menerobos masuk kedalam list 'Best Movies 2010' versi Jagoan Movies! Woohoo!





December 26, 2009

REVIEW: THE BLIND SIDE




































"Based on the extraordinary true story"

The Blind mungkin boleh jadi salah satu film bertema sport yang menjadi favorit saya. Dengan lebih mengetengahkan unsur drama didalamnya, secara tidak diduga film ini mampu mendapatkan banyak review yang baik. Dengan modal yang tidak besar The Blind Side mampu membuat jatuh cinta orang yang menontonnya. Diangkat dari novel karya Michael Lewis berjudul 'The Blind Side: Evolution of a game' yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Kisah hidup seorang pria bernama Michael Oher yang menginspirasi banyak orang tentang sisi kemanusiaan yang luas. Michael Oher (Quinton Aaron) adalah seorang anak remaja keturuan Afrika-Amerika berkulit hitam yang tidak mempunyai tempat tinggal. Karena latar belakang keluarga yang berantakan dan broken home, Michael Oher tumbuh menjadi anak yang anti-social dan pendiam. Namun sebenarnya ia tidak bodoh. Michael Oher bertubuh sangat besar, lebih besar dibanding orang kulit hitam lainnya. Suatu saat secara tidak sengaja ia bertemu dengan Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock) yang merasa simpati padanya, lalu menawarkan Oher untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Leigh Anne pun telah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. Ternyata Oher sangat cocok dengan keluarga Tuohy, ia pun akrab dengan anak bungu Leigh Anne yang bernama S.J. Tuohy (Jae Head). Film ini menceritakan kita tentang bagaimana caranya mengesampingkan semua perbedaan yang ada, entah itu perbedaan ras, golongan sosial, dll. Sangat menarik dan indah untuk ditonton. Kita bisa melihat bagaimana kisah hidup Michael Oher menjadi salah seorang pemain football yang terkenal sekarang. Saya suka dengan film ini. Mungkin untuk sebagian orang akan menjadi sedikit membosankan, tapi tidak untuk saya. Film ini memiliki makna yang dalam, apalagi diangkat dari kisah nyata. Beberapa bagian di film ini juga berhasil membuat saya terharu. Menurut saya ini adalah film terbaik dari Sandra Bullock so far. Aktor Quinton Aaron yang memerankan Michael Oher juga sangat cocok, ekspresi mukanya yang datar dan sedih pas sekali dengan karakter Michael Oher dalam film. Si kecil Jae Head juga luar biasa dalam berakting, berhasil menghidupkan suasana dalam film. Overall, The Blind Side is one of the best 'drama-sport' I've ever seen.












































































(The real family: Sean Tuohy, Michael Oher, Leigh Anne Tuohy)

December 10, 2009

SHORT JIFFEST MOVIE REVIEWS: MAMMOTH, COCO AVANT CHANEL, EVERLASTING MOMENTS, & LOVE THE BEAST






































Mammoth adalah film tentang sebuah keluarga kecil yang setiap individunya mempunyai masalah dan pemikiran masing-masing. Bukan hanya di dalam film ini saja, di keluarga dan orang-orang sekeliling kita pun pasti mempunyai jalan pikirannya sendiri. Film ini memperlihatkan kita bagaimana suatu masalah dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Gael Garcia Bernal dan Michelle Williams cukup cocok bermain sebagai sepasang suami istri muda di jaman modern seperti sekarang, meskipun di film ini mereka lebih banyak berada dalam frame berbeda. Sang anak yang diperankan Sophie Nyweide sangat lucu dan menggemaskan, bisa jadi saingan anak-anak lain di Hollywood nih! Mammoth bukan hanya drama keluarga seperti film biasa, cerita yang simple dan tidak biasa ini lah yang mengandung banyak pelajaran yang bisa kita petik dalam kehidupan. Bagi sebagian orang mungkin akan bosan karena durasi yang panjang, tapi kalau dihayati, film ini mengandung esensi kehidupan yang sebenarnya.







































Sedikit kecewa! Saya berharap kalau film ini akan menampilkan sisi seorang Gabrielle Chanel yang dengan susah payah membangun usaha fashionnya menjadi sebuah brand fashion raksasa dunia. Tapi ternyata film ini malah hanya menyuguhkan sisi percintaaannya saja. Saya tidak bilang kalau film ini jelek, hanya saja tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Percintaan disini juga tidak istimewa, malah sedikit membosankan dan monoton untuk saya. Mungkin karena saya selalu menanti kapan sisi fashionnya akan diselipkan, ternyata sangat sedikit sekali. Tapi seperti biasa, Audrey Tatou tampil sangat brilian disini, pas sekali memerankan tokoh Coco Chanel. Harapan yang terlalu besar lah yang sepertinya membuat saya kecewa dengan Coco Avant Chanel.







































Film Swedia ini bercerita tentang kehidupan seorang wanita bernama Maria Larsson (Maria Heiskanen) yang memenangkan undian lotere berhadiah sebuah kamera. Karena tidak tahu cara penggunaannya kamera tersebut hanya disimpan di lemari. Bertahun-tahun kemudian ketika sudah menikah dengan Sigfrid Larsson (Mikael Perstbrandt) dan mempunyai beberapa orang anak, Maria dan keluarga mengalami kesulitan ekonomi. Secara tidak disengaja Maria menemukan kamera yang dimenangkannya dulu, lalu ia berencana untuk menjualnya. Akan tetapi nasib berkata lain. Ternyata dari kamera tersebut akhirnya Maria berhasil meringankan beban keluarganya dengan hasil fotonya yang luar biasa. Film keluarga yang indah kalau menurut saya. Dengan pendalaman tiap karakter yang sangat detail, membuat kita merasa mengenal karakter dalam film ini, terutama Maria Larsson. Gambar film ini pun terasa sangat klasik dan indah dengan nuansa warna sephia. Menurut saya film ini cantik, klasik, dan didukung dengan sentuhan vintage yang indah.







































Love the Beast ini film dokumenter yang bercerita tentang Eric Bana dan mobil kesayangannya, Beast. Disutradarai langsung oleh Eric sendiri. Film ini menyajikan kehidupan seorang Eric Bana yang terobsesi dengan dunia balap dan sangat mencintai mobil Ford Falcon XB Coupe yang dibelinya sejak berusia 15 tahun. Ikatan yang sangat erat antara ia dan mobilnya itu dibeberkan dengan jelas disini. Dari waktu ia belum menjadi artis Hollywood terkenal, Beast (re: nickname mobil Eric) lah yang setia menemani. Saya suka dengan film ini, karena mungkin saya juga suka dengan Eric Bana. Kalau kamu kurang suka dengan dunia otomotif dan tentunya Eric Bana sendiri, saya tidak menyarankan untuk menonton film ini. Meskipun sebenarnya di film ini ada makna bagus yang dapat diambil yaitu kecintaan seseorang dengan benda mati. Sebuah benda yang mempunyai sejarah khusus dengan kita, ikatan yang sangat kuat dan tidak dapat digantikan dengan apapun. Saya sangat suka dengan segmen obrolan Eric dengan Jay Leno dan Dr.Phil McGraw disini, sangat inspiratif sih menurut saya. Overall, saya sangat menikmati sekali. :)

December 6, 2009

REVIEW: THE DAMNED UNITED




































"They love me for what I'm not... ...they hate me for what I am."

Film pertama saya di JiFFest adalah The Damned United. Dan ternyata pilihan saya tidak salah. The Damned United tidak hanya bercerita tentang sepak bola saja, akan tetapi juga mengenati keberhasilan, kegagalan, usaha, kegigihan, kesalahan, persahabatan, dan cinta. FYI, saya terlambat masuk theater sekitar 20 menit, jadi awal filmnya saya ketinggalan. Untungnya, masih bisa dimengerti sampai akhir. Jadi kira-kira begini ceritanya, Brian Clough (Michael Sheen) yang berprofesi sebagai manajer klub sepak bola dan asisten sekaligus teman baiknya, Peter Taylor (Timothy Spall) berhasil membawa klub Derby County yang tadinya berada di level paling bawah divisi II ke puncak divisi I. Suatu pretasi yang sangat amat membanggakan. Nama Brian Clough pun menjadi terkenal seantero Inggris karena keberhasilannya itu. Namun suatu ketika, para pemilik yang memegang saham Derby County meminta Brian untuk mengalah pada pertandingan melawan salah satu klub ternama karena alasan faktor materi. Tidak dipungkiri dalam dunia persepakbolaan memang banyak kecurangan semacam ini atau biasa disebut 'main sabun'. Maaf nih kalau salah, mungkin para cowok pecinta sepak bola bisa bantu dengan penjelasan yang lebih tepat. Hehe.. Lalu, Brian pun tidak menuruti permintaan mereka, karena ia sangat menjunjung tinggi sportivitas dalam sebuah permainan sepak bola. Akibatnya ia dan Peter Taylor pun dipecat dari Derby. Karena masalah ini persahabatan mereka pun diuji, Peter yang sudah sangat nyaman bekerja di Derby pun tidak terima dirinya dipecat karena ulah Brian. Akhirnya Brian menerima tawaran untuk menjadi manajer di klub kenamaan Leeds United, yang selalu menjadi 5 besar divisi I. Ternyata menangani klub yang namanya sudah besar tidak semudah yang diduganya. Banyak tantangan dan cobaan yang harus dilalui. Dan itu semua tentu tidak mudah. Well, saya suka sekali dengan film ini. Cara penuturannya sangat unik dan penataan gambar juga terlihat indah dengan sentuhan vintage yang cantik. Akting Michael Sheen tidak perlu diragukan lagi, ia kembali mengulang akting briliannya dalam Frost/Nixon beberapa waktu lalu. Kali ini berperan sebagai Brian Clough, bukan hanya mirip akan tetapi kharisma yang ditampilkan juga luar biasa. Tidak terbayang kalau bukan Sheen yang main disini. Two tumbs up! Tali persahabatan antara Brian Clough dan Peter Taylor juga tervisualisasi dengan baik oleh Michael Sheen dan Timothy Spall, sampai-sampai adegan akhir film ini membuat saya tertawa keras. Haha.. Film ini diangkat dari novel berjudul sama, The Damned Utd karya David Peace, ditulis berdasarkan kisah nyata seorang Brian Clough yang disebut-sebut sebagai manajer klub sepak bola terbaik di Inggris sampai sekarang. Boleh ditonton nih guys, apalagi untuk para pecinta sepak bola. Dijamin kamu jadi tahu ternyata menjadi seorang manajer klub sepak bola itu tidak semudah yang semua orang kira. :)