Showing posts with label ADVENTURE. Show all posts
Showing posts with label ADVENTURE. Show all posts

August 11, 2014

REVIEW: GUARDIANS OF THE GALAXY

"They call themselves the Guardians of the Galaxy. What a bunch of a-holes."

Reaksi saya ketika pertama kali menonton trailer Guardians of the Galaxy? Boom!! Saya harus nonton film ini!! Trailernya terlihat sangat fun apalagi dengan kehadiran makhluk-makhluk aneh seperti raccoon dan si manusia pohon. Film ini diangkat dari salah satu komik best seller dari Marvel, saya sendiri belum pernah dengar tentang komik ini sebelumnya. Maklum bukan pecinta komik hehe.. Beruntung saya bisa menyaksikan film ini di Malaysia dua minggu lebih cepat daripada penayangannya di Indonesia tanggal 20 Agustus mendatang. Andddd..I loved it! It was a super fun experience in the cinema. Banyak adegan yang dijamin akan membuat penonton tertawa sangking konyolnya, seimbang dengan adegan action yang juga tidak kalah seru. Satu hal yang mencolok dari film ini adalah kehadiran lagu-lagu nostalgia yang tentunya menjadikan film ini lebih unik dibanding film superhero yang belakangan bertebaran di bioskop. You can even find a dancing scene here! Music and dance in a superhero movie? HELL YEAH.

Seorang bocah diculik dari Bumi menggunakan sebuah kapal luar angkasa dan dibawa ke sebuah planet yang jauh. Ia lalu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kerjanya adalah seorang 'pemulung' dan menyebut dirinya sebagai Star Lord (Chris Pratt). Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliling dengan kapal luar angkasanya dan menjadi benda yang bisa ia curi dan ia jual. Suatu hari ia menemukan sebuah bola dan sejak saat itu ia pun dikejar-kejar oleh banyak pihak sampai pada akhirnya ia dijebloskan kedalam penjara dan bertemu orang-orang yang nanti akan menjadi rekannya. Mereka adalah seekor raccoon bernama Rocket (Bradley Cooper), sidekick Rocket yang adalah sebuah manusia pohon bernama Groot (Vin Diesel), Drax the Destroyer (Dave Batista), dan Gamora (Zoe Saldana) yang adalah seorang pembunuh. Mereka berlima lalu berkerja sama untuk melarikan diri dari penjara dan berencana untuk mengamankan bola yang ternyata sangat berbahaya apabila jatuh ditangan pihak yang salah. Petualangan pun dimulai dan mereka menyebut diri mereka Guardians of the Galaxy!

Plot film ini sebetulnya tidak terlalu spesial. Sekelompok orang dipaksa untuk bergabung menjadi sebuah tim lalu yang pada awalnya saling tidak suka namun seiring berjalan waktu menjadi solid. Klise memang dan mudah ditebak ujungnya akan seperti apa. Namun dari trailer saja sebetulnya kita sudah bisa lihat bahwa Guardians of the Galaxy memang tidak sok serius dan ingin menjadi sebuah film superhero yang ringan dan konyol. Jalan cerita yang tidak terlalu rumit tentu bisa dinikmati oleh sebagian besar penonton. Dengan rumus formula plot yang sederhana, Marvel berhasil menyajikan sebuah tontonan yang super fun dan tentunya akan ditunggu kehadiran sekuelnya segera oleh para fans.

For me the characters make this film. Masing-masing karakter mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dan dengan mudah membuat penonton menyukai semua dari mereka. You can easily relate to these characters. Pertama, ada Star Lord yang diperankan Chris Pratt. Sepertinya Chris Pratt perlahan tapi pasti akan menjadi calon aktor favorit saya. Ia dapat dengan mudah memerankan karakter konyol dengan banyolan yang natural namun juga bisa seketika menjadi serius dan menyajikan action bringas. Karakter Star Lord sendiri sepertinya agak mirip dengan karakter Han Solo yang tidak sempurna dan sedikit nakal namun penonton tetap suka. Thumbs up untuk Chris Pratt yang berhasil menurunkan sekitar 36kg untuk film ini! Tetapi karakter favorit saya adalah Rocket!!! He is a total badass dan Bradley Cooper berhasil mengisi suara dengan sangat baik. He is quick witted, crazy with gun, and is a lot of fun to watch! I mean, who doesn't love a talking raccoon who swears and carries a loaded gun? Karakter Groot yang hanya berbicara satu kalimat saja juga dijamin mendapat tempat di hati para penonton, "I am Groot". Begitu juga dengan Gamora dan Drax.

Intinya, ini adalah film superhero yang sangat seru. It made me laugh and I got emotionally connected to the characters. Karakter yang ada dalam film ini adalah poin utama yang dijual, Chris Pratt dan teman-temannya membuat film ini sukses besar. Mereka semua berbeda, penuh dengan kepribadian, dan penonton dibuat benar-benar relate dengan karakternya di sepanjang film. Every characters steals the show! Pretty sure this movie is going to be one of the most entertaining movie this year! Thank you Marvel Studios. :)






July 12, 2013

REVIEW: PACIFIC RIM 3D

"In order to fight monsters, we created monsters of our own."

I went to see Pacific Rim with no expectations at all. I thought, well okay, another Transformers movie which not gonna be as good as Transformers, but hell I was wrong. Tetapi ternyata dengan tidak adanya ekspektasi sama sekali membuat saya sangat menikmati menonton Pacific Rim, meskipun dua teman yang nonton bersama saya ternyata tidak suka, and they're boys. Jadi ya, balik lagi film itu memang tergantung selera orang masing-masing, kebetulan I really enjoyed this movie. I watched it on IMAX 3D and I thought it was a mindblowing experience! The special effects and the robots fighting scenes are really cool, you don't wanna miss it! I think the 3D version is recommended. Jalan cerita sendiri sebetulnya so-so, tidak terlalu istimewa. Tapi trust me, this is one of the great summer movie this year! Jangan ekspektasi tinggi-tinggi, langsung nonton aja. :)

Beberapa tahun dari sekarang, alien's monsters Kaiju yang muncul dari portal dasar laut Pasifik mulai datang menyerang Bumi. Perlahan tapi pasti mereka mulai menghancurkan infrastruktur yang ada dan membunuh manusia yang mereka temui. Negara-negara mulai cemas dan akhirnya mereka memutuskan untuk bekerjasama membuat robot-robot yang diberi nama program Jaeger. Robot Jaeger harus dikendalikan dua orang pilot yang saling bertautan memorinya. Semakin kuat ikatan yang ada antara kedua pilot tersebut, maka semakin baiklah pengendalian robot Jaeger. Raleigh Becket (Charlie Hunnam) merupakan salah satu top Jaeger's pilot. Namun setelah kematian kakaknya, ia memutuskan untuk tidak menjadi pilot lagi. Lima tahun kemudian pimpinan kelompok resistance, Stacker Pentecost (Idris Elba) kembali mencari Raleigh dan mengajaknya ikut dalam pembasmian Kaiju dikarenakan level monster Kaiju yang semakin lama semakin tinggi dan penghancuran yang dilakukan sudah mengarah ke kiamatnya Bumi.

Sejujurnya ketika awal film saya merasa agak aneh dengan film ini, serius nggak; bercanda juga nggak. Namun seiring dengan berjalannya film saya jadi mengerti bahwa Del Toro sengaja membuat Pacific Rim tidak seserius itu! Semua pemain sepertinya sengaja dibuat 'lebay', beberapa scene sengaja dibuat 'cheesy', dan tentu saja adegan pertarungan antar robot dibuat 'wah' sekali! Tidak disangka trik ini berhasil! Overall, saya merasa menonton Pacific Rim seperti sedang bermain sebuah permainan video game yang seru dan membuat kita ingin bertepuk tangan ketika setiap adegan pertempuran selesai. Charlie Hunnam bisa dibilang annoyingly lovable disini; sebel tapi suka. Gimana yah?! :p Idris Elba top lah! Rinko Kikuchi awalnya menurut saya agak 'off' tapi lama-lama saya jadi berfikir, mungkin memang sengaja dibentuk seperti ini karakternya agak sedikit anime. Kehadiran Charlie Day sebagai seorang Dr.Newton Geiszler juga sangat menghibur, begitu juga dengan Ron Perlman as Hannibal Chau. Pokoknya saran saya kalau kalian ingin menonton Pacific Rim adalah 'WHY SO SERIOUS?!'.






July 11, 2013

REVIEW: THE LONE RANGER

"Never remove the mask, kemosabe."

The Lone Ranger bisa dibilang merupakan ajang reuni para awak Pirates of the Caribbean, mulai dari sang pemeran utama, Johnny Depp, sampai sutradara dan penulis. Depp sendiri memang sudah sangat identik dengan karakter-karakter seperti ini and I think I kinda getting tired of it. Bukan berarti saya tidak menikmati kualitas akting jempolan Depp, tidak ada yang perlu diragukan kalau soal itu, akan tetapi rasanya agak jenuh melihat ia mengambil peran yang itu-itu saja. Spesialisasi, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Bukan hal yang buruk memang, maybe it's only me. Saya dari awal memang tidak terlalu tertarik dengan kehadiran The Lone Ranger, mulai dari melihat poster dan menonton trailernya. It turned out that I didn't like the movie very much, I did enjoy some scene though, mostly dari awal sampai pertengahan film. Tapi setelahnya sampai film berakhir saya malah merasa bosan.

Film dimulai dengan adegan dimana seorang pengacara muda bernama John Reid (Armie Hammer) yang kembali ke kampung halamannya di Texas. Ia secara tidak sengaja terlibat dalam sebuah adegan kriminal didalam kereta yang melibatkan seorang Indian bernama Tonton (Johnny Depp) dan seorang penjahat kelas kakap yang sudah amat terkenal kesadisannya, Bush Cavendish (William Fitchner). Hari itu semestinya menjadi hari eksekusi Bush, akan tetapi kawanannya menyelamatkan Bush. John Reid pun akhirnya bergabung dengan kakaknya dan beberapa warga lain dalam sebuah kelompok bernama Texas Ranger. Namun naas, semuanya dibunuh dengan sadis, kecuali John. Dibantu dengan Tonton, mereka berdua pun berniat membalas dengan kepada kawanan Bush Cavendish karena ternyata dendam yang mereka pendam tertuju pada orang yang sama.

Sejujurnya, The Lone Ranger bukanlah sebuah film yang amat-sangat-buruk. Bisa dibilang, it's an okay movie, I'm sure it's pretty entertaining for some people. Tapi seperti yang sudah saya tuliskan diatas, saya hanya bisa menikmati setengah awal dari film ini, setengahnya lagi menurut saya memiliki isi yang kurang penting. Durasi yang terlalu panjang, ini jadi problem utama The Lone Ranger. Dengan durasi dua setengah jam, satu jam sebelum film berakhir saya dibuat bosan dan menunggu kapan film akan selesai. Armie Hammer menurut saya tidak kalah bagus kualitas aktingnya, berkolaborasi dengan seorang aktor besar seperti Johnny Depp tentu saja bukan hal yang mudah. Namun Armie membuktikan bahwa kharisma yang ia punya tidak kalah bersinar. Saya pertama kali tau Armie Hammer dari film The Social Network (2010), disana ia berperan ganda sebagai Winklevoss bersaudara, which I think he stole the spot light there. Helena Bonham Carter tidak terlalu banyak porsinya dalam film ini, tetapi seperti biasanya, ia selalu bisa membuat suasana jadi lebih meriah. Almost all the cast here are brilliant, masalah bukan dari jajaran cast, script dan durasi yang terlalu panjang membuat The Lone Ranger tidak menjadi salah satu film favorit saya summer tahun ini. :)






June 18, 2013

REVIEW: MAN OF STEEL

"The world's too big, Mom."

Man of Steel adalah sebuat reboot dari cerita Superman yang disutradarai oleh Zack Snyder (300, Watchmen, Sucker Punch) dan diproduseri oleh salah seorang sutradara favorit saya, Christopher Nolan (Memento, The Dark Knight, Inception). Dari segi judul sendiri menurut saya sudah sangat Nolan. Hehe.. Superman sendiri merupakan karaktek yang paling iconic bila dibandingkan dengan superhero yang lainnya. Bisa dibilang mungkin Superman juga menjadi salah satu karakter yang sulit untuk 'diapa-apain' karena kekuatannya memang ada dari dalam dirinya dan sepertinya semua konflik bisa ia selesaikan tanpa terlihat terlalu kewalahan. But hey, you can't have story without conflict, right? :)

Film dibuka dengan suasana planet Krypton yang sedang diujung kehancuran. Jor-El (Russell Crowe) dan istrinya, Lara (Ayelet Zurer), sedang ingin mengirim putra mereka yang masih bayi ke Bumi dengan harapan agar sang putra dapat terus melanjutkan hidup. Sayangnya, hal ini diketahui oleh Jendral Zod (Michael Shannon) yang membelot pemerintahan dan sangat marah begitu tahu bahwa benda penting yang bernama codex ikut pergi dengan anak Jor-El ke Bumi. Codex bisa digunakan untuk membangun lagi planet Krypton.

Lalu penonton akan disajikan Clark Kent (Henry Cavill) dewasa yang hidupnya selalu berpindah-pindah. Ini dikarenakan ia tidak ingin aksi heroic anonimnya diketahui oleh masyarakat, karena menurutnya orang akan takut pada hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti. Flash Back masa kecil Clark pun turut disertakan disini, mulai dari tempat yang dianggapnya rumah di Smallville, Kansas, sampai peran kedua orangtua angkatnya, Jonathan (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), yang selalu membantunya belajar untuk mengontrol kekuatannya dan mempertimbangkan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.

Ia pun lalu secara tak sengaja bertemu dengan Lois Lane (Amy Adams), seorang wartawan terkenal dari Daily Planet. Karena salah satu aksi heroik Clark akhirnya Lois mengetahui identitasnya sebagai Superman. Tak lama berselang tiba-tiba muncul ancaman massal ke Bumi oleh Jendral Zod yang meminta agar Superman menyerahkan diri. Waktu berpuluh-puluh tahun belakangan ini ternyata dipakai Zod untuk membangun sebuah pesawat yang bisa digunakannya menuju ke Bumi dan mencari anak Jor-El guna merebut kembali codex. Dan dimulailah pertempuran dengan Superman!

Ini bukanlah sebuah film yang sempurna, hmm, walau memang tidak ada film yang sempurna. Tapi Man of Steel sendiri menurut saya agak terlalu lama durasinya. Beberapa adegan perkelahian antara Superman dan pasukan Krypton menjadi terasa membosankan karena terjadi berulang-ulang dan saya jadi capek menonton karena mereka sama-sama kuat dan tidak ada yang benar-benar melukai satu sama lain. Saya mengerti ini memang gaya Zack Snyder, lihat saja film-film arahannya yang rata-rata memang lebih fokus ke sisi action dengan visualisasi menakjubkan. Namun mungkin akan lebih seimbang kalau bagian ini dipersingkat sedikit. Sorry, but for me the battle scenes are just crazy huge!

Salah satu hal terbaik dalam film ini menurut saya adalah jajaran para pemainnya. Henry Cavill sangat cocok berperan sebagai Clark/Superman. I could not imagine anyone doing a better job, or having a better look. Emosi yang ia sampaikan dalam film ini terasa sekali. Michael Shannon juga tampil baik sebagai Zod. Kevin Costner, Russell Crowe, dan Diane Lane juga bermain pas, terutama Costner. Menurut saya tidak mudah membuat karakter Jonathan Kent menjadi seorang sosok simpatik, karena ia selalu melindungi Clark Kent dengan cara yang keras dan menanamkan rasa takut di benak anaknya itu. But Costner did a terrific job! Yang justru agak janggal adalah karakter Lois Lane yang diperankan Amy Adams, entah kenapa tidak ada chemistry antara dirinya dan Superman. Saya malah jadi berandai-andai kalau peran ini diberikan pada aktris lain, siapa ya yang cocok? :D

Saya merasa Nolan dan Snyder benar-benar memiliki nyali yang besar untuk mundur kebelakang dan mempelajari ulang karakter Superman dan juga membayangkan apa kira-kira yang bisa terjadi kalau tiba-tiba ada seseorang seperti Superman muncul di planet kita. Mereka membuat sebuah pekerjaan yang mengagumkan dengan membuat karakter Superman menjadi seseorang yang juga memiliki kekurangan, seseorang yang bisa salah mengambil keputusan, ataupun bisa merasa bersalah dan menderita karena hal itu. Kudos to David S. Goyer selaku penulis skenario! Somehow, Superman dalam Man of Steel jadi terasa lebih 'manusia'.

Meskipun mulai dari pertengahan menjelang akhir film lebih didominasi adegan action, namun entah kenapa yang justru lebih menempel dalam ingatan saya malah adegan awal menuju pertengahan. Saya sangat menikmati sisi melankolis dan dramatis yang disajikan dalam film ini. Sisi emosional seorang Superman. Thumbs up for that! Pada akhirnya menurut saya Man of Steel merupakan sebuah tontonan yang serba 'nanggung'. It's not like either you love it or you hate it, tapi lebih seperti berasa ditengahnya, in the grey area. It's a good movie, but not that great. But I did enjoy the movie, I hope you do too. :)






REVIEW: AFTER EARTH

"Fear is not real. The only place that fear can exist is in our thoughts of the future. It is a product of our imagination, causing us to fear things that do not at present and may not ever exist."

After Earth disutradarai oleh M. Night Shyamalan yang terkenal dengan The Sixth Sense (1999). Namun sayang beberapa film terakhirnya malah menjadi cacian para kritikus film seperti Lady in the Water (2006), The Happening (2008), yang terparah dan terakhir adalah The Last Airbender pada tahun 2010 lalu. Saya tadinya sudah mengurungkan niat untuk menonton After Earth di bioskop, tapi karena sedang bosan dan tidak ada lagi yang bisa ditonton akhirnya tiket pun saya beli. Menyesal? Bisa dikatakan begitu. :p

Seribu tahun di masa depan, Kitai (Jaden Smith) dan ayahnya, Cyprus (Will Smith), berhasil selamat dari kecelakaan pesawat yang membuat mereka terdampar di Bumi. Mereka berasal dari planet Nova Prime, dimana planet tersebut merupakan tempat baru bagi manusia untuk melanjutkan hidup setelah dahulu kala terjadi sebuah bencana yang memaksa manusia keluar dari planet Bumi. Sekarang Bumi tidak dihuni manusia dan menjadi planet yang pantang didatangi manusia karena semua makhluk hidup yang ada didalamnya otomatis akan membunuh manusia, khususnya Ursa.

Ursa adalah monster yang memangsa manusia dengan cara mencium rasa takut. Makhluk ini tidak dapat melihat jadi ia hanya bergantung pada indera penciuman rasa takut yang dikeluarkan oleh hormon manusia. Tekhnik 'ghost' merupakan sebuah cara yang digunakan untuk membunuh Ursa. Seorang 'ghost' harus bebas dari rasa takut sama sekali sehingga kehadirannya tidak diketahui Ursa dan ia dengan mudah dapat membunuh makhluk tersebut. 'Ghost' pertama yang ada adalah Jendral Cyprus Raige, ayah Kitai.

Sayang, kecelakaan pesawat yang terjadi membuat Cyprus tidak dapat berjalan dan harus bergantung pada tekhnologi remote guna memandu Kitai mencari sebuah alat sinyal marabahaya di bagian ekor pesawat mereka yang terlempar ke sisi lain pulau. Kitai yang selalu ingin menjadi prajurit seperti ayahnya akhirnya mau tidak mau berjalan menelurusi sebuah planet yang asing baginya. Banyak rintangan yang menghadang namun kenangan hangat tentang sang ibu, Faia (Sophie Okonedo), dan sang kakak, Senshi (Zoe Kravitz), secara tidak langsung mampu menjaga dan menguatkan Kitai selama perjalanan.

Saya mendapati film ini berjalan sangat lambat. Dialog-dialog yang ada dan akting Jaden Smith pun seperti saling balap siapa yang paling kaku. Didukung juga dengan plot cerita yang tidak istimewa. Satu-satunya hal yang bisa saya nikmati disini hanya sisipan beberapa special effects yang lumayan. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan jalan cerita yang ringan, terkadang banyak juga film dengan plot yang bolong sana sini namun tetap bisa menghibur. Salah satu yang sedikit menyebalkan dalam film ini menurut saya terletak pada pemeran utamanya. Ya, Jaden Smith. Entah kenapa Jaden terlihat belum siap untuk tampil sebagai sorotan solo. Terlebih dalam film ini aktingnya terlalu kaku, suaranya terlalu lemah, dan badannya terlalu kecil dan kurus untuk menjadi seorang pahlawan. Miscast in his own movie? Could be. :)

After Earth mungkin akan menjadi film yang cocok untuk ditonton keluarga karena jalan ceritanya yang ringan dan pemandangannya yang bagus. Anak-anak akan suka menonton petualangan Kitai dalam film ini apalagi dengan suguhan pemandangan yang bisa dibilang bagus. Tapi kalau anda sudah dewasa dan tidak ingin bosan selama kurang lebih satu setengah jam lebih baik lewatkan saja film ini. Another bad movie from M. Night Shyamalan.










November 24, 2011

REVIEW: THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 1


































Edward Cullen: I'll see you at the alter.
Bella Swan: I'll be the one in white.

Bergembiralah para penggemar Twilight! Akhirnya Breaking Dawn - Part 1 rilis juga. Bagi para Twi-Hards (sebutan untuk penggemar berat Twilight) film ini tentu saja sudah sangat dinantikan. Apalagi didalamnya akan ada pernikahan antara Edward Cullen dan Bella Swan (finally!). Setelah kisah cinta yang berbelit-belit dan 'unyu-unyu' akhirnya si vampir pucat berglitter berhasil membawa sang pujaan hati ke pelaminan. Lucu memang (atau romantis?) melihat vampir menikah dengan manusia biasa, apalagi setelah perjuangan panjang selama 3 film! Seperti review-review film Twilight yang sudah pernah ada di blog ini, saya selalu mengatakan kalau saya sangat menyukai novelnya, menurut saya cerita karangan Stephenie Meyer itu sangat bagus dan seru sekali untuk dibaca. Namun visualisasi yang diangkat dari novel ke layar lebar sangat lah menggelikan, atau bisa dibilang tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang adalah penggemar novelnya. Well, untuk Breaking Dawn - Part 1 ini sebetulnya saya tidak mengatakan kalau film ini sangat-amat-buruk-sekali, hanya saja kalau anda bukan fans Twilight lebih baik lewatkan saja film ini daripada nanti anda mual-mual.

Setelah melewati berbagai rintangan; mulai dari perang dengan sesama vampir, serigala, sampai konflik cinta segitiga yang super 'dirumitkan' itu, akhirnya Edward Cullen (Robert Pattinson) berhasil membawa sang pujaan hati Bella Swan (Kristen Stewart) ke pelaminan. Di usia yang baru 18 tahun ini akhirnya Bella telah mengambil keputusan mantap untuk menikah dengan vampir yang sangat dicintainya itu. Mereka pun berbulan madu ke sebuah pulau private yang romantis. Hubungan yang selama ini hanya 'kissing-only' pun tentu saja berkembang ke langkah selanjutnya. Baru sebentar, tiba-tiba Bella dinyatakan hamil. Mereka pun kembali ke rumah keluarga Cullen. Kehamilan Bella prosesnya sangatlah cepat, janin yang dikandungnya bukanlah janin biasa melainkan campuran antara manusia dan vampir. Dikarenakan proses pertumbuhan janin yang sangat cepat itu, kesehatan Bella pun menurun drastis. Tubuh Bella sepertinya tidak akan kuat dan hal ini tentu saja sangat membahayakan nyawanya.

Edward yang tidak mau kehilangan Bella pun menyarankan agar janin tersebut digugurkan saja, namun Bella bersikeras ingin mempertahakan janin tersebut. Bujukan dari Jacob (Taylor Lautner) untuk menggugurkan bayi itu pun tak digubrisnya. Kabar tentang bayi setengah vampir yang sedang dikandung Bella ini pun terdengar juga oleh kawanan serigala. Para serigala ini menganggap kalau bayi tersebut nantinya akan membahayakan sehingga mereka berencana untuk memusnahkan bayi yang sedang dikandung Bella itu. Keluarga Cullen pun tidak tinggal diam, dibantu oleh Jacob mereka berusaha sekuat tenaga agar para kawanan serigala itu tidak dapat menyentuh Bella sama sekali. Masalah pun bukan hanya sampai disitu. Permasalahan utamanya adalah apakah Bella bisa bertahan sampai melahirkan bayi tersebut? Kalau sampai Bella meninggal sebelum bayi tersebut lahir maka Edward pun tidak berkesempatan untuk mengubah Bella menjadi vampir. Artinya, ia harus merelakan Bella meninggal dunia.

Sebetulnya menurut saya agak konyol Breaking Dawn dibagi menjadi Part 1 dan Part 2. Karena hampir setengah film di Part 1 ini hanya menyajikan adegan mesra Edward dan Bella saja. Saya sampai merasa sedang menonton film panas Robert Pattinson dan Kristen Stewart. lol. Film ini pun terasa lambat dan hanya berputar-putar disitu saja. Memang sih maksudnya supaya chemistry antara Edward dan Bella terasa intens, namun menurut saya jadinya agak sedikit berlebihan. Dari segi akting menurut saya Kristen dan Taylor menunjukkan kemajuan yang lumayan signifikan. Kalau Robert yaa..begitu-begitu saja lah. Mungkin para Twi-Hards akan tetap terhibur melihat idola mereka 'gelendotan' dari awal sampai pertengahan film, bahkan mungkin sedikit-sedikit akan keluar kata-kata ‘ugh..so sweet’. Yap, because they love it! Makanya saran saya, kalau anda bukan Twi-Hards jangan sampai geli sendiri menyaksikan film ini. Two tumbs up untuk make-up dan spesial efek Bella pada saat mengandung, wajahnya terlihat tirus dan lesu sekali, very convising! Beberapa hal yang saya nikmati dari film ini: design altar pernikahan di awal film sangat indah sekali dengan juntaian bunga putih yang terasa romantis, gaun pernikahan yang dipakai Bella bagian belakangnya super keren, dan entah bagaimana caranya Taylor Lautner terlihat sedikit lebih ganteng di film ini. Ohh well..itu saja. :p





August 18, 2011

REVIEW: HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 2




































"It all ends."

Usai sudah franchise yang luar biasa sukses selama hampir 14 tahun terakhir ini dan disukai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menjadi film Harry Potter ke-8 sekaligus menjadi film penghabisan. Bagi para penggemar setianya, sudah pasti ini membawa kesedihan yang luar biasa. Apalagi bagi mereka yang merasa 'tumbuh' bersama dengan Harry, Ron, dan Hermione. Meskipun saya bukan penggemar fanatik, saya pun merasa sedih karena tahun depan sudah tidak ada lagi hype Harry Potter yang seketika membuat bioskop penuh sesak. Tapi saya juga senang, karena film ini ditutup dengan sedemikian memuaskan oleh David Yates. Big thanks to him! Berhubung saya bukan pembaca novelnya, jadi saya tidak berhak memberikan komentar mengenai adaptasi yang ada, tapi saya puas sekali dengan apa yang saya tonton. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 merupakan salah satu film Harry Potter terbaik dari yang ada.

Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) melanjutkan misi terakhir dan yang paling menentukan guna mengalahkan Lord Voldermort (Ralph Fiennes). Hanya tinggal tiga buah Horcruxes yang belum diketemukan, apabila mereka bisa menemukan sisanya maka sudah pasti rencana akan berjalan lancar. Namun misi mereka menemukan letak Horcruxes diketahui oleh Voldertmort dan tentu saja pertempuran besar pun tak terhindari lagi. seluruh kekuatan dan pendukung Voldermort melawan para pendukung Harry Potter dari Hogwarts bertempur habis-habisan. Namun, yang pada akhirnya dapat mengalahkan Voldertmort hanyalah Harry seorang.

Diantara semua film Harry Potter yang ada, saya berani mengatakan kalau film ini lah yang memiliki visual efek paling jempolan. Luar biasa halus dan memanjakan mata! Part 2 juga merupakan film Harry Potter dengan adegan pertempuran yang paling intens dan menegangkan. Memang plot dari Part 2 ini tidak terlalu istimewa, namun adegan action tanpa henti yang disajikan disini sungguh membuat jantung berdetak lebih cepat, penonton seakan tidak sabar melihat Harry Potter vs. Lord Voldertmort, setelah menunggu sampai delapan film! Fiuhh..finally. Karakter Neville Longbottom (Matthew Lewis) merupakan karakter yang paling saya sukai dari film ini. Begitu juga pada saat terungkapnya asal usul Professor Severus Snape (Alan Rickman), menurut saya scene tersebut digambarkan dengan baik sekali, sangat menyentuh namun tidak cengeng.

Para pemain utama seperti Daniel, Rupert, dan Emma terlihat sekali memberikan performa yang juga 'habis-habisan'. Disamping penampilan mereka yang terlihat lebih mature, kualitas akting yang ada dalam Part 2 juga terasa lebih matang dan prima. Bukan hanya mereka, menurut saya seluruh cast yang terlibat dalam film ini sepertinya memang berusaha mati-matian membuat film ini menjadi film penutup yang baik. Dan mereka berhasil! Apalagi yang penonton harapkan? Ini sudah lebih dari cukup dan menurut saya David Yates sudah mampu memenuhi ekspektasi para penggemar. Saya pribadi sangat puas dengan film ini. Sedih juga rasanya menerima kenyataan kalau film ini akhirnya sudah selesai. Tapiii..well done! Overall, sangat amat memuaskan! :)





August 2, 2011

REVIEW: TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON




































"Remember this: you may lose your faith in us but never in yourselves."

BOO! Another Transformers movie.. Jujur, saya tidak terlalu bersemangat untuk menonton film ini karena film keduanya Transformers: Revenge of the Fallen (2009) sangat amat mengecewakan bagi saya. Film pertama Transformers (2007) menurut saya lumayan bagus dan tentu saja membuahkan ekspektasi yang tinggi pada film lanjutannya, akan tetapi Michael Bay mengecewakan saya dan juga para penggemar lainnya. Transformers 2 tidak berhasil dalam setiap sisi yang disajikan, setuju?! Maka ketika film ketiga ini muncul saya tidak menaruh ekspektasi apapun, apalagi Megan Fox yang sudah jadi 'icon' Transformers kini juga sudah digantikan dengan karakter baru yang diperankan model sexy Victoria's Secret, Rosie Huntington-Whiteley.

Tidak disangka, saya puas sekali dengan Transformers: Dark of the Moon. Michael Bay memang harus menggarap seperti ini. Ini lah yang diharapkan para penggemar Transformers, well at least saya pribadi berfikir demikian. Tapi saya juga harus mengatakan kalau anda mengharapkan akting yang luar biasa, plot fantastis, atau pendalaman pada tiap karakter mungkin anda akan kecewa. Ini Transformers! Entertaining movie! For me, this one is very entertaining. Saya beruntung bisa menyaksikan lebih awal pada media screening hari Minggu kemari di Senayan City XXI, 3D pula. Puas sekali. Saya keluar bioskop dengan decak kagum pada visual effects-nya yang luar biasa bagus didukung dengan adegan-adegan slow motion yang keren! This is what a Transformers movie should be!

Plot kurang lebih masih berlanjut dari dua film sebelumnya, Autobots dan Decepticons masih berperang melawan satu sama lain. Harapan satu-satunya berada di tangan jagoan kita, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang sekarang bersama pacar baru yang -woohoo- tidak kalah hot dari pacar sebelumnya, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Film dimulai dengan adegan tahun 1960-an dimana ternyata pada masa itu pesawat Autobot pernah kecelakan dan terdampar di bulan. Program Apollo 11 berhasil menemukan pesawat tersebut dan membawa beberapa sample ke bumi dan hal ini tentu saja dirahasiakan dengan sangat ketat. Lalu disisi lain Sam sedang frustasi karena tidak mempunyai pekerjaan. Apalagi pacarnya yang cantik bekerja di showroom mobil antik milik pengusaha tampan dan kaya raya, Dylan (Patrick Dempsey). Selanjutnya dimulai lah adegan-adegan aksi antara Decepticons yang ternyata mencari sisa-sisa pilar yang dulu berada di pesawat Autobot tersebut. Dengan pilar-pilar itu mereka bisa membawa seluruh isi planet Cybertron ke Bumi.

Mulai dari pertengahan film hingga akhir kita akan melihat peperangan special effects yang luar biasa keren. Special Effects dalam film ini merupakan yang terkeren diantara ketiganya. Trust me! Bay juga banyak menyelipkan dialog dan adegan lucu kali ini sehingga membuat penonton tidak merasa bosan melihat peperangan yang terus menerus. Akting Shia LaBeouf rasanya juga lebih total kali ini, namun sayang chemistry antara dirinya dan sang model Victoria's Secret kurang terjalin dengan baik. Hmm..akting Rosie Huntington-Whiteley memang terasa kaku, tapi apa yang anda harapkan dari seorang model lingerie yang baru pertama kali bermain film? Positifnya, saya rasa Rosie cukup berhasil menggantikan posisi Megan Fox dalam film ini. Lagipula kualitas akting Megan Fox juga tidak bagus-bagus amat. Sama-sama cuma bermodalkan wajah cantik dan tubuh sexy saja, lumayan lah daripada para pria melihat robot terus. :p

Intinya, jangan mengharapkan plot yang bagus dari film ini. Seperti yang semua orang tahu jagoan pada akhirnya pasti menang. Nikmati saja sajian special effects yang ada. Sangat jauh lebih baik dibanding film keduanya yang super sucks. Saran saya, tidak perlu juga menonton versi 3D karena tidak terlalu berasa juga. I think 2D is fine. Ribet juga soalnya pakai kacamata 3D, kepala koq rasanya malah pusing. Haha.. Menurut saya Michael Bay cukup berhasil kali ini dengan Transformers 3, at least adegan peperangan Autobots dan Decepticons asik sekali untuk dinikmati. Selipan humor didalamnya beberapa juga mengundang tawa. Jajaran cast juga asik, apalagi ditambah dengan kehadiran dua pemain peraih Oscar; Frances McDormand dan John Malkovich yang semakin meramaikan suasana. Overall, film ini menghibur koq meskipun durasinya lumayan panjang sekitar 157menit! :)