Showing posts with label COMEDY. Show all posts
Showing posts with label COMEDY. Show all posts

January 18, 2014

REVIEW: BLUE JASMINE

"Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there's only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming."

Okay first of all, let me say, this just might be Woody Allen's finest film. There was NO bad perfomance in this movie in my opinion. Terutama, Cate Blanchett! Gosh, she did an awesome job here! Sebelumnya saya sudah dengar bagaimana bagusnya akting Cate di Blue Jasmine, namun saya tidak menyangka bahwa aktingnya akan sebagus ini. Begitu selesai nonton film ini, saya langsung bergumam sendiri, 'Anjrit, bagus banget aktingnya!'. Worth for the Oscar for sure! Saya tidak bisa membayangkan aktris lain memainkan karakter Jasmine yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh Woody. Memang ia jagonya kalau menciptakan tokoh yang kompleks dan suka ngomong sendiri dengan isi kepala tumpah ruah, khas Woody Allen sekali.

Jasmine (Cate Blanchett) adalah seorang sosialita asal New York's Park Avenue. Suaminya, Hal (Alec Baldwin) adalah seorang pengusaha yang kaya raya. Namun kehidupan Jasmine berubah seketika begitu suaminya ternyata adalah seorang koruptor yang akhirnya masuk penjara dan bunuh diri disana. Pemerintah juga menyita hampir semua harta kekayaan miliknya. Karena mendadak miskin, terpaksa ia pergi ke San Fransisco untuk tinggal sementara dengan adiknya, Ginger (Sally Hawkins). Kehidupan Ginger sangatlah berbeda dengan Jasmine yang sangat mewah, ia hanya tinggal di sebuah apartemen kecil dengan kedua anaknya. Ginger sudah berpisah dengan suaminya, Augie (Andrew Dice Clay), dan ia sekarang sedang berpacaran dengan pria ugal-ugalan bernama Chili (Bobby Cannavale).

Jasmine tentu saja stress berat. Ia tidak punya pekerjaan, tidak ada pula lelaki kaya yang bisa dijadikannya prospek. Ia mulai mengalami gangguan saraf karena terlalu stress yang menyebabkan ia sering ngelantur ngomong sendiri kala mengingat masa lalu. "Some people, they don't put things behind so easily." Ia pun jadi bergantung pada pil penenang dan obat tidur. Belum lagi ia ketagihan pada alkohol. Kehidupannya hancur berantakan. Namun ia tetap saja 'tampil'. Bermodalkan baju, tas, sepatu, jaket, dan aksesoris mahalnya, ia tetap terlihat seperti wanita kaya yang juga masih tetap naik pesawat first class, meskipun sebenarnya ini hanya kamuflase saja. Gengsi pastinya berperan penting disini.

Cate Blanchett memerankan tokoh Jasmine dengan sangat realistis. Karakter Jasmine disini pastinya tidak disukai para penonton, namun tetap tidak bisa dipungkiri kalau penonton pun ikut iba sepanjang film. We just can't help but feel for her. Saya juga harus bilang kalau saya suka dengan semua outfit yang dipakai oleh Jasmine disini. All those designer dresses, cardigans, and handbags are just beautiful lol! Alec Baldwin juga pas sekali memerankan tokoh sang suami kaya yang terkesan sombong dan angkuh. Begitu juga dengan Sally Hawkins, yang karakternya sangat bertolak belakang dengan Jasmine. I love the contrast between the two. Peter Sarsgaard meski hanya muncul sebentar namun tetap punya esensi penting dalam keseluruhan film. Kehadiran Bobby Cannavale sebagai Chili juga membuat film ini semakin berwarna. Beberapa scene yang ada membuat saya tertawa dengan sajian black comedy ala Woody. Seperti yang saya bilang di awal, semua cast bermain dengan totalitasnya masing-masing.

Pada usianya yang sudah 77 tahun, Woody Allen sepertinya masih saja konsisten mengeluarkan paling tidak satu film setiap tahunnya. Ada yang bagus sekali, seperti Midnight in Paris (2010) -saya sangat suka film ini. Ada pula yang biasa saja dan ..hmm kurang bagus. Namun dengan kehadiran Blue Jasmine di tahun 2013, sekali lagi Woody Allen membuktikan kalau ia memang master-nya membuat film dan menulis cerita yang mempermainkan psikologi manusia. Emosional dan dramatis. Menyentuh dan membuat miris, namun tetap ada senyum didalamnya. Definitely one of his best movie in the last 20 years, and of course, one of my favourite too.






July 12, 2013

REVIEW: THE HEAT

Agent Sarah Ashburn: They're spandex, they just hold everything together.
Det. Shannon Mullins: Why? What's going to come popping out?

I really had fun watching The Heat! Siapa sangka kalau film ini bisa membuat seisi bioskop terhibur dan tertawa hampir di sepanjang film. Tema yang diangkat The Heat memang bukanlah sebuah tema yang baru, sudah banyak film dengan tema serupa, seperti sebut saja 21 Jump Street (2012); meski dengan gender yang berbeda. Bridemaids (2011) karya sutradara Paul Feig juga merupakan tontonan yang sangat menghibur, jadi tidak heran kalau kali ini Paul kembali memperlihatkan kepiawaiannya membuat film komedi lainnya. Terus terang saya malah lebih menyukai The Heat dibandingkan Bridesmaids, ada beberapa lelucon di Bridesmaids yang menurut saya sedikit berlebihan. The Heat memiliki komposisi keseluruhan yang pas.

Sarah Ashburn (Sandra Bullock) merupakan seorang agen FBI yang cemerlang. Ia memiliki insting yang kuat dan sudah banyak kasus-kasus yang dipecahkannya dengan mudah. Namun karena sikapnya yang arogan, ia tidak disukai oleh teman-temannya. Ketika ada kesempatan untuk kenaikan jabatan di kantor, ia langsung bersedia ketika disuruh sang atasan untuk menangani sebuah kasus yang berkaitan dengan pengedaran narkoba di Boston. Disana ia terpaksa harus bekerja sama dengan seorang detektif lokal bernama Shannon Mullins (Melissa McCarthy). Mullins bisa dibilang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Ashburn, ia jauh lebih 'gangster style', but still, she's great in what she's doing. Kedua karakter ini mau tidak mau bersatu guna memecahkan kasus tersebut, namun permusuhan yang terjadi diawal bisa saja berujung dengan persahabatan.

Chemistry, chemistry, chemistry! It's all about chemistry! Ini merupakan hal penting dalam The Heat, karena kalau antara Bullock dan McCarthy tidak tercipta jalinan chemistry yang sedemikian rupa, pastilah hasilnya akan berbeda. Sandra Bullock kembali membuktikan kalau jalur ini memang jalur yang sangat dinikmatinya, she ruled it! Melissa McCarthy juga untungnya tidak berlebihan disini, tadinya saya sedikit takut kalau ia akan terlalu over, alias 'maksa'. Namun ternyata dengan dipasangkannya kedua aktris ini, The Heat menjadi sebuah tontonan guilty pleasure yang sangat menghibur! Script yang ada juga patut dipuji, banyak jokes segar yang dihadirkan didalam film ini. Jadi meskipun tema dan jalan cerita biasa saja, jokes dan akting para pemainnya tidak akan membuat penonton kecewa. Lagi pula, ini film komedi, tidak perlu jalan cerita ribet yang membuat penonton pusing, just watch it and you'll be entertained.






June 17, 2013

FLASH BACK TO 1998: THE TRUMAN SHOW


"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!"

Pernahkan anda membayangkan kalau ternyata ada banyak orang yang sedang menonton anda saat ini? Bukan hanya saat ini saja, akan tetapi selama 24 jam penuh. Bagaimana kalau ternyata rumah nyaman yang anda tinggali, pekerjaan yang anda jalani, teman-teman anda, bahkan orangtua dan pasangan anda adalah bagian dari sebuah reality show paling terkenal di seluruh dunia dengan anda sebagai pemeran utamanya. Kedengarnya tidak terlalu buruk bukan? Tapi akan beda ceritanya kalau ternyata hanya anda lah satu-satunya orang yang tidak tahu sama sekali tentang konspirasi ini.

Bagi Truman Burbank (Jim Carrey), hidupnya seolah normal seperti orang-orang lainnya. Ia menjalani pekerjaannya sebagai seorang sales di sebuah perusahaan, memiliki sebuah rumah nyaman di daerah 'Seahaven', dan seorang istri cantik bernama Meryl (Laura Linney). Selama 30 tahun hidupnya, kegiatan Truman setiap harinya disiarkan secara langsung ke televisi dalam sebuah acara reality show terkenal "The Truman Show". Acara ini sangat disukai masyarakat, mereka menontonnya di restoran, di bar, di rumah, dimana saja. Bahkan para penonton juga bisa memesan langsung barang-barang yang ada dalam acara tersebut dalam 'Truman Catalog'.

Truman tidak pernah tau bahwa daerah 'Seahaven' hanyalah sebuah kubah besar yang di-set sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah kota yang normal dan rapi. Sampai suatu pagi sebuah lampu panggung jatuh dari langit dan ia mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Belum lagi ia tiba-tiba melihat sosok ayahnya muncul di tengah kota, padahal sang ayah telah meninggal dunia pada kecelakaan kapal di laut waktu ia kecil. Keanehan demi keanehan terus terjadi dan semakin lama hal ini semakin membuat Truman curiga. Sang pencipta acara, Christof (Ed Harris), mencoba mengendalikan kecurigaan Truman bahwa dunianya hanya berputar-putar dan orang-orang disekelilingnya hanyalan aktor dan aktris. Truman merasa ia harus melarikan diri dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini membuktikan bahwa sebuah ide yang gila dapat disajikan menjadi sebuah film yang luar biasa. Saya suka sekali ide original yang tersaji. Meski saya bukan fans Jim Carrey, namun harus saya akui kalau ia tampil beda disini, namun tidak meninggalkan sisi konyol yang memang menjadi ciri khasnya. Beberapa gambar dalam "The Truman Show" juga dibuat dalam perspektif yang menarik berbentuk elips, seperti mata manusia. Hal ini membuat film ini terasa lebih 'hidup'.

Saya juga merasa bahwa penempatan iklan dalam film ini juga menjadi hiburan tersendiri. Orang-orang terdekat Truman selalu mempromosikan berbagai item barang serta menyebut keuntungan dan kualitas khususnya sambil mengarah ke kamera. Hal ini menunjukkan bahwa "The Truman Show" bertindak sebagai acara televisi yang memang tidak pernah lepas dari iklan.

Pada akhirnya saya bisa mengatakan bahwa The Truman Show merupakan salah satu film favorit saya dengan ide-nya yang unik dan sarat akan peringatan tentang kekuatan media massa bahkan pada saat televisi belum menjadi begitu populer seperti sekarang ini. Film ini juga memiliki pesan bahwa semua orang memiliki hak untuk kebebasan dalam hidup dan juga membuat kita lebih menghargai hidup kita apa adanya. :)






October 29, 2011

REVIEW: MIDNIGHT IN PARIS




































"Nostalgia is denial - denial of the painful present."

Siapa yang tidak suka dengan kota Paris? Siapa juga yang tidak suka berfantasi? Kalau suka dengan keduanya, berarti Midnight in Paris adalah tontonan yang pasti akan menghibur anda. Saya bisa dibilang lumayan nge-fans dengan Woody Allen, meskipun tidak semua filmnya bagus dan sukses di pasaran. Tapi ada benang merah dari setiap film-film Woody yang sangat saya sukai, dialog-dialog 'pintar' khas Woody Allen lah yang selalu saya nantikan. Tiga besar film Woody yang paling saya suka adalah Annie Hall (1977), Match Point (2005), dan Vicky Cristina Barcelona (2009). Setelah menonton film terbarunya Midnight in Paris, list tiga besar tersebut pastinya akan bergeser, karena saya suka sekali dengan film ini! Saya suka dengan ide nostalgia yang diangkat Woody, belum lagi saya yang memang sangat jatuh cinta dengan kota Paris yang katanya paling romantis ini langsung terhipnotis sepanjang film oleh setting-an kota Paris yang berusaha ditonjolkan Woody. Film ini juga terasa sedikit berbeda dari film-film Woody Allen sebelumnya, but in a good way though. Buktinya Midnight in Paris sukses menjadi tontonan pembuka di Festival Cannes tahun ini dan lumayan sukses secara finansial.

Gil (Owen Wilson) dan Inez (Rachel McAdams) adalah sepasang kekasih yang sedang berlibur ke Paris sekaligus menemani orang tua Inez mengurus bisnis mereka disana. Gil adalah seorangscreenwriter Hollywood yang sukses, namun ia sedang berkutat dengan novel perdana yang menjadi impiannya. Gil selalu menyukai kota Paris, ia menganggap kalau Paris adalah kota yang tepat untuk seniman seperti dirinya. Bahkan, ia memiliki impian untuk tinggal di Paris setelah ia menikah nanti. Ia bahkan tidak keberatan berjalankaki di kota itu pada saat hujan, bahkan Gil merasa itulah saat-saat terbaik yang dinantikannya. Gil juga punya pemikiran bahwa pada masa1920-an pasti sangat asik apabila hidup dan tinggal di Paris, itu merupakan 'golden age' versi Gil.

Suatu malam pada saat Inez pergi ke club dengan teman-temannya, Gil lebih memilih untuk berjalan kaki di sepanjang jalanan Paris menuju hotelnya. Tepat tengah malam, ada sebuah mobil yang berhenti dan mengajaknya untuk bergabung. Tanpa pikir panjang Gil pun ikut dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika tiba di sebuah pesta, Gil mengamati keadaan sekitar. Terlihat suasana vintage yang sangat kental, dengan gaya busana dan tata rambut seperti jaman dulu. Namun yang membuat Gil kaget setengah mati adalah ketika ia disana berkenalan dengan nama-nama besar seperti Ernest Hemingway (Corey Stoll), F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston), Zelda Fitzgerald (Alison Pill), Cole Porter (Yves Heck), Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo), Salvator Dali (Adrien Brody), dll. Gil seperti kembali ke masa lalu, masa yang sangat ia impikan. Sejak hari itu, setiap tengah malam ia selalu bertemu dengan 'teman-teman' nostalgianya. Curhat dengan Fitzgerald, berkonsultasi tentang novel dengan Hemingway, mendapat petuah hidup dari Dali, sampai melihat langsung Picasso melukis.

Saya menonton Midnight in Paris tanpa mengetahui jalan ceritanya sama sekali. Saya belum membaca sinopsis dan tidak memiliki bayangan apapun tentang isi film ini. Terus terang saya tertarik sekali dengan judul dan posternya, namun entah mungkin karena pemeran utamanya adalah Owen Wilson, saya kurang begitu tertarik. Namun ternyata perlu saya akui kalau Owen Wilson adalah pilihan yang tepat sebagai Gil, ia membawakan karakter Gil dengan sangat natural. Minggu lalu saya memutuskan untuk mencoba menonton film ini karena faktor 'Paris' yang membuat penasaran dan nama besar Woody Allen disana. Olala..ternyata saya sangat menyukai ide cerita yang diangkat Woody dalam film ini! Terkadang nostalgia memang membawa perasaan menyenangkan tersendiri. Melihat karakter Gil yang sedang bernostalgia ke masa-masa golden age-nya, saya sepertinya juga merasa excited sendiri. Ada sisi menggelitik tersendiri ketika melihat karakter-karakter besar seperti Hemingway, Fitzgerald, Dali, Picasso, Porter, dll 'dihidupkan' kembali.

Kehadiran nama-nama yang sudar familiar di daftar pemeran pendukung juga membuat film ini semakin menarik. Marion Cotillard juga sukses mencuri perhatian dalam film ini. She is so-super-duper pretty! Latar belakang kota Paris dengan bentuk bangunan-bangunan yang menurut saya romantis itu sangat pas dengan tema nostalgia, apalagi didukung dengan pilihan-pilihan soundtrack yang sempurna. Saya juga suka dengan ending yang dipilih oleh Woody. Saya merasa kalau pada ujungnya nanti, dalam situasi apapun yang sedang kita alami, kita memang harus mengikuti kata hati (but use a little bit of your brain too, of course!). Semua ilusi atau apapun yang sedang dialami oleh karakter Gil sebenarnya merupakan jeritan hatinya selama ini, fantasi yang dijalaninya beberapa waktu terakhir di Paris menurut saya adalah refleksi dan komunikasi yang sedang berusaha ia keluarkan. Dengan berfantasi seperti itu Gil mendapatkan ketenangan dan kehadiran tokoh-tokoh favoritnya itu juga membuatnya lebih percaya diri dengan keputusan yang akan diambilnya. Midnight in Paris adalah salah satu film favorit saya tahun ini! Voilà! :) Ngomong-ngomong kapan yaa saya bisa berkunjung ke kota Paris? Hmm.. *ngarep* hahahaha..





October 22, 2011

REVIEW: FRIENDS WITH BENEFITS





































"Men and women can't be friends."

Belum lama rasanya saya menonton No Strings Attached yang diperankan oleh Ashton Kutcher dan Natalie Portman, kali ini masih pada tahun yang sama hadir lagi satu film dengan tema serupa, Friends with Benefits. Sang sutradara, Will Gluck, tahun 2010 lalu berhasil menyutradarai Easy A yang membuat akting Emma Stone dalam film tersebut mendapat pujian sana sini. Rasa penasaran lah yang membuat keinginan untuk segera menonton Friends with Benefit, apalagi Justin Timberlake dan Mila Kunis terlibat cinta lokasi dalam proses syuting film ini. Saya jadi tidak sabar melihat bagaimana chemistry yang dihasilkan. Tema filmnya sendiri memang tidak istimewa, bisa dibilang pasaran. Selain No Strings Attached, film tahun 1989 When Harry Met Sally juga membawa tema serupa dan sampai sekarang menurut saya film itu lah yang paling baik, salah satu film favorit saya!

Dylan (Justin Timberlake) adalah seorang editor yang baru saja pindah kerja ke New York. Di kota besar itu ia bertemu dengan Jamie (Mila Kunis) yang membantunya mendapatkan pekerjaan di salah satu media ternama disana. Keduanya baru saja putus cinta dan dalam waktu sekejap mereka sudah akrab dan menjadi teman baik. Akan tetapi karena memang dasarnya berbeda jenis kelamin, mereka sepakat untuk melangkah lebih jauh dari hubungan pertemanan yang sedang dijalin tersebut. Keduanya merasa sama-sama tertarik secara fisik satu sama lain, maka menurut mereka tidak ada salahnya mereka berhubungan sex tanpa menjalin hubungan asmara, hanya murni pertemanan saja. Kelanjutannya tanpa perlu saya spoiler panjang lebar disini pun pasti semua sudah bisa menduga-duga endingnya akan berujung seperti apa.

Klise memang, akan tetapi menurut saya Friends with Benefits lumayan sukses menghibur. Akting Justin Timberlake dan Mila Kunis disini bisa dibilang terlihat alami, lagipula adegan ranjang yang mereka lakoni juga terlihat alami. Seperti yang sudah diduga, chemistry yang terjalin antara mereka sangat terasa. Beberapa cameo ternama juga ikut memeriahkan film ini seperti Woody Harrelson, Richard Jenkins, Emma Stone, dll. Secara keseluruhan saya lumayan menyukai film ini, tidak sampai istimewa sekali, mungkin tidak akan saya ingat dalam jangka waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri juga kalau Friends with Benefits termasuk sebuah tontonan romcom yang sangat menghibur. Dialog-dialog 'cerdas' sepanjang film lumayan membuat penonton tersenyum. Satu hal lagi yang menonjol dari film ini adalah sisi modern yang ditonjolkan didalamnya, termasuk adegan-adegan yang lumayan vulgar, jadi jangan ajak adik yang masih dibawah umur untuk menonton film ini. Overall, I didn't love the film - but I liked and enjoyed it! :)





August 10, 2011

REVIEW: SOMETHING BORROWED




































"I thought guy like you would never like girl like me."

Something Borrowed diangkat dari sebuah novel percintaan karya Emily Giffin dengan judul yang sama. Layaknya sebuah film romantic comedy yang ringan, Something Borrowed juga tidak bermodalkan script luar biasa ataupun twist yang rumit, melainkan hanya menjadi sebuah tontonan yang manis. Saya pribadi sangat menyukai film ini, saya rasa para wanita lainnya juga akan menikmati alur cerita yang disuguhkan. Simple story, predictable ending, but very sweet and touching at the same time! Kehadiran Kate Hudson dan John Krasinski dengan kualitas akting mereka yang jempolan dalam film ini juga sangat membantu menambah poin plus pada keseluruhan film. Saya yang belum pernah membaca novelnya malah jadi ingin segera beli! :)

Rachel (Ginnifer Goodwin), seorang wanita yang biasa-biasa saja. Saat kuliah di jurusan hukum ia bertemu dengan seorang pria tampan bernama Dex (Colin Egglesfield). Mereka akrab satu sama lain dan diam-diam Rachel memendam perasaannya terhadap Dex. Akibat tidak percaya diri, Rachel hanya bisa pasrah ketika Dex 'direbut' oleh sahabatnya yang cantik dan sexy, Darcy (Kate Hudson). Sampai pada saat Dex dan Darcy sudah akan mempersiapkan pernikahan, Rachel malah tidak sengaja mengungkapkan perasaannya kepada Dex. Tidak disangka, Dex juga merasakan hal yang sama. Namun, Rachel berada pada keputusan yang sulit, apa ia harus memilih untuk memperjuangkan pria yang dicintainya namun menyakiti sahabat terbaiknya atau mundur agar sahabatnya bahagia namun dirinya lah yang menderita?

Beruntung Rachel memiliki sahabat yang baik dan sangat perduli dengannya. Ethan (John Krasinski) selalu memberikan masukan dan motivasi kepada Rachel, ia berharap kalau Rachel dapat mendorong Dex untuk membuat pilihan secepatnya karena Ethan tidak suka melihat sahabatnya seperti dipermainkan perasaannya oleh Dex. Namun, situasi yang terjadi memang rumit. Apalagi Rachel dan Darcy sudah bersahabat sejak kecil, meskipun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang tapi mereka sudah jelas sayang satu sama lain. Sulit memang ketika harus memilih antara cinta atau persahabatan.

Something Borrowed ternyata berhasil menjadi sebuah film romcom yang jauh lebih baik dari bayangan saya. Setiap karakter yang ada dalam film ini dimainkan dengan pas sekali oleh para aktor dan aktris yang ada. Saya sangat menikmati menonton film ini. Menurut saya cerita yang disajikan terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit apabila kita membayangkan ada di posisi sang pemeran utama. Secara keseluruhan menurut saya film ini lumayan berhasil menyajikan sebuah tontonan yang mudah dicerna namun tidak menjadi sebuah tontonan 'sampah'. Sisi komedi dan romantis didalamnya tersaji dengan seimbang. Satu hal lagi yang penting, John Krasinski semakin membuktikan kalau ia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Two tumbs up untuk aktingnya dalam film ini! Ohh well, mungkin saya tidak akan mengingat film ini sampai jangka waktu yang lama, namun saya tidak perduli karena saya sangat terkesan ketika selesai menontonnya. I enjoyed it so much! :)





April 28, 2011

REVIEW: EASY A



































"I had a horrible reputation."

Masih ingat dengan Mean Girls (2004)? Film remaja yang tergolong sukses itu dibintangi oleh Lindsay Lohan yang kala itu disebut-sebut sebagai 'the Hollywood rising star'. Mean Girls mengangkat tema di kalangan sekolah menengah atas dan segala permasalahannya, menurut saya film tersebut memang lucu, menghibur, dan yang paling penting 'jujur'. Kali ini Easy A hadir dengan menggandeng Emma Stone yang saat ini sedang naik daun dalam karirnya (Zombieland, Superbad, The House Bunny), mengambil tema yang hampir serupa dengan Mean Girls namun diceritakan dengan lebih agresif.

Emma Stone berperan sebagai Olive, seorang cewek 'biasa' di sekolahnya yang sama sekali tidak dilirik oleh lelaki, bahkan teman wanita pun sangat sedikit. Ia melakukan semua hal sendiri dan dibawah radar. Olive sudah pasti bukan cewek yang populer di sekolah, namun ia juga bukan the-biggest-loser disana. Ia hanya 'biasa'. Suatu hari, temannya Rhiannon (Alyson Michalka) mulai bertanya pada Olive tentang hubungan percintaannya dan tentu saja mengenai hubungan sex. Karena merasa terdesak, Olive berbohong dengan mengatakan kalau ia baru saja melakukan hubungan sex dengan seorang cowok kuliahan yang tampan. Sayang, Marianne (Amanda Bynes) tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan langsung menyebarkan gosip ke seantero sekolah. Sejak itu, Olive menjadi lumayan terkenal dan mulai dibicarakan orang.

Awalnya, Olive menyukai ketenaran yang mendadak itu, ia merasa senang karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal dirinya. Ia pun mulai merubah penampilannya menjadi lebih hot. Namun tidak disangka banyak teman pria di sekolahnya yang minta bantuan padanya untuk berpura-pura sudah berhubungan sex dengan mereka. Ada juga seorang gay yang ingin image-nya berubah dan akhirnya meminta bantuan Olive. Tentu saja semua tidak gratis, Olive meminta imbalan yang tidak muluk yaitu hanya sebuah gift card. Alhasil, banyak orang yang ingin meminta bantuan Olive secara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan keadaan semakin memanas dan Olive pun sudah mulai 'gerah' dengan hujatan teman-teman di sekolah tentang dirinya, bahkan Rhiannon pun mulai membencinya. Ia harus segera memutar otak dan berfikir bagaimana caranya agar keadaan kembali tenang seperti sedia kala.

Emma Stone terlihat sangat bersinar dalam film ini. Semua adegan yang diperankannya terlihat sangat total dan pas. Ia banyak menggunakan ekspresi-ekspresi pada wajahnya pada adegan komedi dan hal tersebut berhasil menghibur. Sepertinya Emma sangat paham bagaimana caranya membuat sebuah mimik yang tepat dengan perasaan dan pikirannya dalam film ini. Saya yakin sekali kalau Emma Stone akan menjadi aktris besar someday, asal ia tidak mengikuti jejak Lindsay Lohan. Hehe.. Apalagi Emma sebentar lagi akan bermain dalam film Spider-Man (2012) terbaru bersama Andrew Garfield dan berperan sebagai Gwen Stacy. Selain Emma, para pemeran pembantu seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Lisa Kudrow, dll juga semakin membuat film ini meriah dengan totalitas akting mereka masing-masing.

Keberhasilan Easy A sebagai sebuah film komedi bukan hanya dari sang pemeran utama saja melainkan dari script atau jalan cerita film ini sendiri. Dialog-dialog yang to-the-point dan agresif sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu sehingga sangat cocok dan terasa sangat modern ditonton oleh para remaja jaman sekarang. Saya pribadi merasa terhibur menonton film ini, jalan ceritanya terbilang unik, walau dengan dibumbui unsur sex namun tidak menjadi film esek-esek seperti film lokal kita. Silahkan hunting DVD-nya selagi film-film Hollywood sedang tidak masuk ke Indonesia. Lumayan untuk menghabiskan waktu di sore hari sambil ketawa-ketawa lihat si cantik Emma Stone. :)