Showing posts with label SCI-FI. Show all posts
Showing posts with label SCI-FI. Show all posts

August 11, 2014

REVIEW: GUARDIANS OF THE GALAXY

"They call themselves the Guardians of the Galaxy. What a bunch of a-holes."

Reaksi saya ketika pertama kali menonton trailer Guardians of the Galaxy? Boom!! Saya harus nonton film ini!! Trailernya terlihat sangat fun apalagi dengan kehadiran makhluk-makhluk aneh seperti raccoon dan si manusia pohon. Film ini diangkat dari salah satu komik best seller dari Marvel, saya sendiri belum pernah dengar tentang komik ini sebelumnya. Maklum bukan pecinta komik hehe.. Beruntung saya bisa menyaksikan film ini di Malaysia dua minggu lebih cepat daripada penayangannya di Indonesia tanggal 20 Agustus mendatang. Andddd..I loved it! It was a super fun experience in the cinema. Banyak adegan yang dijamin akan membuat penonton tertawa sangking konyolnya, seimbang dengan adegan action yang juga tidak kalah seru. Satu hal yang mencolok dari film ini adalah kehadiran lagu-lagu nostalgia yang tentunya menjadikan film ini lebih unik dibanding film superhero yang belakangan bertebaran di bioskop. You can even find a dancing scene here! Music and dance in a superhero movie? HELL YEAH.

Seorang bocah diculik dari Bumi menggunakan sebuah kapal luar angkasa dan dibawa ke sebuah planet yang jauh. Ia lalu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kerjanya adalah seorang 'pemulung' dan menyebut dirinya sebagai Star Lord (Chris Pratt). Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliling dengan kapal luar angkasanya dan menjadi benda yang bisa ia curi dan ia jual. Suatu hari ia menemukan sebuah bola dan sejak saat itu ia pun dikejar-kejar oleh banyak pihak sampai pada akhirnya ia dijebloskan kedalam penjara dan bertemu orang-orang yang nanti akan menjadi rekannya. Mereka adalah seekor raccoon bernama Rocket (Bradley Cooper), sidekick Rocket yang adalah sebuah manusia pohon bernama Groot (Vin Diesel), Drax the Destroyer (Dave Batista), dan Gamora (Zoe Saldana) yang adalah seorang pembunuh. Mereka berlima lalu berkerja sama untuk melarikan diri dari penjara dan berencana untuk mengamankan bola yang ternyata sangat berbahaya apabila jatuh ditangan pihak yang salah. Petualangan pun dimulai dan mereka menyebut diri mereka Guardians of the Galaxy!

Plot film ini sebetulnya tidak terlalu spesial. Sekelompok orang dipaksa untuk bergabung menjadi sebuah tim lalu yang pada awalnya saling tidak suka namun seiring berjalan waktu menjadi solid. Klise memang dan mudah ditebak ujungnya akan seperti apa. Namun dari trailer saja sebetulnya kita sudah bisa lihat bahwa Guardians of the Galaxy memang tidak sok serius dan ingin menjadi sebuah film superhero yang ringan dan konyol. Jalan cerita yang tidak terlalu rumit tentu bisa dinikmati oleh sebagian besar penonton. Dengan rumus formula plot yang sederhana, Marvel berhasil menyajikan sebuah tontonan yang super fun dan tentunya akan ditunggu kehadiran sekuelnya segera oleh para fans.

For me the characters make this film. Masing-masing karakter mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dan dengan mudah membuat penonton menyukai semua dari mereka. You can easily relate to these characters. Pertama, ada Star Lord yang diperankan Chris Pratt. Sepertinya Chris Pratt perlahan tapi pasti akan menjadi calon aktor favorit saya. Ia dapat dengan mudah memerankan karakter konyol dengan banyolan yang natural namun juga bisa seketika menjadi serius dan menyajikan action bringas. Karakter Star Lord sendiri sepertinya agak mirip dengan karakter Han Solo yang tidak sempurna dan sedikit nakal namun penonton tetap suka. Thumbs up untuk Chris Pratt yang berhasil menurunkan sekitar 36kg untuk film ini! Tetapi karakter favorit saya adalah Rocket!!! He is a total badass dan Bradley Cooper berhasil mengisi suara dengan sangat baik. He is quick witted, crazy with gun, and is a lot of fun to watch! I mean, who doesn't love a talking raccoon who swears and carries a loaded gun? Karakter Groot yang hanya berbicara satu kalimat saja juga dijamin mendapat tempat di hati para penonton, "I am Groot". Begitu juga dengan Gamora dan Drax.

Intinya, ini adalah film superhero yang sangat seru. It made me laugh and I got emotionally connected to the characters. Karakter yang ada dalam film ini adalah poin utama yang dijual, Chris Pratt dan teman-temannya membuat film ini sukses besar. Mereka semua berbeda, penuh dengan kepribadian, dan penonton dibuat benar-benar relate dengan karakternya di sepanjang film. Every characters steals the show! Pretty sure this movie is going to be one of the most entertaining movie this year! Thank you Marvel Studios. :)






October 8, 2013

REVIEW: GRAVITY 3D

"Do you dare to live in space?"

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang astronot. Membayangkan berkunjung ke luar angkasa saja sudah membuat saya bergidik ngeri. Namun tema yang diangkat Gravity karya Alfonso Cuaron ini berhasil membuat saya penasaran seperti apa sih rasanya hidup di luar angkasa. Saya tidak ingat apakah saya sempat bernafas di beberapa menit awal film, that's just how intense the opening minutes of Gravity are. Visualisasi yang spektakuler berhasil membuat penonton terkesima dengan gambar yang disajikan di layar, sound minim yang sengaja diciptakan pun semakin menambah ketegangan. Lama kelamaan intensitas yang sudah ada dari awal pun semakin terbangun dan membuat anda seakan sesak napas.

Gravity bercerita tentang Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney). Kowalski adalah seorang astronot veteran yang sudah sering berkunjung ke luar angkasa dan ia sangat menikmati hal itu. Stone adalah seorang ilmuwan yang sedang menjalani misi pertamanya ke luar angkasa untuk mengimplementasikan teknologi temuannya pada Hubble telescope. Lima belas menit pertama dalam film ini kita diperlihatkan apa yang mereka kerjakan di luar angkasa dan setelah itu terdengarlah pesan bahwa misi dibatalkan karena adanya serpihan pecahan pesawat Russia. Suasana menjadi tegang ketika Stone dan Kowalski tidak bisa lagi melakukan komunikasi ke Bumi, pesawat mereka pun hancur, dan mereka mau tidak mau harus mencari cara agar bisa selamat di luar angkasa. Dengan sisa oksigen yang tidak banyak, waktu yang sedikit, mereka berdua harus beradu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sandra Bullock dan George Clooney menurut saya merupakan pasangan yang pas, chemistry yang terjalin dalam film ini sangat terasa dan masing-masing dari mereka pun memberikan performa akting yang brilian. Karakter masing-masing yang dimainkan juga sepertinya menempel sempurna pada keduanya. Alfonso Cuaron sepertinya paham betul dengan apa yang ia buat kali ini, ia seperti menciptakan sebuah seni berlatar belakang angkasa luar. Indah sekali. Mulai dari movement para pemain, pemandangan bumi dari atas, luar angkasa itu sendiri, sampai pecahan-pecahan puing yang dasyat. Mungkin ada beberapa orang yang tidak terlalu suka menonton film tiga dimensi, but trust me for this one you gotta watch the 3D version. Luar angkasa, adalah latar belakang yang tepat untuk menunjukkan pada penonton bagaimana efek 3D dapat begitu terasa dalam sebuah film serta sensasi menonton yang amat beda.

Terus terang jalan cerita Gravity memang bisa dibilang sangat simple. Saya yakin bagi sebagian orang film ini akan terasa membosankan, I think with this kind of movie it's either you love it or you hate it. Namun menurut saya pribadi, kesuksesan sang sutradara mengemas film ini sedemikian rupa dengan hanya diisi oleh dua aktor merupakan sebuah prestasi yang cemerlang. Ide yang sederhana ini berhasil ia tuangkan menjadi sebuah tontonan berseni. It is very, very, intense. Kudos untuk pengamatan detail Cuaron pada suara yang ada dalam film ini, dimana hal ini semakin menambah ketegangan dalam setiap scene-nya. Gravity surely gave me a whole different cinematic experience.






June 17, 2013

FLASH BACK TO 1998: THE TRUMAN SHOW


"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!"

Pernahkan anda membayangkan kalau ternyata ada banyak orang yang sedang menonton anda saat ini? Bukan hanya saat ini saja, akan tetapi selama 24 jam penuh. Bagaimana kalau ternyata rumah nyaman yang anda tinggali, pekerjaan yang anda jalani, teman-teman anda, bahkan orangtua dan pasangan anda adalah bagian dari sebuah reality show paling terkenal di seluruh dunia dengan anda sebagai pemeran utamanya. Kedengarnya tidak terlalu buruk bukan? Tapi akan beda ceritanya kalau ternyata hanya anda lah satu-satunya orang yang tidak tahu sama sekali tentang konspirasi ini.

Bagi Truman Burbank (Jim Carrey), hidupnya seolah normal seperti orang-orang lainnya. Ia menjalani pekerjaannya sebagai seorang sales di sebuah perusahaan, memiliki sebuah rumah nyaman di daerah 'Seahaven', dan seorang istri cantik bernama Meryl (Laura Linney). Selama 30 tahun hidupnya, kegiatan Truman setiap harinya disiarkan secara langsung ke televisi dalam sebuah acara reality show terkenal "The Truman Show". Acara ini sangat disukai masyarakat, mereka menontonnya di restoran, di bar, di rumah, dimana saja. Bahkan para penonton juga bisa memesan langsung barang-barang yang ada dalam acara tersebut dalam 'Truman Catalog'.

Truman tidak pernah tau bahwa daerah 'Seahaven' hanyalah sebuah kubah besar yang di-set sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah kota yang normal dan rapi. Sampai suatu pagi sebuah lampu panggung jatuh dari langit dan ia mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Belum lagi ia tiba-tiba melihat sosok ayahnya muncul di tengah kota, padahal sang ayah telah meninggal dunia pada kecelakaan kapal di laut waktu ia kecil. Keanehan demi keanehan terus terjadi dan semakin lama hal ini semakin membuat Truman curiga. Sang pencipta acara, Christof (Ed Harris), mencoba mengendalikan kecurigaan Truman bahwa dunianya hanya berputar-putar dan orang-orang disekelilingnya hanyalan aktor dan aktris. Truman merasa ia harus melarikan diri dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Film ini membuktikan bahwa sebuah ide yang gila dapat disajikan menjadi sebuah film yang luar biasa. Saya suka sekali ide original yang tersaji. Meski saya bukan fans Jim Carrey, namun harus saya akui kalau ia tampil beda disini, namun tidak meninggalkan sisi konyol yang memang menjadi ciri khasnya. Beberapa gambar dalam "The Truman Show" juga dibuat dalam perspektif yang menarik berbentuk elips, seperti mata manusia. Hal ini membuat film ini terasa lebih 'hidup'.

Saya juga merasa bahwa penempatan iklan dalam film ini juga menjadi hiburan tersendiri. Orang-orang terdekat Truman selalu mempromosikan berbagai item barang serta menyebut keuntungan dan kualitas khususnya sambil mengarah ke kamera. Hal ini menunjukkan bahwa "The Truman Show" bertindak sebagai acara televisi yang memang tidak pernah lepas dari iklan.

Pada akhirnya saya bisa mengatakan bahwa The Truman Show merupakan salah satu film favorit saya dengan ide-nya yang unik dan sarat akan peringatan tentang kekuatan media massa bahkan pada saat televisi belum menjadi begitu populer seperti sekarang ini. Film ini juga memiliki pesan bahwa semua orang memiliki hak untuk kebebasan dalam hidup dan juga membuat kita lebih menghargai hidup kita apa adanya. :)






August 2, 2011

REVIEW: TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON




































"Remember this: you may lose your faith in us but never in yourselves."

BOO! Another Transformers movie.. Jujur, saya tidak terlalu bersemangat untuk menonton film ini karena film keduanya Transformers: Revenge of the Fallen (2009) sangat amat mengecewakan bagi saya. Film pertama Transformers (2007) menurut saya lumayan bagus dan tentu saja membuahkan ekspektasi yang tinggi pada film lanjutannya, akan tetapi Michael Bay mengecewakan saya dan juga para penggemar lainnya. Transformers 2 tidak berhasil dalam setiap sisi yang disajikan, setuju?! Maka ketika film ketiga ini muncul saya tidak menaruh ekspektasi apapun, apalagi Megan Fox yang sudah jadi 'icon' Transformers kini juga sudah digantikan dengan karakter baru yang diperankan model sexy Victoria's Secret, Rosie Huntington-Whiteley.

Tidak disangka, saya puas sekali dengan Transformers: Dark of the Moon. Michael Bay memang harus menggarap seperti ini. Ini lah yang diharapkan para penggemar Transformers, well at least saya pribadi berfikir demikian. Tapi saya juga harus mengatakan kalau anda mengharapkan akting yang luar biasa, plot fantastis, atau pendalaman pada tiap karakter mungkin anda akan kecewa. Ini Transformers! Entertaining movie! For me, this one is very entertaining. Saya beruntung bisa menyaksikan lebih awal pada media screening hari Minggu kemari di Senayan City XXI, 3D pula. Puas sekali. Saya keluar bioskop dengan decak kagum pada visual effects-nya yang luar biasa bagus didukung dengan adegan-adegan slow motion yang keren! This is what a Transformers movie should be!

Plot kurang lebih masih berlanjut dari dua film sebelumnya, Autobots dan Decepticons masih berperang melawan satu sama lain. Harapan satu-satunya berada di tangan jagoan kita, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang sekarang bersama pacar baru yang -woohoo- tidak kalah hot dari pacar sebelumnya, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Film dimulai dengan adegan tahun 1960-an dimana ternyata pada masa itu pesawat Autobot pernah kecelakan dan terdampar di bulan. Program Apollo 11 berhasil menemukan pesawat tersebut dan membawa beberapa sample ke bumi dan hal ini tentu saja dirahasiakan dengan sangat ketat. Lalu disisi lain Sam sedang frustasi karena tidak mempunyai pekerjaan. Apalagi pacarnya yang cantik bekerja di showroom mobil antik milik pengusaha tampan dan kaya raya, Dylan (Patrick Dempsey). Selanjutnya dimulai lah adegan-adegan aksi antara Decepticons yang ternyata mencari sisa-sisa pilar yang dulu berada di pesawat Autobot tersebut. Dengan pilar-pilar itu mereka bisa membawa seluruh isi planet Cybertron ke Bumi.

Mulai dari pertengahan film hingga akhir kita akan melihat peperangan special effects yang luar biasa keren. Special Effects dalam film ini merupakan yang terkeren diantara ketiganya. Trust me! Bay juga banyak menyelipkan dialog dan adegan lucu kali ini sehingga membuat penonton tidak merasa bosan melihat peperangan yang terus menerus. Akting Shia LaBeouf rasanya juga lebih total kali ini, namun sayang chemistry antara dirinya dan sang model Victoria's Secret kurang terjalin dengan baik. Hmm..akting Rosie Huntington-Whiteley memang terasa kaku, tapi apa yang anda harapkan dari seorang model lingerie yang baru pertama kali bermain film? Positifnya, saya rasa Rosie cukup berhasil menggantikan posisi Megan Fox dalam film ini. Lagipula kualitas akting Megan Fox juga tidak bagus-bagus amat. Sama-sama cuma bermodalkan wajah cantik dan tubuh sexy saja, lumayan lah daripada para pria melihat robot terus. :p

Intinya, jangan mengharapkan plot yang bagus dari film ini. Seperti yang semua orang tahu jagoan pada akhirnya pasti menang. Nikmati saja sajian special effects yang ada. Sangat jauh lebih baik dibanding film keduanya yang super sucks. Saran saya, tidak perlu juga menonton versi 3D karena tidak terlalu berasa juga. I think 2D is fine. Ribet juga soalnya pakai kacamata 3D, kepala koq rasanya malah pusing. Haha.. Menurut saya Michael Bay cukup berhasil kali ini dengan Transformers 3, at least adegan peperangan Autobots dan Decepticons asik sekali untuk dinikmati. Selipan humor didalamnya beberapa juga mengundang tawa. Jajaran cast juga asik, apalagi ditambah dengan kehadiran dua pemain peraih Oscar; Frances McDormand dan John Malkovich yang semakin meramaikan suasana. Overall, film ini menghibur koq meskipun durasinya lumayan panjang sekitar 157menit! :)





July 20, 2011

REVIEW: X-MEN FIRST CLASS




































"Before he was Professor X, he was Charles. Before he was Magneto, he was Erik."

X-Men First Class adalah awal dari semua film X-Men yang ada. Film ini digarap oleh sutradara terbaru favorit saya, Matthew Vaughn! Ini dia calon sutradara yang genius! Walau baru menyutradai empat judul film, tapi semuanya bagus. Kick-Ass (2010) tahun lalu menjadi salah satu film favorit saya. I really loveee that movie! Begitu tau kalau Vaughn yang menyutradarai X-Men dalam versi quasi-reboot (setengah reboot dan setengah prequel), tidak heran kalau saya langsung menaruh ekspektasi yang tinggi. Menunggu dan berharap kalau film ini akan tayang di Indonesia, namun sayang sekali tidak terwujud. Padahal saya sudah membayangkan akan melihat James McAvoy di layar lebar. Arghh! Sekarang saya dan para pecinta film lainnya harus berterima kasih kepada koneksi internet yang cepat dan dvd bajakan yang bikin kita tetap bisa menonton film-film terbaru Hollywood. Nanti kalau dvd original film ini sudah keluar pasti saya beli untuk masuk kedalam koleksi-koleksi saya.

Film ini bercerita tentang Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Leshnerr (Michael Fassbender) saat masih muda. Mereka adalah dua orang mutant yang memiliki kehidupan berbeda. Masa lalu Erik kelam, ketika ia masih kecil ibunya dibunuh didepan matanya oleh Sebastian Shaw (Kevin Bacon) guna memaksa Erik mengeluarkan kekuatan uniknya dalam mengendalikan besi. Erik tumbuh dalam suasana hati yang penuh amarah dan dendam pada Shaw. Berbeda dengan Charles sang telepatis yang tumbuh dengan baik di sebuah rumah besar, pada saat masih kecil ia bertemu dengan Raven (Jennifer Lawrence), seorang mutant yang bisa berubah bentuk. Mereka tumbuh bersama layaknya kakak beradik.

Setelah Charles menyandang gelar sebagai professor dalam bidang gen manusia, seorang detektif CIA bernama Moira (Rose Byrne) datang mencarinya dan meminta bantuannya mengungkap keanehan yang baru saja terjadi. Ternyata dalang dari masalah ini adalah Shaw, ia ingin mengaktifkan nuklir dan membuat peperangan terjadi. Dari misi ini Charles berkenalan dengan Erik yang sedang ingin membalas dendam pada Shaw. Mereka pun akhirnya akrab dan menjadi teman yang saling menolong. Para mutant muda pun dikumpulkan agar misi ini berjalan dengan sukses, karena Shaw juga didukung oleh para mutant hebat seperti Emma Frost (January Jones) dan Azazel (Jason Flemyng). Lalu mutant-mutant muda ini dilatih agar kekuatan mereka maksimal. Masing-masing juga mencari nama mutant yang cocok. Charles - Professor X, Erik - Magneto, Raven - Mystique, Hank – Beast (Nicholas Hoult), dll.

Seru sekali rasanya melihat awal mula X-Men terbentuk. Kita bisa melihat bahwa ternyata sebelum menjadi musuh bebuyutan, Professor X dan Magneto dulunya bersahabat. Saya sudah menonton keempat film sebelumnya dan saya bisa mengatakan kalau X-Men First Class adalah yang terbaik diantara semua. Tidak mudah membuat sebuah reboot, apalagi dalam film besar yang memiliki fanbase dimana-mana seperti X-Men. Tetapi Matthew Vaughn canggih sekali meramu First Class menjadi tontonan 'first class'. Meskipun semua pemainnya bukanlah para pemain lawas X-Men seperti Hugh Jackman, Patrick Stewart, Ian McKellen, Halle Berry, dan Anna Paquin, namun X-Men First Class malah terasa lebih fresh dengan kehadiran pemeran baru yang menurut saya sangat pas dengan karakter yang diperankan. Pemilihan James McAvoy sebagai Professor X dan Michael Fassbender sebagai Magneto muda benar-benar sebuah keputusan yang sempurna. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain lagi yang bisa berperan sebagus dan secocok mereka.

Terus terang saya menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini. Namun siapa sangka kalau X-Men First Class berhasil melaju jauh melampaui ekspektasi saya. Film ini sangat menghibur dan seru! Sayang sekali kita tidak bisa menyaksikan di layar lebar, padahal entertaining movie seperti ini paling pas kalau disaksikan di bioskop. Gaya Vaughn dengan tempo cepat namun alur yang jelas serta selipan humor di sela film sangat asik untuk ditonton. Bahkan bagi yang belum pernah menonton film X-Men sebelumnya saya yakin juga pasti bisa sangat menikmati. Film yang memiliki durasi sekitar 132menit ini sama sekali tidak terasa panjang, mungkin karena saya terlalu excited! Haha.. Ohh yaa..kehadiran Hugh Jackman sebagai cameo dalam film ini lumayan konyol dan mengundang tawa! Saya sudah pasti tidak sabar menunggu film-film Matthew Vaughn selanjutnya. Two tumbs up!





June 7, 2011

REVIEW: LIMITLESS




































“They say we can only access 20% of our brain. This lets you access all of it.”

Limitless ini diangkat dari sebuah novel berjudul ‘The Dark Fields’ karangan seorang penulis asal Irlandia bernama Alan Glynn. Ide cerita yang ditulis Alan ini menurut saya betul-betul menarik. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, namun film yang disutradarai oleh Neil Burger (The Illusionist) ini semenarik ide ceritanya. Terlebih pilihan Bradley Cooper sebagai pemeran utama yang terlihat sangat cocok sekali dan semakin member daya tarik khusus bagi film ini. Pengemasan filmnya sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa, namun harus diakui kalau Limitless memang sangat menghibur dan kembali lagi ke yang saya tuliskan di awal, ide ceritanya juara. Sebuah pil yang bisa membuat kita mengakses otak kita secara optimal, wow, siapa yang tidak mau NZT?

Eddie Morra (Bradley Cooper) adalah seorang penulis asal New York. Ia bukanlah seorang penulis hebat dan mempunyai buku ‘best seller’, Eddie tinggal di sebuah kamar sewaan yang amat berantakan, Ia bahkan belum menuliskan sepatah kata pun untuk buku yang ingin diselesaikannya. Naasnya lagi, Ia juga baru saja diputus oleh sang pacar, Lindy (Abbie Cornish), yang bekerja sebagai seorang editor. Lindy merasa hidup Eddie sudah terlalu berantakan, apalagi Eddie tidak mempunyai penghasilan sama sekali berhubung bukunya tak kunjung selesai. Hidupnya yang berantakan itu juga tercermin dalam penampilan Eddie sehari-hari; rambut gondrong tidak beraturan, gaya pakaian asal-asalan, wajah kusam.

Suatu hari Eddie secara tidak sengaja bertemu dengan mantan adik iparnya dulu, Vernon (Johnny Whitworth). Mereka duduk santai sambil mengobrol dan Eddie menceritakan tentang kebuntuan ide yang sedang dialaminya. Vernon lalu menawarinya sebuah obat bernama NZT yang ia sebut bisa membuat otak manusia yang tadinya hanya bekerja 20% menjadi 100%. Eddie awalnya menolak, namun karena tahu sebutir obat tersebut harganya mahal dan juga ada rasa penasaran, Ia akhirnya meminum obat tersebut. Sesaat setelah meminum NZT, BAMMM – Eddie langsung merasa menjadi pintar seketika. Bahkan bisa dikatakan genius. Semua yang ia pelajari dapat dengan cepat dikuasai, Eddie merasa pengetahuannya menjadi tidak terbatas.

Kegeniusan Eddie membuat berita dengan cepat menyebar, sampai akhirnya seorang pengusaha besar Carl Van Loon (Robert De Niro) mengundang Eddie untuk bertemu dan berniat ingin menjadikannya sebagai asisten guna meraih uang yang lebih banyak lagi. Kehidupan Eddie menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya; Ia membeli apartemen mewah, mendapatkan Lindy kembali, bahkan menggadakan uangnya terasa sangat mudah dalam bidang pasar modal dengan kegeniusannya itu. Namun disaat semua terasa sangat sempurna bagi Eddie, ia mulai merasakan efek samping yang mematikan dari NZT. Belum lagi banyak orang yang ingin merebut NZT dari tangannya.

Bradley Cooper adalah bintang yang bersinar dalam Limitless. Ia berhasil berperan sebagai Eddie Mora yang urakan, jobless, uring-uringan, Ia juga sangat berhasil memerankan Eddie Mora yang rapi, sukses, genius. Transformasi tersebut diekspresikan oleh Bradley Cooper dengan luar biasa meyakinkan; penonton bisa merasakan rasa percaya diri yang seketika datang dalam diri Eddie ketika ia meminum NZT. Bravo, Bradley! Kehadiran Robert De Niro dan Abbie Cornish juga terasa pas sekali. Kehadiran Limitless membuat kita lega karena masih bisa menonton film bagus dan menghibur di layar lebar Indonesia. Dengan ide cerita dan dialog yang pintar, Limitless tentu saja masuk daftar ‘must-watch’ anda.





June 2, 2011

REVIEW: SOURCE CODE




































“What would you do if you knew you only had one minute to live?”

Setelah istirahat lumayan lama dari kegiatan menulis review di blog dan juga setelah ‘melarikan diri’ selama tiga minggu ke luar kota, akhirnya nafsu menulis saya kembali datang. Bioskop kita memang belum menayangkan film-film Hollywood yang masuk kedalam MPAA, akan tetapi kehadiran Source Code memang seperti angin sejuk dikala film-film kuntilanak berterbaran di layar lebar. Kemalasan meng-update blog sebetulnya juga dikarenakan kekesalan saya dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, semestinya sekarang bioskop lagi ramai dengan antrian sekuel Pirates of the Caribbean, Kung Fu Panda 2, dan The Hangover 2! Belum lagi film-film bagus yang sudah begitu saja terlewatkan seperti I am Number Four dan Fast Five! Saya hanya berharap masalah tersebut bisa cepat mendapatkan jalan keluar supaya kita bisa menonton film yang fresh from the oven lagi. Btw, review Source Code saya kali ini memang lumayan telat, tapi better late than never, right?

Source Code disutradarai oleh Duncan Jones yang sukses dengan debut film indie-nya pada tahun 2009, Moon. Duncan Jones yang juga adalah anak dari musisi terkenal David Bowie sepertinya kali ini kian memantapkan langkahnya sebagai sutradara Hollywood dengan karya terbarunya di tahun 2011. Sepertinya Jones merupakan penggemar berat genre science fiction, karena tidak berbeda dengan film terdahulunya, Source Code juga kurang lebih berada di genre yang sama. Bermodalkan Jake Gylenhaal dan Vera Farmiga yang bermain sangat baik dari film ini, Source Code menjadi sebuah film yang sudah pasti tidak akan membuat para penikmat film sci-fi kecewa.

Kapten Colter Stevens (Jake Gylenhaal) adalah seorang pilot helicopter Angkatan Darat AS yang sedang ditugaskan ke Afganistan. Namun tiba-tiba ia terbangun dan menemukan bahwa dirinya telah menjadi bagian dari percobaan yang dilakukan pemerintah. Ia diminta untuk menyisihkan dulu kebingungannya guna melayani negara dan membantu mencegah bencana. Sebuah bom telah meledak pada pagi itu pada kereta di Chicago dan pembom telah mengancam akan meledakkan bom yang lebih besar lagi di jantung kota. Tidak ada petunjuk siapa yang berada di belakang aksi terorisme ini, sehingga proyek baru dan rahasia yang diberi nama ‘Source Code’ akhirnya diaktifkan.

‘Source Code’ adalah sebuah program yang memungkinkan subjek tes untuk berada pada delapan menit terakhir di kehidupan orang tertentu. Teorinya adalah bahwa setiap orang yang baru meninggal masih memiliki memori jangka pendek yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dalam siklus delapan menit terakhir sebelum kematiannya. Program ini memungkinkan subjek tes untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitar objek, namun itu semua bukanlah realita, bukan juga bayangan, semua terasa nyata ketika dijalani, hanya saja apapun yang terjadi dalam ‘Source Code’ tetap tidak dapat mempengaruhi masa lalu ataupun masa sekarang, subjek tes hanya dapat mencari informasi yang dibutuhkan.

Saya menyukai film ini, akan tetapi memang ada beberapa hal yang terasa kurang logic. Film ini juga tidak menjabarkan secara detail tentang sistem ‘Source Code’ yang dijalankan, mungkin saja itu adalah pilihan terbaik daripada malah membuat penonton pusing nantinya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan tentang logic atau tidaknya film ini, yang pasti nilai orisinalitas menjadi poin utama. Ending film ini juga berhasil membuat penonton bertanya-tanya. Sutradara Duncan Jones sepertinya akan menjadi calon sutradara jenius Hollywood selanjutnya, kita tunggu saja proyek Jones selanjutnya. Begitu juga dengan Jake Gylenhaal yang lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam dalam filmnya kali ini, setelah terakhir ia juga bermain sangat baik dalam Love and Other Drugs (2010). Apalagi dapat bonus penampilan Jake yang good-looking! Overall, Source Code sayang untuk dilewatkan begitu saja. Simply recommended!