June 7, 2011

REVIEW: LIMITLESS




































“They say we can only access 20% of our brain. This lets you access all of it.”

Limitless ini diangkat dari sebuah novel berjudul ‘The Dark Fields’ karangan seorang penulis asal Irlandia bernama Alan Glynn. Ide cerita yang ditulis Alan ini menurut saya betul-betul menarik. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, namun film yang disutradarai oleh Neil Burger (The Illusionist) ini semenarik ide ceritanya. Terlebih pilihan Bradley Cooper sebagai pemeran utama yang terlihat sangat cocok sekali dan semakin member daya tarik khusus bagi film ini. Pengemasan filmnya sendiri sebetulnya tidak terlalu istimewa, namun harus diakui kalau Limitless memang sangat menghibur dan kembali lagi ke yang saya tuliskan di awal, ide ceritanya juara. Sebuah pil yang bisa membuat kita mengakses otak kita secara optimal, wow, siapa yang tidak mau NZT?

Eddie Morra (Bradley Cooper) adalah seorang penulis asal New York. Ia bukanlah seorang penulis hebat dan mempunyai buku ‘best seller’, Eddie tinggal di sebuah kamar sewaan yang amat berantakan, Ia bahkan belum menuliskan sepatah kata pun untuk buku yang ingin diselesaikannya. Naasnya lagi, Ia juga baru saja diputus oleh sang pacar, Lindy (Abbie Cornish), yang bekerja sebagai seorang editor. Lindy merasa hidup Eddie sudah terlalu berantakan, apalagi Eddie tidak mempunyai penghasilan sama sekali berhubung bukunya tak kunjung selesai. Hidupnya yang berantakan itu juga tercermin dalam penampilan Eddie sehari-hari; rambut gondrong tidak beraturan, gaya pakaian asal-asalan, wajah kusam.

Suatu hari Eddie secara tidak sengaja bertemu dengan mantan adik iparnya dulu, Vernon (Johnny Whitworth). Mereka duduk santai sambil mengobrol dan Eddie menceritakan tentang kebuntuan ide yang sedang dialaminya. Vernon lalu menawarinya sebuah obat bernama NZT yang ia sebut bisa membuat otak manusia yang tadinya hanya bekerja 20% menjadi 100%. Eddie awalnya menolak, namun karena tahu sebutir obat tersebut harganya mahal dan juga ada rasa penasaran, Ia akhirnya meminum obat tersebut. Sesaat setelah meminum NZT, BAMMM – Eddie langsung merasa menjadi pintar seketika. Bahkan bisa dikatakan genius. Semua yang ia pelajari dapat dengan cepat dikuasai, Eddie merasa pengetahuannya menjadi tidak terbatas.

Kegeniusan Eddie membuat berita dengan cepat menyebar, sampai akhirnya seorang pengusaha besar Carl Van Loon (Robert De Niro) mengundang Eddie untuk bertemu dan berniat ingin menjadikannya sebagai asisten guna meraih uang yang lebih banyak lagi. Kehidupan Eddie menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya; Ia membeli apartemen mewah, mendapatkan Lindy kembali, bahkan menggadakan uangnya terasa sangat mudah dalam bidang pasar modal dengan kegeniusannya itu. Namun disaat semua terasa sangat sempurna bagi Eddie, ia mulai merasakan efek samping yang mematikan dari NZT. Belum lagi banyak orang yang ingin merebut NZT dari tangannya.

Bradley Cooper adalah bintang yang bersinar dalam Limitless. Ia berhasil berperan sebagai Eddie Mora yang urakan, jobless, uring-uringan, Ia juga sangat berhasil memerankan Eddie Mora yang rapi, sukses, genius. Transformasi tersebut diekspresikan oleh Bradley Cooper dengan luar biasa meyakinkan; penonton bisa merasakan rasa percaya diri yang seketika datang dalam diri Eddie ketika ia meminum NZT. Bravo, Bradley! Kehadiran Robert De Niro dan Abbie Cornish juga terasa pas sekali. Kehadiran Limitless membuat kita lega karena masih bisa menonton film bagus dan menghibur di layar lebar Indonesia. Dengan ide cerita dan dialog yang pintar, Limitless tentu saja masuk daftar ‘must-watch’ anda.





June 2, 2011

REVIEW: SOURCE CODE




































“What would you do if you knew you only had one minute to live?”

Setelah istirahat lumayan lama dari kegiatan menulis review di blog dan juga setelah ‘melarikan diri’ selama tiga minggu ke luar kota, akhirnya nafsu menulis saya kembali datang. Bioskop kita memang belum menayangkan film-film Hollywood yang masuk kedalam MPAA, akan tetapi kehadiran Source Code memang seperti angin sejuk dikala film-film kuntilanak berterbaran di layar lebar. Kemalasan meng-update blog sebetulnya juga dikarenakan kekesalan saya dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, semestinya sekarang bioskop lagi ramai dengan antrian sekuel Pirates of the Caribbean, Kung Fu Panda 2, dan The Hangover 2! Belum lagi film-film bagus yang sudah begitu saja terlewatkan seperti I am Number Four dan Fast Five! Saya hanya berharap masalah tersebut bisa cepat mendapatkan jalan keluar supaya kita bisa menonton film yang fresh from the oven lagi. Btw, review Source Code saya kali ini memang lumayan telat, tapi better late than never, right?

Source Code disutradarai oleh Duncan Jones yang sukses dengan debut film indie-nya pada tahun 2009, Moon. Duncan Jones yang juga adalah anak dari musisi terkenal David Bowie sepertinya kali ini kian memantapkan langkahnya sebagai sutradara Hollywood dengan karya terbarunya di tahun 2011. Sepertinya Jones merupakan penggemar berat genre science fiction, karena tidak berbeda dengan film terdahulunya, Source Code juga kurang lebih berada di genre yang sama. Bermodalkan Jake Gylenhaal dan Vera Farmiga yang bermain sangat baik dari film ini, Source Code menjadi sebuah film yang sudah pasti tidak akan membuat para penikmat film sci-fi kecewa.

Kapten Colter Stevens (Jake Gylenhaal) adalah seorang pilot helicopter Angkatan Darat AS yang sedang ditugaskan ke Afganistan. Namun tiba-tiba ia terbangun dan menemukan bahwa dirinya telah menjadi bagian dari percobaan yang dilakukan pemerintah. Ia diminta untuk menyisihkan dulu kebingungannya guna melayani negara dan membantu mencegah bencana. Sebuah bom telah meledak pada pagi itu pada kereta di Chicago dan pembom telah mengancam akan meledakkan bom yang lebih besar lagi di jantung kota. Tidak ada petunjuk siapa yang berada di belakang aksi terorisme ini, sehingga proyek baru dan rahasia yang diberi nama ‘Source Code’ akhirnya diaktifkan.

‘Source Code’ adalah sebuah program yang memungkinkan subjek tes untuk berada pada delapan menit terakhir di kehidupan orang tertentu. Teorinya adalah bahwa setiap orang yang baru meninggal masih memiliki memori jangka pendek yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dalam siklus delapan menit terakhir sebelum kematiannya. Program ini memungkinkan subjek tes untuk menjelajahi dan berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitar objek, namun itu semua bukanlah realita, bukan juga bayangan, semua terasa nyata ketika dijalani, hanya saja apapun yang terjadi dalam ‘Source Code’ tetap tidak dapat mempengaruhi masa lalu ataupun masa sekarang, subjek tes hanya dapat mencari informasi yang dibutuhkan.

Saya menyukai film ini, akan tetapi memang ada beberapa hal yang terasa kurang logic. Film ini juga tidak menjabarkan secara detail tentang sistem ‘Source Code’ yang dijalankan, mungkin saja itu adalah pilihan terbaik daripada malah membuat penonton pusing nantinya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan tentang logic atau tidaknya film ini, yang pasti nilai orisinalitas menjadi poin utama. Ending film ini juga berhasil membuat penonton bertanya-tanya. Sutradara Duncan Jones sepertinya akan menjadi calon sutradara jenius Hollywood selanjutnya, kita tunggu saja proyek Jones selanjutnya. Begitu juga dengan Jake Gylenhaal yang lagi-lagi meninggalkan kesan mendalam dalam filmnya kali ini, setelah terakhir ia juga bermain sangat baik dalam Love and Other Drugs (2010). Apalagi dapat bonus penampilan Jake yang good-looking! Overall, Source Code sayang untuk dilewatkan begitu saja. Simply recommended!





April 28, 2011

REVIEW: EASY A



































"I had a horrible reputation."

Masih ingat dengan Mean Girls (2004)? Film remaja yang tergolong sukses itu dibintangi oleh Lindsay Lohan yang kala itu disebut-sebut sebagai 'the Hollywood rising star'. Mean Girls mengangkat tema di kalangan sekolah menengah atas dan segala permasalahannya, menurut saya film tersebut memang lucu, menghibur, dan yang paling penting 'jujur'. Kali ini Easy A hadir dengan menggandeng Emma Stone yang saat ini sedang naik daun dalam karirnya (Zombieland, Superbad, The House Bunny), mengambil tema yang hampir serupa dengan Mean Girls namun diceritakan dengan lebih agresif.

Emma Stone berperan sebagai Olive, seorang cewek 'biasa' di sekolahnya yang sama sekali tidak dilirik oleh lelaki, bahkan teman wanita pun sangat sedikit. Ia melakukan semua hal sendiri dan dibawah radar. Olive sudah pasti bukan cewek yang populer di sekolah, namun ia juga bukan the-biggest-loser disana. Ia hanya 'biasa'. Suatu hari, temannya Rhiannon (Alyson Michalka) mulai bertanya pada Olive tentang hubungan percintaannya dan tentu saja mengenai hubungan sex. Karena merasa terdesak, Olive berbohong dengan mengatakan kalau ia baru saja melakukan hubungan sex dengan seorang cowok kuliahan yang tampan. Sayang, Marianne (Amanda Bynes) tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan langsung menyebarkan gosip ke seantero sekolah. Sejak itu, Olive menjadi lumayan terkenal dan mulai dibicarakan orang.

Awalnya, Olive menyukai ketenaran yang mendadak itu, ia merasa senang karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengenal dirinya. Ia pun mulai merubah penampilannya menjadi lebih hot. Namun tidak disangka banyak teman pria di sekolahnya yang minta bantuan padanya untuk berpura-pura sudah berhubungan sex dengan mereka. Ada juga seorang gay yang ingin image-nya berubah dan akhirnya meminta bantuan Olive. Tentu saja semua tidak gratis, Olive meminta imbalan yang tidak muluk yaitu hanya sebuah gift card. Alhasil, banyak orang yang ingin meminta bantuan Olive secara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan keadaan semakin memanas dan Olive pun sudah mulai 'gerah' dengan hujatan teman-teman di sekolah tentang dirinya, bahkan Rhiannon pun mulai membencinya. Ia harus segera memutar otak dan berfikir bagaimana caranya agar keadaan kembali tenang seperti sedia kala.

Emma Stone terlihat sangat bersinar dalam film ini. Semua adegan yang diperankannya terlihat sangat total dan pas. Ia banyak menggunakan ekspresi-ekspresi pada wajahnya pada adegan komedi dan hal tersebut berhasil menghibur. Sepertinya Emma sangat paham bagaimana caranya membuat sebuah mimik yang tepat dengan perasaan dan pikirannya dalam film ini. Saya yakin sekali kalau Emma Stone akan menjadi aktris besar someday, asal ia tidak mengikuti jejak Lindsay Lohan. Hehe.. Apalagi Emma sebentar lagi akan bermain dalam film Spider-Man (2012) terbaru bersama Andrew Garfield dan berperan sebagai Gwen Stacy. Selain Emma, para pemeran pembantu seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Lisa Kudrow, dll juga semakin membuat film ini meriah dengan totalitas akting mereka masing-masing.

Keberhasilan Easy A sebagai sebuah film komedi bukan hanya dari sang pemeran utama saja melainkan dari script atau jalan cerita film ini sendiri. Dialog-dialog yang to-the-point dan agresif sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu sehingga sangat cocok dan terasa sangat modern ditonton oleh para remaja jaman sekarang. Saya pribadi merasa terhibur menonton film ini, jalan ceritanya terbilang unik, walau dengan dibumbui unsur sex namun tidak menjadi film esek-esek seperti film lokal kita. Silahkan hunting DVD-nya selagi film-film Hollywood sedang tidak masuk ke Indonesia. Lumayan untuk menghabiskan waktu di sore hari sambil ketawa-ketawa lihat si cantik Emma Stone. :)





April 9, 2011

REVIEW: LOVE & OTHER DRUGS



































"You meet thousands of people and none of them really touch you. And then you meet one person and your life is changed forever."

Love & Other Drugs disutradarai oleh Edward Zwick. Salah satu film karya Zwick sebelumnya yang saya suka adalah Blood Diamond (2006), diperankan Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou. Selain itu, Zwick juga pernah menyutradai film The Last Samurai (2003) dan Defiance (2008). Sepertinya kali ini Edward Zwick putar haluan dan memilih untuk menggarap film bergenre komedi romantis. Menggandeng pasangan Hollywood yang sedap dipandang mata dan sedang naik daun, Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway. Pilihan yang tepat sekali menurut saya. Sewaktu pertama kali melihat promo film ini; poster dan trailer, saya langsung menyimpulkan dengan tiga kata: 'Hot. Hot. Hot.'!

Ya, Love & Other Drugs memang menyuguhkan banyak adegan seks, bahkan Anne Hathaway pun tampil nude beberapa kali dalam film ini. Saya sendiri sudah tidak heran dengan penampilan 'polos' Anne, karena sebelumnya memang ia sudah sering begitu. Tapi, trust my words girls; Jake Gylenhaal kelihatan ganteng banget disini! Beda! Adil sekali, para cowok bisa puas cuci mata melihat Anne Hathaway yang super sexy, cewek pun puas lihat si charming Jake Gylenhaal. Semua senang. Hehe.. Tapi dibalik semua unsur-unsur yang menonjolkan sisi vulgar, sebetulnya film ini memang bagus juga untuk ukuran sebuah romantic comedy. Tidak istimewa sih, tapi lumayan sebagai tontonan waktu luang. Sweet. Sexy.

Jamie Randall (Jake Gylenhaal) adalah seorang playboy yang baru saja pindah pekerjaan dari seorang sales di toko elektronik menjadi sales obat Viagra keluaran perusahaan farmasi besar, Pfizer. Bermodalkan ketampanan dan kharismanya tentu saja Jamie dengan mudah merayu para perawat di rumah sakit agar mengizinkannya menaruh sample obat. Ia bahkan berhasil membujuk Dr. Stan Knight (Hank Azaria) agar mau membantunya. Tidak disengaja pada saat menemani Dr. Knight praktek, Jamie bertemu dengan Maggie Murdock (Anne Hathaway). Maggie adalah gadis muda cantik yang menderita penyakit parkinson stage I. Jamie pun langsung suka pada Maggie dan mengejarnya mati-matian. Sebelumnya, menggaet wanita bukanlah hal sulit bagi Jamie, bahkan para wanita gampang saja diajaknya 'tidur'. Mendekati Maggie tidak mudah, namun dengan sedikit usaha akhirnya mereka pun berujung di 'ranjang'.

Awalnya hubungan Jamie dan Maggie murni hanya sebatas partner seks saja, mereka berdua pun telah menyepakati hal itu. Namun lambat laun perasaan mulai timbul di hati Jamie, ia yang selama ini tidak pernah perduli dengan siapapun merasa terlanjur perduli dengan Maggie, ia jatuh cinta pada gadis itu. Maggie yang tidak percaya diri karena penyakit parkinson yang dideritanya ketakutan ketika tahu kalau Jamie mulai jatuh cinta padanya, ia malah bertingkah aneh dan menjauh. Sebelumnya memang Maggie pernah punya pengalaman buruk dalam percintaan, jadi bisa dibilang ia takut untuk memulai lagi. Jamie tentu tidak putus asa, rasa yang sudah terlanjur ada dalam hatinya tidak mungkin ia hapus begitu saja. Ia pun berusaha mengambil hati Maggie dan menyakinkannya kalau ia menerima Maggie apa adanya, meski Maggie sakit sekalipun.

Kalau membaca sinopsisnya memang terkesan klise, tapi Love & Other Drugs beruntung punya Jake Gylenhaal dan Anne Hathaway yang bermain lepas tanpa beban. Adegan-adegan intim dalam film ini pun mereka lewati dengan chemistry yang terjalin dengan sangat baik, tidak kaku sama sekali. Para pemeran lainnya seperti Hank Azaria, Josh Gad, Oliver Platt, dll juga bermain baik. Beberapa komedi yang diselipkan pada scenes kakak beradik Jamie dan Josh Randall juga sangat lucu dan membuat saya tertawa. Saya tidak membanggakan jalan ceritanya, menurut saya terlalu biasa. Tapi saya lumayan senang dengan penggarapan film ini yang menurut saya 'unik', menggabungkan sebuah sisi romantisme dengan erotisme tapi tanpa terkesan menjijikkan atau murahan. Hal ini berhubungan dengan poin yang tadi telah saya sebutkan, pemeran utama dalam film ini memang jempolan. Tidak ada salahnya menonton film ini sebagai hiburan semata, atau paling tidak cuci mata. :p





April 5, 2011

REVIEW: MORNING GLORY



































"Breakfast TV Just Got Interesting"

Roger Michell terkenal dengan salah satu karya komedi romantis terbaiknya pada tahun 1999 yang dibintangi Hugh Grant dan Julia Roberts, berjudul Notting Hill. Kali ini Morning Glory menggandeng nama-nama besar Hollywood seperti Harrison Ford, Diane Keaton, Rachel McAdams, Patrick Wilson, dan Jeff Goldblum. Tetap berada di jalur komedi romantis namun berlatarbelakang industri pertelevisian, bagi saya pribadi hal tersebut sangat menarik. Penulis film ini, Aline Brosh McKenna merupakan penulis skenario The Devil Wears Prada (2006) dan juga menulis cerita dalam film 27 Dresses (2008), jadi wajar kalau saya menaruh harapan lebih pada Morning Glory. Ternyata dugaan saya tepat, Morning Glory memang merupakan sebuah film yang menghibur dan berada pas pada jalurnya.

Setelah dipecat dari pekerjaannya sebagai produser acara berita pagi di New Jersey, Becky Fuller (Rachel McAdams) menjadi kebingungan tak tentu arah. Sejak kecil ia memang selalu bermimpi untuk bekerja di industri pertelevisian. Ia lalu mengirimkan banyak lamaran guna mendapatkan pekerjaan baru. Sayang, program yang didapatkannya bukanlah program acara impiannya, The Today Show. Bukan juga Good Morning America. Akan tetapi Daybreak, sebuah program acara pagi di stasiun TV IBS yang ratingnya sudah turun dan berada di rangking ke-4. Mau tidak mau ia pun menjadi produser acara tersebut, belum lagi tekanan dari atasannya (Jeff Goldblum) yang mengharuskan rating Daybreak naik, atau acara itu harus dihentikan.

Pembawa acara di Daybreak adalah Colleen Peck (Diane Keaton), seorang pembaca berita veteran dan berlagak seperti diva. Pasangan Colleen langsung dipecat oleh Becky pada hari pertamanya bekerja karena tingkahnya yang menyebalkan. Mau tidak mau Becky harus mencari pasangan baru bagi Colleen dan akhirnya ia menemukan Mike Pomeroy (Harrison Ford). Tidak gampang membuat Mike yang adalah seorang jurnalis senior bergabung kedalam acara berita pagi. Bagi Mike, acara pagi sama saja dengan acara infotainment yang tidak berbobot. Namun itulah tugas Becky, bagaimana cara agar ia bisa membuat seorang Mike Pomeroy mau menjadi pembaca berita di Daybreak dan juga bagaimana agar rating acara itu segera membaik.

Salah satu hal yang membuat Morning Glory lumayan menonjol adalah deretan para pemainnya yang jempolan. Rachel McAdams bermain sangat baik dalam film ini, ia terlihat bersemangat, pekerja keras, dan juga memikat dalam waktu bersamaan. Aktor dan aktris senior, Harrison Ford dan Diane Keaton tentu saja bermain sempurna sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Terlebih Harrison Ford yang mampu mengubah emosi dan karakteristik dari Mike Pomeroy dengan sangat pelan tapi pasti. Kalau saya boleh jujur, sebetulnya kisah cinta dalam film ini malah tidak terlalu menarik. Chemistry antara Rachel McAdams dan Patrick Wilson rasanya kurang terjalin dengan baik. Saya lebih menganggap kalau ini film komedi saja, memang tetap ada unsur romantis didalamnya, tapi tidak terlalu signifikan.

Untungnya ditangan Roger Michell dan Aline Brosh McKenna, Morning Glory tidak lantas menjadi film 'rom-com murahan'. Film ini memang sama sekali tidak menyajikan banyak hal baru, standar saja seperti film dengan genre sejenis, tetapi paling tidak perjalanan anda dalam menyaksikan film ini akan menyenangkan. Ada salah satu bagian dalam film ini yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Bahkan sewaktu menulis review ini saya jadi ingin tertawa lagi. Secara keseluruhan menurut saya Morning Glory adalah sebuah film yang optimis. Melihat karakter Becky Fuller yang ceria, semangat tinggi, dan pantang menyerah tentu secara otomatis juga memompa semangat orang yang sedang menonton. Happy watching guys! :)