May 6, 2010

REVIEW: IP MAN 2




































"I am Ip Man of Wing Chun."

Pada Ip Man pertama tahun 2008 yang lalu kita dikenalkan kepada Ip Man, sosok guru dari seorang ahli bela diri Cina legendaris, Bruce Lee. Filmnya bercerita tentang kehidupan Ip Man di Foshan, Cina, dimana pada saat itu Cina sedang dijajah oleh Jepang pada sekitar tahun 1930an. Film ini masuk ke belasan nominasi di Hongkong Film Awards 2009 dan berhasil memenangkan dua diantaranya yaitu kategori Best Film dan Best Choreography. Hal yang wajar, karena menurut saya Ip Man adalah sebuah film martial-art yang memiliki jalan cerita yang menarik untuk diikuti, disertai dengan koreografi dan akting para pemain yang mumpuni. Film ini pun banyak digemari oleh orang-orang di luar negeri, termasuk Indonesia.

Melihat kesuksesan pada film pertama, saya awalnya sedikit skeptis dengan sekuel lanjutannya. Saya bertanya-tanya apakah Ip Man 2 akan lebih baik dari yang pertama? At least bisa menyamai kualitas film pertamanya. Terus terang saya kurang begitu yakin, karena biasanya sekuel dari sebuah film yang laris akan berada selevel dibawah film pertama atau malah akan terpuruk jauh dibawah film pertamanya. Tetapi ternyata saya salah, Ip Man 2 lebih baik dari yang pertama. Kalau saya bisa mengatakan Ip Man adalah sebuah film yang baik, maka Ip Man 2 adalah sebuah film yang lebih baik lagi. Saya termasuk bukan orang yang ngefans dengan film mandarin bertema martial-art, saya hanya sekedar menonton saja, namun tidak pernah memfavoritkannya. Namun tampaknya kedua film Ip Man ini telah mengubah pandangan saya, ternyata sebuah film martial-art mandarin akhirnya bisa juga menjadi favorit saya!

Ip Man 2 berkisah tentang Ip Man (Donnie Yen) dan keluarganya yang memutuskan untuk pindah ke Hongkong setelah selamat dari penjajahan Jepang di Foshan. Pada saat itu Hongkong masih dijajah oleh koloni Inggris. Keadaan ekonomi Ip Man juga sedang terpuruk, ia kesulitan membayar biaya sewa rumah dan uang sekolah anaknya. Bermodalkan kungfu aliran Wing Chun yang amat dikuasainya, ia memutuskan untuk membuka sekolah bela diri. Akan tetapi mengajar bela diri di Hongkong tidak semudah seperti di Foshan dulu. Ia harus berhadapan dengan para ketua dari aliran lain dulu sebelum diperbolehkan mengajar kungfu. Ip Man mau tidak mau harus meladeni tantangan ini, ia pun dihadapkan dengan Master Hung (Sammo Hung) dari aliran Hung Ga. Namun, masalah yang ada pada film ini bukan terjadi antar aliran namun dengan Twister (Darren Syahlavi), seorang jawara tinju yang didatangkan oleh koloni Inggris pada saat kompetisi tinju. Twister menghina dan melukai hati rakyat Cina dengan mengatakan hal yang menyakitkan tentang kungfu. Tentu saja Ip Man dan teman-teman tidak tinggal diam.

Melihat Donnie Yen yang berperan sebagai Ip Man saya tidak bisa membayangkan orang lain lagi. Jackie Chan atau Jet Li sekalipun tampaknya tidak akan terlihat begitu menyatu dengan karakter Ip Man. Donnie Yen seperti sudah ditakdirkan untuk memerankan tokoh Ip Man, ekspresi wajahnya, gerakannya, ketenangannya, semua menampilkan sebuah aura yang begitu kuat. Di Ip Man 2, Donnie kembali menunjukkan performa akting dan keahlian wushu-nya yang luar biasa. Apalagi kali ini aktor senior yang juga ahli wushu, Sammo Hung, ikut bermain dalam film ini. Sammo Hung tadinya hanya menyusun seluruh koreografi dalam film Ip Man, namun sekarang ia ikut bermain sekaligus kembali menyusun adegan koreografi dalam Ip Man 2. Koreografi dalam kedua film Ip Man benar-benar indah dipandang mata. Lalu, siapa bilang orang bertumbuh gemuk tidak bisa kungfu? Tonton aksi Sammo Hung dalam film ini! Meski sudah berumur dan tidak memiliki tubuh ideal, namun gerakan kungfunya masih sangat luwes. Salut!

Ip Man 2 menurut saya merupakan sebuah film martial-art mandarin yang wajib anda tonton. Tidak masalah meskipun anda belum menonton yang pertama, karena film ini memiliki plot cerita yang simple, jadi dijamin anda akan mengerti. Film ini mungkin bisa dikatakan sebuah film martial-art yang mendekati sempurna, karena meskipun bertemakan martial-art, namun film ini dikemas dengan cara penuturan cerita yang tidak 'ngasal' dan juga diselingi humor-humor yang segar. Cerita di Ip Man 2 memang jauh lebih datar dibanding yang pertama, namun masih sangat enjoyable dan mengandung nilai-nilai yang bisa kita pelajari. Nilai-nilai seperti cinta dan menghargai budaya negeri sendiri sangat kental disini. Akting para pemain utama dalam film ini juga patut diacungi dua jempol. Overall, very recommended movie, even though you're not Chinese, try to watch this one! :)





May 1, 2010

REVIEW: IRON MAN 2





































"I am Iron Man. The suit and I are one."

Kesuksesan besar yang diraih Iron Man pertama pada tahun 2008 lalu otomatis berhasil membuat kehebohan di sejumlah bioskop di tanah air pada kali pertama penayangan Iron Man 2 hari ini. Saya pun tidak kalah heboh. Saya sudah membeli tiket Iron Man 2 sejak dua hari yang lalu via m-tix karena takut tidak kedapatan tiket. Berlebihan? Tidak juga, buktinya antusiasme para penikmat film di Indonesia terhadap film ini begitu besar, terbukti bioskop hari ini ramai sekali! Iron Man pertama memang berhasil membuat banyak orang jatuh hati dan menjadikan karakter ini sebagai superhero favorit yang baru. Kali ini semua penasaran dengan apa yang akan terjadi kepada Tony Stark selanjutnya.

Iron Man 2 berkisah tentang nasip Tony Stark yang telah terungkap identitasnya oleh pemerintah dan pers sebagai Iron Man. Pemerintah dengan dibantu oleh rival Stark, Justin Hammer (Sam Rockwell) ingin agar 'senjata' Iron Man tersebut diserahkan kepada negara dengan alasan demi keamanan. Hal ini dikarenakan negara-negara lain sudah mulai ikut membuat senjata ala Iron Man, meskipun belum ada yang bisa sebanding. Stark tentu tidak akan menyerahkan barang kesayangannya begitu saja. Ia malah bertingkah semakin ngeyel dan semaunya, apalagi tubuhnya semakin hari semakin melemah dikarenakan ia sekarang hanya hidup dengan bantuan alat di dadanya. Tanpa disangka ternyata Stark memiliki musuh bebuyutan bernama Ivan Vanko (Mickey Rourke), seorang ilmuwan asal Rusia. Dibantu asisten tim S.H.I.E.L.D yang diketuai oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson) dan sahabat lamanya James Rhodes (Don Cheadle), Tony Stark dan kawan-kawan harus berusaha untuk melawan musuh barunya tersebut.

Beberapa karakter baru di Iron Man 2 sangat mencuri perhatian, favorit saya tentu saja karakter Ivan Vanko a.k.a Whiplash yang diperankan Mickey Rourke. Aktor yang pernah bermain apik dalam The Wrestler (2008) ini tampil sangat cocok dengan peran yang dimainkan. Mickey berhasil menampilkan karakter Ivan Vanko yang misterius nan menyeramkan. Aksen Rusia yang ia tampilkan juga cukup menunjukkan bahwa ia termasuk aktor yang serba bisa. Scarlett Johansson juga terlihat sexy dan bermain baik, adegan perkelahiannya menjelang akhir film termasuk keren. Sam Rockwell yang berperan sebagai Hammer juga ternyata memberikan surprise karena karakternya berhasil terlihat sangat annoying. Surprise berikutnya datang dari sang sutradara, Jon Favreau yang ikut bermain sebagai cameo dalam film ini, ia berperan sebagai Happy, supir sekaligus teman Tony Stark. Perannya ternyata cukup mencuri perhatian dan menghibur penonton. Gwneth Paltrow dan Robert Downey Jr. juga bermain baik, namun tidak terlalu menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ada satu karakter yang kurang saya sukai kali ini, yaitu Don Cheadle yang hadir menggantikan peran Terrence Howard sebagai sidekick Tony Stark. Ia terlihat kurang garang, lagipula wajahnya pun terlalu serius. Chemistry antara dirinya dengan Robert Downey Jr. seperti kurang terjalin dengan baik.

Kali ini Iron Man 2 tampil nyeleneh dan lebih banyak unsur humor. Karakter Tony Stark terlihat lebih menyebalkan sekaligus narsis tingkat tinggi. But I still love Tony anyway! Plot cerita sedikit mengecewakan, apalagi ditambah dengan ending yang terkesan terburu-buru dan kurang klimaks. Adegan action kali ini terbilang sedikit, lebih berat ke unsur komedi dan drama. Namun secara keseluruhan Iron Man 2 menurut saya tetap sebuah sajian yang sangat menghibur dan wajib untuk ditonton. Special efek cukup memanjakan mata, mengingat ini adalah proyek film budget besar. Pesan saya, jangan buru-buru keluar setelah film usai karena sehabis end credit akan ada scene tambahan! Overall, Iron Man 2 is a recommended movie to watch, it's fun and entertaining. Don't expect too much because the first one is still better, but the sequel is definitely worth your money! :)





April 29, 2010

REVIEW: DATE NIGHT





































"One ordinary couple. One little white lie."

Steve Carell dan Tina Fey adalah dua komedian yang sudah tidak perlu diragukan lagi eksistensinya. Simak saja The Office dan 30 Rock, dalam kedua serial televisi tersebut mereka sudah menunjukkan kualitasnya masing-masing dalam memerankan peran komedi. Kali ini sutradara Shawn Levy yang pernah membuat The Pink Panther, Night at the Museum 1-2, Cheaper by the Dozen, dan lain-lain kembali membuat sebuah film komedi yang memasang kedua nama tadi kedalam satu frame. Sebuah ide yang amat brilian. Pastinya para fans Steve Carell dan Tina Fey sudah pasti akan menyaksikan film ini dengan antusias. Apalagi Date Night juga memiliki sederetan cameo terkenal seperti Mark Walhberg, Mark Ruffalo, James Franco, Taraji P. Henson, Mila Kunis, dan Leighton Meester. Menarik sekali!

Date Night bercerita tentang sepasang suami istri asal New Jersey, Phil (Steve Carell) dan Claire Foster (Tina Fey) yang telah menikah selama beberapa tahun dan sudah memiliki dua orang anak. Sehari-hari mereka selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan tidak terlalu memikirkan tentang keintiman hubungan mereka lagi. Setiap kali sibuk, mereka hanya menyewa pengasuh (Leighton Meester) untuk menjaga anak-anak. Namun suatu hari mereka mendapat kabar bahwa sahabat mereka, Brad (Mark Ruffalo) dan Haley (Kristen Wiig) akan bercerai. Phil pun lalu tidak tinggal diam, ia membuat sebuah rencana dengan mengajak sang istri makan malam romantis di sebuah restoran mahal di Manhattan. Namun karena belum melakukan reservasi, mereka tidak mendapatkan meja disana. Tidak kehilangan akal, Phil berinisiatif untuk mengambil meja pesanan orang lain dengan berpura-pura menjadi keluarga Tripplehorns! Di tengah acara makan malam tersebut, ternyata Phil dan Claire didatangi oleh dua orang yang tidak mereka kenali. Ternyata dua orang tersebut bersejata dan datang ke restoran itu untuk mencari keluarga Tripplehorns guna mengambil kembali sebuah barang penting. Naas benar nasip Phil dan Claire, karena sekarang mereka lah yang dikejar-kejar hanya karena iseng mengambil meja milik keluarga Tripplehorns.

Menurut saya, Date Night adalah sebuah film yang menghibur. Sebuah film ringan yang memang bertujuan untuk membuat tertawa para penonton. Jalan ceritanya sendiri tidak istimewa, hanya kejar-kejaran sepanjang film. Namun tidak perlu memperdulikan ceritanya, tonton saja lelucon-lelucon yang ada dalam film ini. Memang sepertinya lelucon di film ini terasa kurang maksimal, akan tetapi ada beberapa lelucon yang memang benar-benar lucu sampai membuat saya tertawa terbahak-bahak. Tunggu sampai adegan mobil tersangkut dengan taxi, saya jamin 100% anda akan tertawa sekencang-kencangnya! Tidak rugi menonton Date Night, paling tidak akting dua pemeran utama di film ini tidak mengecewakan. Para cameo yang hanya tampil 'numpang lewat' juga menurut saya pas dengan porsinya. Scene Mark Walhberg menurut saya benar-benar konyol dan dapat membuat tersenyum. Scene sewaktu ada James Franco dan Mila Kunis juga merupakan salah satu scene favorit saya, meskipun hanya tampil sekitar 5 menit namun penampilan James Franco dapat dikatakan bagus. Sepertinya memang James Franco ada bakat untuk melawak, tonton saja Pineapple Express! Overall, Date night is quite entertaining, just watch it for fun guys! :)





April 23, 2010

REVIEW: THE ROAD





































"When you dream about bad things happening, it means you're still fighting and you're still alive. It's when you start to dream about good things that you should start to worry."

The Road bercerita tentang masa post-apocalyptic, dimana dunia terlihat sudah kian hancur dan menuju kearah kiamat. Film ini diangkat oleh sutradara John Hillcoat dari novel terkenal yang telah memenangkan Pulitzer karya Cormac McCarthy. Sekilas plot cerita The Road hampir mirip the The Book of Eli, yaitu tentang dunia yang sudah mulai usang dan tersisa manusia yang bertahan hidup. Akan tetapi kedua film ini merupakan film yang jauh berbeda. The Book of Eli mengandalkan sisi action dalam filmnya, namun The Road adalah sebuah film yang sangat suram tetapi juga sekaligus sangat menyentuh hati. Saya menyukai film ini.

Plot cerita hanyalah berkisar tentang seorang lelaki (Viggo Mortensen) dan anaknya (Kodi Smit-McPhee) yang berjuang untuk tetap hidup dikala kehidupan rasanya sudah tidak layak lagi. Tidak diceritakan lebih jauh tentang bagaimana dunia bisa sekacau itu, akan tetapi kita disajikan sebuah kisah perjuangan antara ayah dan anak yang saling membantu satu sama lain dikala halangan kian datang hari demi hari. Yang mereka pusingkan setiap hari hanyalah bagaimana caranya mencari makan agar tetap dapat bertahan hidup dan bagaimana kalau sepatu satu-satunya yang mereka pakai rusak. Ironis memang, tapi mungkin saja suatu saat hal tersebut dapat terjadi. Manusia lain yang kelaparan sudah memangsa sesama manusia untuk dijadikan makanan, kanibalisme menjadi sesuatu yang biasa dalam film ini. Saya sampai merinding.

Akting Viggo Mortensen patut diacungi dua jempol! Ekspresi dan pandangan matanya membuat kita seolah percaya akan apa yang sedang dialaminya dalam film ini. Aktor muda asal Australia, Kodi Smit-McPhee juga bermain luar biasa. Saya sudah pernah menyaksikan aktingnya dalam film Romulus, My Father (2007) yang juga bagus. Saya rasa, Kodi adalah seorang calon bintang besar. Kedua aktor senior-junior ini sangat cocok disandingkan dalam satu frame. Chemistry yang terjalin sangat terasa, sampai-sampai pada akhir film akting mereka berhasil membuat saya terharu hingga ingin menitikkan air mata. Sang sutradara juga berhasil membuat setting pemandangan suram yang sangat meyakinkan dengan warna kelam - cenderung abu-abu, setiap scene dalam film ini terlihat nyata. Penampilan sekilas dari Charlize Theron, Robert Duvall, dan Guy Pearce kian menambah poin plus. Ending film ini juga sangat realistis.

The Road mungkin bukan film yang tidak bisa diterima semua orang. Film ini cenderung dark, desperate, sad. Mungkin beberapa orang akan bosan dan keluar bioskop pada pertengahan film. Akan tetapi saya sangat menikmati film ini. Menurut saya film ini mengajarkan agar kita tidak mudah putus asa dalam segala cobaan yang sedang menimpa kita. Sebuah film yang berhasil membuat saya merenung sehabis menonton. Sebuah film yang penuh dengan harapan. One of my favorite movie.

The Boy: Are we gonna die?
The Man: We are not gonna quit. We are gonna survive this.




April 21, 2010

REVIEW: THE BOOK OF ELI




































"Religion is POWER."

Sebetulnya saya kurang suka menonton film yang terlalu religius, apalagi jika film tersebut lebih memihak pada satu agama tertentu. Saya termasuk orang yang sangat open-minded soal agama, saya merasa semua agama mempunyai intisari yang sama, yaitu menuntun manusia ke jalan yang benar. Maka saya tidak suka kalau ada suatu agama yang dianggap lebih benar diantara yang lainnya (meskipun agama tersebut adalah agama yang saya anut). Untungnya adegan action dalam film ini patut diacungi jempol. Saya tidak menyangka kalau Denzel Washington bisa terlihat seperti Jackie Chan versi Hollywood dalam film ini! Tipikal wajah dan pembawaan Denzel biasanya memang cocok dengan peran-peran melankolis namun tegas seperti dalam John Q atau Man on Fire.

The Boof of Eli bercerita tentang keadaan dunia sehabis perang yang telah meninggalkan esensi penting dalam kehidupan yaitu agama dan kepercayaan. Manusia yang tersisa itu hidup seenaknya, merampok, memperkosa, merebut barang milik orang lain. Pada masa ini diceritakan juga bahwa makanan dan minuman menjadi barang yang amat langka, semua diakibatkan karena tanas yang tandus dan kering. Kehidupan menjadi sangat tidak layak, untuk mandi pun mereka sulit. Bahkan shampoo yang sekarang kita anggap tidak terlalu penting saja menjadi barang yang luar biasa penting pada masa itu.

Lalu ada Eli (Denzel Washington), seorang pria pengelana yang sudah berjalan selama 30 tahun dengan membawa sebuah buku. Eli mengaku bahwa ia mendengar suara-suara yang menuntunnya membawa buku penting itu ke suatu tempat. Selama perjalanan, ia selalu saja dihadapkan dengan berbagai halangan. Yang terberat adalah ketika ia melintasi suatu kota kecil yang seolah dipimpin oleh Carnegie (Gary Oldman). Carnegie berkuasa di kota ini karena ia termasuk orang yang terkaya disana. Tidak disangka, ternyata Carnegie pun mencari sebuah buku penting yang belum ia ketahui keberadaannya. Sampai suatu saat ia mengetahui bahwa Eli membawa sebuah buku. Mulailah adegan kejar mengejar antara Eli dan Carnegie. Eli ditemani oleh Solara (Mila Kunis), seorang wanita dari kota kecil itu yang memutuskan untuk ikut dengannya.

Beberapa hal dalam film ini terasa menyindir umat manusia yang suka menyia-nyiakan sesuatu. Seperti kata pepatah, 'kita tidak akan merasa membutuhkan sesuatu sebelum kehilangan sesuatu'. Film ini mungkin mengajarkan kita tentang inti dari menghargai kepunyaan kita selagi bisa. Tapi jujur saja, film ini terasa konyol bagi saya. Eli ditugaskan oleh 'Yang Diatas' untuk menyelamatkan buku penting tersebut guna mengembalikan umat manusia ke jalan yang benar. Akan tetapi Eli membiarkan para perampok merampok dan memperkosa pejalan kaki, ia juga dengan gampangnya membunuh orang. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, action scenes dalam film ini memang lumayan keren, tetapi saya tetap merasa tidak bisa menerima konsep film ini. Apalagi endingnya yang sangat amat tidak saya harapkan! Saya hanya mengagumi sinematografi film ini yang terbilang lumayan bagus, sedikit adegan action, akting Denzel Washington dan Gary Oldman, dan kecantikan Mila Kunis. Itu saja! Bagi yang sudah menonton, ditunggu komentarnya! :)