March 13, 2010

REVIEW: GREEN ZONE












































"Chief Warrant Officer Roy Miller is done following orders."

Di poster Green Zone kita dalam melihat dengan jelas kalimat 'From the director of The Bourne Supremacy and The Bourne Ultimatum', hal ini sudah pasti akan membuat orang penasaran dan bertanya-tanya apakah film ini akan sebagus film yang terkenal dengan karakter Jason Bourne itu? Sebuah strategi marketing yang tepat, karena selain sutradaranya, Paul Greengrass, yang sama dengan kedua film tersebut, sang aktor pemeran utamanya juga ada dalam Green Zone, yaitu Matt Damon. Film ini diangkat dari buku karya Rajiv Chandrasekran berjudul 'Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq's Green Zone' yang bercerita tentang suasana di Irak pasa masa awal perang. Terus terang saya tidak berharap banyak dari film ini, namun ternyata Green Zone mampu menyuguhkan adegan action yang menghibur, terlepas dari jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Matt Damon berperan sebagai Miller, kepala pasukan khusus yang ditugaskan di Irak untuk menemukan dan mengamankan
WMD (Weapons of Mass Destruction) yang diduga tersembunyi disana. Semakin lama sebuah tanda tanya besar mulai timbul di kepala Miller karena selama berada di Irak ia dan anak buahnya tidak pernah sekalipun menemukan sesuatu yang mencurigakan. Setiap kali mendapatkankan perintah dari badan intelijen untuk menyisir sebuah tempat, mereka pasti akan kembali dengan tangan kosong alias tidak menemukan apapun. Miller merasa dipermainkan dan yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan badan intelijen yang terkesan memberikan informasi asal-asalan. Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan dari kepala CIA di Baghdad, Martin Brown (Brendan Gleeson), yang juga mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres disana dan ini semua berkaitan dengan isu politik pemerintahan Amerika. Akhirnya dengan bantuan oleh seorang pemuda lokal Irak bernama Freddy (Khalid Abdalla), Miller dan kelompoknya berusaha menguak misteri yang ada.

Mendengar nama sutradaranya pasti sudah tertebak kalau Green Zone bakal menyajikan adegan laga dalam tempo cepat. Dari awal sampai akhir kita akan disuguhkan adegan action yang menarik dalam balutan kamera hand-held. Hati-hati kalau anda mudah pusing jika melihat gambar yang bergoyang, tapi tidak terlalu parah. Menurut saya penggunaan kamera hand-held pada film ini semakin membuat intensitas adegan action yang ada menjadi terasa lebih nyata dan menegangkan. Segi cerita tidak terlalu istimewa, karena cerita perang Irak dan Amerika memang sudah sangat sering diangkat menjadi sebuah film. Saya sendiri hanya menikmati adegan action dalam film ini dan tidak memperdulikan jalan ceritanya, malah saya kebingungan sendiri dengan bumbu politik yang ada. Beruntung film ini memiliki Matt Damon yang sekali lagi membuktikan kalau dirinya memang cocok bermain dalam film-film bergenre action. Khalid Abdalla juga memegang peran penting dalam film ini, aktingnya bisa dikatakan lumayan baik. Satu hal yang patut dipuji adalah keberhasilan sang sutradara membawa suasana ala Irak yang terlihat meyakinkan dalam filmnya, padahal film ini hanya mengambil gambar di Morocco, Spanyol, dan Inggris. Overall, filmnya layak ditonton jika anda menyukai film action tempo cepat. Ignore the story, just enjoy the action scenes. :)





March 6, 2010

REVIEW: UP IN THE AIR


























"Things you probably hate about travelling -the recycled air, the artificial lighting, the digital juice dispensers, the cheap sushi- are warm reminders that I'm home."

Jason Reitman pernah berhasil menyutradarai beberapa film Indie seperti 'Thank You for Smoking' dan 'Juno', kali ini ia pun kembali berhasil membuat sebuah film dengan tema unik, Up in the Air. Diadaptasi dari novel dengan judul sama karya Walter Kim. Disini Jason Reitman menggandeng aktor papan atas George Clooney yang sudah semakin tua tapi tetap saja masih sedap dipandang mata dan berkharisma. Kehadiran Vera Varmiga, Anna Kendrick, dan Jason Bateman tentu juga semakin menyemarakkan film ini. Saya suka Up in the Air karena dialog-dialognya yang lucu namun sekaligus sangat cerdas. Sepanjang film saya tidak bosan sama sekali, kembali lagi hal ini dikarenakan adanya script cerita yang baik. Saya akan sangat senang apabila Up in the Air berhasil memenangkan kategori 'Best Adapted Screenplay' pada ajang Oscar nanti. We'll see..

Ryan Bingham (George Clooney) berkerja di CTC (Career Transition Counseling), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengurangan karyawan. Perusahaan-perusahaan lain yang ingin memecat karyawannya dapat menyewa CTC. Kerja Ryan setiap hari adalah memecat karyawan dari berbagai perusahaan di seluruh penjuru Amerika. Wajar saja kalau hidupnya tidak banyak dihabiskan di rumah. Di saat orang lain merindukan rumah saat sedang tugas ke luar kota, Ryan malah merasa waktu di rumah adalah saat yang menderita. Ia lebih menikmati hidupnya di udara, suasana lounge airport, hotel mahal, kartu member dari banyak tempat yang memberikannya keleluasaan untuk menyela antrian orang lain, dll. Ia juga adalah seorang motivator yang terkenal dengan tema 'Unpacking Your Backpack'. Ryan Bingham juga lebih menyukai kesendiriannya dibanding berkumpul dengan keluarga atau teman, apalagi menikah. Baginya semua ini sudah sangat menyenangkan, apalagi ia sedang mengejar target terbang sebanyak 10 juta mil. Namun kehidupannya bisa saja berubah ketika kantornya mendapatkan usul dari seorang karyawan baru bernama Natalie Keener (Anna Kendrick), seorang gadis ambisius berumur 23 tahun. Natalie menyusulkan untuk menyusut anggaran pengeluaran kantor dengan cara memecat orang melalui video calls yang menggunakan koneksi internet. Sudah pasti ini menjadi mimpi buruk bagi seorang Ryan Bingham! Belum lagi ketika ia bertemu dengan Alex Goran (Vera Varmiga) yang berhasil membuatnya jatuh hati tetapi ternyata menyembunyikan sesuatu yang penting.

Jadi sebenarnya film ini bercerita tentang apa? Tentang kehidupan. Memang terdengar simple, tapi penuh dengan segala kerumitannya. Menurut saya Up in the Air mengangkat sebuah tema yang dekat dengan apa yang kita alami dan juga banyak menyelipkan pelajaran dalam hidup. Deretan para pemainnya juga patut dipuji. George Clooney seperti tidak berakting, nyaris tanpa cela. Vera Varmiga tampil baik dan menggoda, sangat pas dengan karakter yang dibawakan. Yang membuat saya terkesima adalah akting Anna Kendrick yang ternyata sangat amat baik. Aktingnya sebagai seorang gadis yang arogan dan penuh dengan semangat kerja, namun sebenarnya seseorang yang masih terbilang polos benar-benar di luar dugaan saya. Sebelumnya Anna pernah bermain dalan Twilight sebagai Jessica, teman Bella, disana ia biasa saja, tidak istimewa. Namun setelah melihat penampilan Anna Kendrick disini, saya yakin karirnya akan bersinar bersama bintang muda baru lainnya seperti Carey Mulligan (An Education), Logan Lerman (Percy Jackson), dll. Kesimpulannya, Jason Reitman telah berhasil menyutradai film ini dengan sempurna, mulai dari sinematografi yang baik, pemilihan casts yang ciamik, soundtrack yang pas dengan film, dan yang paling hebat adalah sebuah script yang jenius!



March 5, 2010

REVIEW: ALICE IN WONDERLAND




































"This is impossible. Only if you believe it is."

Pertama kali tahu bahwa film Alice in Wonderland akan disutradarai oleh sutradara nyentrik Tim Burton saya langsung semangat dan menaruh ekspektasi yang sangat tinggi karena saya pikir film ini memang cocok sekali jika digarap oleh Tim Burton. Apalagi begitu tahu ada Johnny Depp dan Helena Bonham Carter, wow! Ternyata, entah karena ekspektasi yang terlalu tinggi atau bukan, film ini seperti kehilangan magic seorang Tim Burton. Saya mengira film ini akan sehebat karya Burton sebelumnya seperti Edward Scissorhands atau Big Fish, tapi Alice in Wonderland terlihat seperti bukan buatan Burton. Ceritanya sangat datar dan mudah ditebak, ditambah lagi dengan pemilihan Mia Wasikowska sebagai Alice yang ternyata belum terlalu bisa berakting. She absolutely had no connection with her character in this movie.

Kisah dibuka dengan Alice kecil yang selalu mengalami mimpi yang sama berulang-ulang, tentang suatu tempat asing yang memiliki kelinci putih, kucing tersenyum, ulat bulu besar berwarna biru, dan makhluk aneh lainnya. Beruntung sang ayah adalah seorang yang imaginatif dan selalu mengatakan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Tiga belas tahun kemudian Alice Kingsley (Mia Wasikowska) telah beranjak remaja, ayahnya telah meninggal dunia. Ia tengah berada dalam sebuah situasi dimana sang ibu dan saudara perempuannya memaksa agar ia mau menikah dengan pemuda bangsawan yang aneh. Ketika pemuda tersebut ingin melamarnya, tiba-tiba saja Alice melihat kelinci putih yang selalu ada dalam mimpinya sejak kecil. Ia mengikuti kelinci tersebut sampai akhirnya terperosok dalam sebuah lubang yang membawanya ke Underland. Lalu disana Alice bertemu dengan The Mad Hatter (Johnny Depp) yang memberitahunya kalau ia lah yang ditakdirkan membantu The White Queen (Anne Hathaway) untuk merebut kembali haknya sebagai pemimpin Underland dari tangan jahat The Red Queen (Helena Bonham Carter). Disana Alice juga bertemu dengan makhluk yang sudah sering ia lihat dalam mimpinya seperti Tweedledee/Tweedledum, Cheshire Cat, Blue Caterpillar, White Rabbit, dan makhluk lainnya. Lalu dimulailah petualangan Alice!

Kenapa Tim harus merubah Wonderland menjadi Underland? Sounds soooo weird.. Menurut saya itu hal yang tidak perlu dilakukan, seperti membuang sebuah esensi penting dalam film ini. Dengan naskah yang tidak dapat dibanggakan, beruntung Alice in Wonderland dikemas dalam visualisasi yang menarik khas Tim Burton. Sedikit lega melihat masih ada sedikit sentuhan Burton melalui gambar yang berwarna-warni tapi tetap sekaligus memberikan kesan misterius, karakter makhluk yang diperbaharui menjadi lebih segar dan unik. Akan tetapi ada bagian dari film ini yang terasa terlalu berlebihan dalam hal CGI, bahkan beberapa karakter benar-benar terlihat seperti kartun, bukan animasi. Animasi yang ditampilkan terkesan masih 'setengah matang'. Belum lagi saya dengar versi 3D-nya juga tidak terlalu terasa. Saya rasa menonton versi 2D sudah cukup. Ending film juga terkesan terburu-buru, keseluruhan film ini sudah dapat saya tebak dengan mudah dari awal. Ya, saya tahu ini memang diadaptasi dari serial anak-anak, tapi yang satu ini memang terasa too plain, too simple, too flat..

Dari semua kekurangan yang sudah saya sebutkan diatas, saya tetap tidak bisa bilang film ini jelek karena memang film ini cukup fun dan entertaining. Tepuk tangan meriah saya berikan untuk Helena Bonham Carter, istri Tim Burton, yang bermain sangat apik dalam memerankan karakter The Red Queen. Teriakan, intonasi, dan gelagatnya sangat pas dengan peran yang harus ia mainkan. Belum lagi dandanannya yang freak dengan kepala berbentuk hati yang super besar dan bibir love ala Jeng Kelin. Menghibur sekali. Johnny Depp yang memerakan The Mad Hatter memang jagonya peran-peran nyeleneh seperti ini dan sepertinya ia tidak kesulitan dengan perannya kali ini. Anne Hathaway tampil membawakan karakternya sebagai The White Queen yang sebenarnya agak konyol menurut saya, dengan tangan yang selalu melambai-lambai kesana kemari, but never mind, mungkin memang harus begitu. Ia cukup baik membawakan perannya. Seandainya saja peran Alice bukan dimainkan oleh Mia Wasikowska, entahlah.

Overall, film ini tetap layak untuk ditonton. Ceritanya standar namun dikemas dalam visualisasi yang indah dan sedap dipandang mata. Bagi yang tidak punya harapan terlalu tinggi pada film ini pasti akan sangat terhibur. Mungkin review saya kali ini sedikit subjektif karena saya terlalu mengharapkan sesuatu yang lebih dari seorang Tim Burton. Sudah pasti hal ini turut terpengaruhi oleh ekspektasi saya sejak awal. Namun biar bagaimanapun juga saya cukup menikmati film ini. In the end...it's NOT A BAD MOVIE at all, it's surely a perfect movie for family, but definitely not what I'd expected. :)





March 4, 2010

REVIEW: SHUTTER ISLAND



























"Some Places Never Let You Go"

Sebuah karya terbaru dari sutradara Martin Scorsese yang pernah sukses memboyong Oscar dalam film The Departed (2006). Ini juga adalah hasil kolaborasi keempat antara Martin Scorsese dengan aktor kesayangannya sekarang ini (setelah Robert DeNiro), Leonardo DiCaprio. Sebelumnya Leo memang sudah beberapa kali bermain dalam film arahan Scorsese, sebut saja The Aviator, Gangs of New York, dan juga The Departed. Ketiga film tersebut terbilang sukses, begitu juga dengan Shutter Island yang sudah dua minggu berturut-turut berada di puncak tangga box office.

Shutter Island sendiri diadaptasi dari novel karya Dennis Lehane yang pernah menulis Mystic River dan Gone Baby, Gone. Novel-novel karya Dennis memang biasanya cenderung dark dan twisted, sama halnya dengan Shutter Island kali ini. Dan sutradara selevel Martin Scorsese menurut saya berhasil mengadaptasi dengan baik, meskipun saya sendiri belum membaca novelnya. Film ini terasa classic, dark, dan twisting. It will twist your mind from the beginning until the end. Mungkin alurnya akan terasa lambat di awal film, namun apabila anda sabar menunggu sampai akhir film anda pasti akan bergumam 'ohh begituuu..'

Bersetting tahun 1954, film ini menceritakan seorang anggota federal U.S Marshall bernama Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan partner kerja barunya Chuck Aule (Mark Ruffalo) yang sedang ditugaskan untuk berkunjung ke sebuah pulau terpencil guna menyelidiki tentang misteri hilangnya seorang pasien dari rumah sakit jiwa Ashecliffe. Sebenarnya Teddy memiliki maksud pribadi yang mengharuskannya menyelidiki rumah sakit jiwa tersebut, namun belum jelas dengan yang ingin dicarinya disana, ia dan partnernya malah merasa ada yang tidak beres dengan kepala rumah sakit jiwa, Dr.Cawley (Ben Kingsley), yang terkesan menutup-nutupi sesuatu. Teddy berusaha keras mencari bukti-bukti yang ada disana, namun selalu ditutupi oleh pihak rumah sakit. Sampai tiba-tiba Teddy selalu mendapatkan halusinasi dan mimpi aneh setiap hari sehingga ia mulai meragukan mana yang nyata dan mana yang halusinasi. Sebenarnya apa yang terjadi disana? Apakah Teddy tidak akan bisa keluar dari pulau tersebut?

Saran saya, kalau anda tidak suka dengan film-film beralur lambat, membingungkan, serta memaksa anda untuk berfikir keras selama menonton, sebaiknya lewatkan saja film ini. Karena saya jamin anda pasti bosan dan akan keluar bioskop sebelum film usai. Tapi kalau anda tanya bagaimana dengan saya? Ya, saya menikmati film ini. Saya ikut penasaran dengan alur dan misteri yang ada didalamnya, tidak merasa bosan sama sekali. Film ini memang sulit dicerna bagi semua orang, tidak semuanya dapat menikmati tipe film seperti ini. Tapi kalau anda memperhatikan filmnya dari awal dan sudah mengetahui kalau film ini memang mengusung psychological thiller, anda pasti akan puas.

Lewat film ini Martin Scorsese semakin menunjukkan jati dirinya sebagai sutradara kawakan, begitu juga Leonardo DiCaprio yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Mark Ruffalo tampil lumayan baik, tidak istimewa, tapi tetap bisa mengimbangi lawan mainnya. Aktor veteran, Ben Kingsley juga demikian. Michelle Williams hanya tampil sebentar dan aktingnya biasa saja. Shutter Island adalah film yang harus ditonton dengan hati-hati dari awal, perhatikan semua detail yang ada. Pada akhirnya, anda dan sang aktor dalam film ini akan dibiarkan menebak-nebak dan mencari jawaban sendiri. Bahkan saya rasanya ingin menonton sekali lagi agar semakin mengerti. Biasanya dalam film model twisting seperti ini, puzzle yang tidak terpecahkan pada saat awal menonton akan mudah terpecahkan pada kali kedua. Kalau sudah nonton, comment yaa..





February 19, 2010

REVIEW: MY NAME IS KHAN



























"My name is Khan and I am not a terrorist."

Setelah bulan Januari kemarin saya menonton film India untuk pertama kalinya di bioskop (re: 3 Idiots), akhirnya bulan ini saya kembali ke bioskop untuk menonton film India kedua saya yaitu My Name is Khan. Kali ini saya tidak terlalu buta dengan nama sutradara dan para pemainnya. Karan Johar, sang sutradara, sebelumnya sudah pernah menyutradarai film Kuch Kuch Hota Hai (1998) dan Kabhi Kushi Kabhie Gham (2001). Tentu saja saya sudah penah menonton keduanya, karena dulu kedua film tersebut bisa dibilang cukup fenomenal di Indonesia dan sudah beberapa kali diulang di saluran televisi lokal kita. Bukan hanya nama sutradara saja yang sama, pemeran utama di My Name is Khan juga sama dengan kedua film itu, yaitu pasangan Shahrukh Khan dan Kajol.

Cerita film ini lebih 'berat' ketimbang 3 Idiots, tema yang diangkat pun bukan tema yang mudah untuk digarap dalam sebuah film. Bercerita tentang Rizwan Khan (Shahrukh Khan), seorang muslim yang berasal dari Mumbai, India. Sejak kecil ia menderita Asperger's Syndrome, sebuah sindrom sejenis autis tapi dalam versi yang lebih parah. Rizwan kecil tinggal bersama ibu dan adiknya, ketika beranjak dewasa sang adik yang sering merasa iri dengan Rizwan karena mendapat perhatian lebih dari sang ibu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Beberapa tahun setelah kepergian sang adik, ibunya meninggal dunia. Mau tidak mau Rizwan pun menyusul sang adik ke Amerika. Disana ia bertemu dengan pujaan hatinya bernama Mandira (Kajol) yang seorang janda beranak satu. Dan dimulai lah hari-hari Rizwan di Amerika.

Awalnya kehidupan Rizwan di Amerika memang berjalan baik-baik saja, namun semua berubah ketika pesawat yang dibajak teroris menabrak gedung WTC sampai runtuh berkeping-keping, kita mengenalnya dengan sebutan 9/11. Peristiwa tragis ini jelas saja membuat rakyat Amerika marah dan otomatis kehidupan pada pendatang di Amerika menjadi serba salah, khususnya bagi mereka yang memiliki wajah timur seperti Arab, India, dll. Terlebih lagi kalau mereka adalah seorang muslim, mereka akan diperlakukan seenaknya dan tidak adil. Hal ini tentu saja turut berpengaruh dalam kehidupan Rizwan Khan di Amerika, apalagi ia menyandang nama 'Khan' yang memang adalah sebuah marga untuk pemeluk agama Islam. Peristiwa keji itu memang sempat membutakan mata rakyat Amerika, mereka menganggap semua muslim adalah teroris, padahal tidak semuanya sama seperti yang mereka kira. Seperti satu pelajaran yang pernah dituturkan ibu Rizwan kepadanya dulu, bahwa di dunia ini hanya ada 2 jenis manusia, yaitu manusia baik dan manusia jahat, tidak ada perbedaan lagi selain 2 hal itu. Janganlah menjadikan agama sebagai perbedaan. :)

Dari awal film kita diajak untuk mengikuti lika-liku kehidupan seorang Rizwan Khan. Alur cerita yang dibuat bolak balik memang bisa membingungkan penonton, akan tetapi apabila kita memperhatikan film ini dari awal pasti tidak akan bingung. Cerita berjalan mulus dan asik untuk dinikmati, emosi penonton pun dibuat naik turun, ini memang ciri khas film Bollywood. Uniknya di film ini tidak ada adegan bernyanyi-nyanyi, hanya ada sekali dan itupun menurut saya tidak 'lebay'. Akting Shahrukh Khan pun jempolan sekali, padahal perannya disini tidak mudah karena bukan hanya menuntut seorang aktor untuk bisa berakting tapi juga harus pintar menciptakan ekspresi dan menghidupan emosi karakter tersebut. Kajol pun tampil cantik sekali disini, didukung dengan kualitas akting yang baik pula. Yang membuat film ini semakin sempurna adalah chemistry antara mereka berdua. Tidak heran, karena mereka memang sudah sering dipasangkan dalam satu frame. Kalau disini mungkin contohnya Nicholas Saputra - Dian Sastro. Hehe..

Film ini sangat sayang untuk dilewatkan, apalagi jarang ada film India yang main di XXI. Tapi saran saya, kalau anda bukan pecinta genre drama mungkin akan sedikit bosan dengan durasi yang panjang. Memang ada beberapa scenes yang sepertinya terkesan sengaja dipanjangkan, tapi bagi saya itu tidak menggangu keseluruhan film. FYI, saya memang termasuk pecinta drama. Lalu diakhir film juga akan muncul sosok presiden AS yang menurut saya sosoknya agak 'lucu'. Tapi kecuali dua hal itu tidak ada alasan lain koq untuk tidak menonton film ini. Tema yang diangkat 'berani' dan ceritanya pun memberi pesan yang luar biasa, tentang usaha untuk saling menghormati antar umat beragama, etnis, suku, bangsa, dan warna kulit. Sebuah hal yang sangat indah bukan? :)