August 11, 2014

REVIEW: GUARDIANS OF THE GALAXY

"They call themselves the Guardians of the Galaxy. What a bunch of a-holes."

Reaksi saya ketika pertama kali menonton trailer Guardians of the Galaxy? Boom!! Saya harus nonton film ini!! Trailernya terlihat sangat fun apalagi dengan kehadiran makhluk-makhluk aneh seperti raccoon dan si manusia pohon. Film ini diangkat dari salah satu komik best seller dari Marvel, saya sendiri belum pernah dengar tentang komik ini sebelumnya. Maklum bukan pecinta komik hehe.. Beruntung saya bisa menyaksikan film ini di Malaysia dua minggu lebih cepat daripada penayangannya di Indonesia tanggal 20 Agustus mendatang. Andddd..I loved it! It was a super fun experience in the cinema. Banyak adegan yang dijamin akan membuat penonton tertawa sangking konyolnya, seimbang dengan adegan action yang juga tidak kalah seru. Satu hal yang mencolok dari film ini adalah kehadiran lagu-lagu nostalgia yang tentunya menjadikan film ini lebih unik dibanding film superhero yang belakangan bertebaran di bioskop. You can even find a dancing scene here! Music and dance in a superhero movie? HELL YEAH.

Seorang bocah diculik dari Bumi menggunakan sebuah kapal luar angkasa dan dibawa ke sebuah planet yang jauh. Ia lalu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kerjanya adalah seorang 'pemulung' dan menyebut dirinya sebagai Star Lord (Chris Pratt). Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliling dengan kapal luar angkasanya dan menjadi benda yang bisa ia curi dan ia jual. Suatu hari ia menemukan sebuah bola dan sejak saat itu ia pun dikejar-kejar oleh banyak pihak sampai pada akhirnya ia dijebloskan kedalam penjara dan bertemu orang-orang yang nanti akan menjadi rekannya. Mereka adalah seekor raccoon bernama Rocket (Bradley Cooper), sidekick Rocket yang adalah sebuah manusia pohon bernama Groot (Vin Diesel), Drax the Destroyer (Dave Batista), dan Gamora (Zoe Saldana) yang adalah seorang pembunuh. Mereka berlima lalu berkerja sama untuk melarikan diri dari penjara dan berencana untuk mengamankan bola yang ternyata sangat berbahaya apabila jatuh ditangan pihak yang salah. Petualangan pun dimulai dan mereka menyebut diri mereka Guardians of the Galaxy!

Plot film ini sebetulnya tidak terlalu spesial. Sekelompok orang dipaksa untuk bergabung menjadi sebuah tim lalu yang pada awalnya saling tidak suka namun seiring berjalan waktu menjadi solid. Klise memang dan mudah ditebak ujungnya akan seperti apa. Namun dari trailer saja sebetulnya kita sudah bisa lihat bahwa Guardians of the Galaxy memang tidak sok serius dan ingin menjadi sebuah film superhero yang ringan dan konyol. Jalan cerita yang tidak terlalu rumit tentu bisa dinikmati oleh sebagian besar penonton. Dengan rumus formula plot yang sederhana, Marvel berhasil menyajikan sebuah tontonan yang super fun dan tentunya akan ditunggu kehadiran sekuelnya segera oleh para fans.

For me the characters make this film. Masing-masing karakter mempunyai kepribadian yang berbeda-beda dan dengan mudah membuat penonton menyukai semua dari mereka. You can easily relate to these characters. Pertama, ada Star Lord yang diperankan Chris Pratt. Sepertinya Chris Pratt perlahan tapi pasti akan menjadi calon aktor favorit saya. Ia dapat dengan mudah memerankan karakter konyol dengan banyolan yang natural namun juga bisa seketika menjadi serius dan menyajikan action bringas. Karakter Star Lord sendiri sepertinya agak mirip dengan karakter Han Solo yang tidak sempurna dan sedikit nakal namun penonton tetap suka. Thumbs up untuk Chris Pratt yang berhasil menurunkan sekitar 36kg untuk film ini! Tetapi karakter favorit saya adalah Rocket!!! He is a total badass dan Bradley Cooper berhasil mengisi suara dengan sangat baik. He is quick witted, crazy with gun, and is a lot of fun to watch! I mean, who doesn't love a talking raccoon who swears and carries a loaded gun? Karakter Groot yang hanya berbicara satu kalimat saja juga dijamin mendapat tempat di hati para penonton, "I am Groot". Begitu juga dengan Gamora dan Drax.

Intinya, ini adalah film superhero yang sangat seru. It made me laugh and I got emotionally connected to the characters. Karakter yang ada dalam film ini adalah poin utama yang dijual, Chris Pratt dan teman-temannya membuat film ini sukses besar. Mereka semua berbeda, penuh dengan kepribadian, dan penonton dibuat benar-benar relate dengan karakternya di sepanjang film. Every characters steals the show! Pretty sure this movie is going to be one of the most entertaining movie this year! Thank you Marvel Studios. :)






August 9, 2014

REVIEW: INTO THE STORM

"There is no calm before the storm."

Disaster movie is always fun to watch, tapi perlu diakui tidak sedikit yang berakhir menjadi sebuah disaster juga. Saya memutuskan menonton Into The Storm karena trailernya terlihat sangat menarik dan sepertinya layak untuk ditonton. Tidak memiliki ekspektasi yang tinggi akhirnya saya pun nonton film ini sendiri, di Malaysia pula. Perlu diketahui bahwa bioskop di Malaysia ini super duper dingin. Gak penting. Hehe.. Anyway, I ended up enjoyed this movie. It was better than I expected to be. Not a great movie, but the tornado scenes are worth seeing. Hal yang paling membuat film ini gagal sebetulnya plot cerita yang bolong sana sini, terlalu predictable, dan tidak menarik. Sepertinya memang tujuan jualannya hanya efek tornado dan sebetulnya efek-efek dasyatnya kebanyakan sudah dipamerkan dalam trailer.

Kota Silverton diberitakan akan dilanda tornado yang datang bertubi-tubi. Ini bukan tornado biasa melainkan tornado yang sangat jarang ditemui dan memiliki daya luar biasa yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang ada dalam sekejap. Seorang pembuat film dokumenter khusus tornado, Pete (Matt Walsh) dan meteorologist Allison (Sarah Wayne Callies) bersama kru pun turun ke lapangan untuk mendapatkan momen spektakuler yang jarang terjadi ini. Di pihak lain, Gary (Richard Armitage) seorang guru yang sedang sibuk dengan acara graduation di sekolahnya terpisah dari salah satu putranya, Donnie (Max Deacon). Bersama putra keduanya, Trey (Nathan Kress), mereka pun berusaha mencari Donnie di tengah hantaman tornado.

Overall, this movie was just okay. Seperti yang sudah saya sebutkan, efek tornado dalam film ini sangat epic. Apalagi ketika tornado bercampur api berputar-putar diudara dan menghancurkan sekitarnya. Thumbs up! Namun ya itu tadi, dari awal kita sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Tidak ada twist yang disajikan. Karakter-karakter yang ada dalam film ini pun sepertinya 'ngambang', penonton tidak dibuat yakin oleh semua karakter yang ada dalam film ini. Intinya menurut saya, Into The Storm akan jadi tontonnya yang lumayan menghibur penonton, namun sebulan kemudian mungkin penonton sudah lupa bahwa mereka pernah menonton film ini. Watch it or skip it, it's up to you.







REVIEW: THE FAULT IN OUR STARS

"Okay? Okay."

Kalau berbicara tentang buku karangan John Green berjudul The Fault in Our Stars, ada begitu banyak yang saya suka dalam buku ini. Ada begitu banyak elemen, dialog, dan momen yang menyentuh hati pembacanya. Tidak heran kalau buku ini menjadi best seller dan berhasil mengumpul banyak fans dari seluruh penjuru dunia. Seriously, no spoiler but this book brought me to tears. Ketika saya dengar kalau buku ini akan diangkat menjadi sebuah film tentu saja saya senang namun jujur saya tidak memiliki ekspektasi yang tinggi. Sudah begitu banyak buku best seller yang diangkat menjadi film namun hasilnya biasanya lebih cenderung ke arah 'disaster'. Contohnya novel remaja best seller Twilight yang bukunya menurut saya sangat bagus namun all the movies are crap not good. Namun ada juga contoh yang melampui batas ekspektasi saya dari novel yang diangkat menjadi film, it is one of my favourite book, The Perks of Being a Wallflower. Film yang juga disutradarai oleh si penulis novel sendiri, Stephen Chbosky, rupanya membuktikan bahwa bisa saja sebuah novel diangkat menjadi sebuah film dengan eksekusi yang baik tanpa menghilangkan esensi dari novel tersebut. Salah satu kunci utama dalam menghidupkan novel menjadi sebuah film adalah pemilihan cast, The Fault in Our Stars terbilang sukses dalam hal ini.

Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) is dying. Thyroid cancer. Ia tidak bisa lepas tabung oksigen yang ia bawa kemanapun dan kanula yang senantiasa menempel pada lubang hidungnya guna membantu mengalirkan udara ke paru-paru guna membantunya agar bisa bernapas layaknya manusia 'sehat'. Ayah dan ibunya sangat suportif, terutama sang ibu yang seolah seperti tidak perduli lagi tentang dirinya sendiri dan mendedikasikan waktunya untuk merawat Hazel. Untuk ukurang seorang remaja berusia 16 tahun, Hazel termasuk seorang yang cerdas. Ia senang membaca dan mempunyai salah satu buku favorit yang sudah ia baca berulang-ulang kali karangan Peter Van Houten (Willem Dafoe). Hazel sudah menderita kanker sejak kecil, mungkin ini yang membuatnya agak sinis dalam memandang hidup, bisa dikatakan lebih cenderung kearah pesimis. Ia hanya menjalani hari demi hari yang monoton dan tidak ada spirit untuk menikmati hidup lagi.

Namun ketika sang ibu memaksanya untuk bergabung dalam support group khusus remaja penderita kanker, Hazel tidak sadar kalau caranya memandang hidup akan berubah. Ia yang tadinya sangat terpaksa mengikuti komunitas ini hanya karena tidak ingin mengecewakan sang ibu akhirnya bersemangat setelah ia berkenalan dengan Augustus Walter (Ansel Elgort). Dari awal bertemu Gus sudah menggoda Hazel yang menurutnya sangat cantik. Mereka pun cepat akrab dan tentu saja ...jatuh cinta. Petualangan pun tentu saja ada di depan mereka, salah satunya adalah perjalanan ke Amsterdam untuk bertemu dengan penulis favorit Hazel, Peter Van Houten. Seiring dengan waktu yang berlalu, pasangan yang bertemu di komunitas kanker ini tentu sadar bahwa mereka mungkin tidak punya waktu lama untuk bersama dan harus siap apabila salah seorang dari mereka harus meninggalkan satu sama lain.

Dari segi cerita sejujurnya ini sangat predictable. Namun hal ini berbeda ketika saya membaca bukunya, saya sama sekali tidak menyangka bahwa endingnya akan seperti ini. Barangkali eksekusi dalam film tidak mudah karena ada banyak details dalam buku yang tidak disajikan di filmnya. Atau mungkin juga karena saya sudah membaca bukunya, jadi saya sudah tau jalan cerita dan endingnya, jadinya saya seperti tidak terlalu surprise ketika sampai di ending. Bahkan saya tidak menangis pada saat menonton, namun tentu saja saya mendengar para wanita barisan belakang, kiri, kanan, kompak menitikkan air mata. However, untuk ukuran film yang diangkat dari novel laris menurut saya The Fault in Our Stars merupakan film yang at least bukan 'disaster'. Saya sangat suka soundtrack dalam film ini, kudos to that! You can hear Ed Sheeran, Jake Bugg, Grouplove, Birdy, Kodaline, Tom Odell, Lykke Li, M83, and many more.

Chemistry antara Shailene dan Ansel patut dapat dua jempol. Agak aneh sebetulnya melihat mereka disini jadi couple setelah sebelumnya menjadi kakak beradik dalam Divergent (2014). Akting Ansel dalam film sebetulnya menurut saya agak sedikit theatrical, namun apa yang saya bayangkan ketika membaca bukunya cocok dengan karakter yang dibawakan Ansel, great choice! Begitu juga dengan Shailene yang memerankan Hazel, the character really suits her. Oh and Nat Wolff as Isaac! Seperti yang saya bilang di awal, cast sangat penting dalam adaptasi sebuah novel dan menurut saya Shailene Woodley dan Ansel Elgort adalah pilihan yang tepat dalam kasus ini. Jadi apakah The Fault in Our Stars adalah sebuah film yang luar biasa dan akan masuk kedalam jajaran best romantic film kedepannya? Nope. Banyak hal janggal dan jujur ini bukanlah sebuah film yang sempurna, akan tetapi apabila pertanyaannya apakah film ini enjoyable? Yes. I enjoyed watching this movie dan saya yakin banyak yang tersentuh menonton film ini. Not a bad movie at all. :)







January 18, 2014

REVIEW: BLUE JASMINE

"Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there's only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming."

Okay first of all, let me say, this just might be Woody Allen's finest film. There was NO bad perfomance in this movie in my opinion. Terutama, Cate Blanchett! Gosh, she did an awesome job here! Sebelumnya saya sudah dengar bagaimana bagusnya akting Cate di Blue Jasmine, namun saya tidak menyangka bahwa aktingnya akan sebagus ini. Begitu selesai nonton film ini, saya langsung bergumam sendiri, 'Anjrit, bagus banget aktingnya!'. Worth for the Oscar for sure! Saya tidak bisa membayangkan aktris lain memainkan karakter Jasmine yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh Woody. Memang ia jagonya kalau menciptakan tokoh yang kompleks dan suka ngomong sendiri dengan isi kepala tumpah ruah, khas Woody Allen sekali.

Jasmine (Cate Blanchett) adalah seorang sosialita asal New York's Park Avenue. Suaminya, Hal (Alec Baldwin) adalah seorang pengusaha yang kaya raya. Namun kehidupan Jasmine berubah seketika begitu suaminya ternyata adalah seorang koruptor yang akhirnya masuk penjara dan bunuh diri disana. Pemerintah juga menyita hampir semua harta kekayaan miliknya. Karena mendadak miskin, terpaksa ia pergi ke San Fransisco untuk tinggal sementara dengan adiknya, Ginger (Sally Hawkins). Kehidupan Ginger sangatlah berbeda dengan Jasmine yang sangat mewah, ia hanya tinggal di sebuah apartemen kecil dengan kedua anaknya. Ginger sudah berpisah dengan suaminya, Augie (Andrew Dice Clay), dan ia sekarang sedang berpacaran dengan pria ugal-ugalan bernama Chili (Bobby Cannavale).

Jasmine tentu saja stress berat. Ia tidak punya pekerjaan, tidak ada pula lelaki kaya yang bisa dijadikannya prospek. Ia mulai mengalami gangguan saraf karena terlalu stress yang menyebabkan ia sering ngelantur ngomong sendiri kala mengingat masa lalu. "Some people, they don't put things behind so easily." Ia pun jadi bergantung pada pil penenang dan obat tidur. Belum lagi ia ketagihan pada alkohol. Kehidupannya hancur berantakan. Namun ia tetap saja 'tampil'. Bermodalkan baju, tas, sepatu, jaket, dan aksesoris mahalnya, ia tetap terlihat seperti wanita kaya yang juga masih tetap naik pesawat first class, meskipun sebenarnya ini hanya kamuflase saja. Gengsi pastinya berperan penting disini.

Cate Blanchett memerankan tokoh Jasmine dengan sangat realistis. Karakter Jasmine disini pastinya tidak disukai para penonton, namun tetap tidak bisa dipungkiri kalau penonton pun ikut iba sepanjang film. We just can't help but feel for her. Saya juga harus bilang kalau saya suka dengan semua outfit yang dipakai oleh Jasmine disini. All those designer dresses, cardigans, and handbags are just beautiful lol! Alec Baldwin juga pas sekali memerankan tokoh sang suami kaya yang terkesan sombong dan angkuh. Begitu juga dengan Sally Hawkins, yang karakternya sangat bertolak belakang dengan Jasmine. I love the contrast between the two. Peter Sarsgaard meski hanya muncul sebentar namun tetap punya esensi penting dalam keseluruhan film. Kehadiran Bobby Cannavale sebagai Chili juga membuat film ini semakin berwarna. Beberapa scene yang ada membuat saya tertawa dengan sajian black comedy ala Woody. Seperti yang saya bilang di awal, semua cast bermain dengan totalitasnya masing-masing.

Pada usianya yang sudah 77 tahun, Woody Allen sepertinya masih saja konsisten mengeluarkan paling tidak satu film setiap tahunnya. Ada yang bagus sekali, seperti Midnight in Paris (2010) -saya sangat suka film ini. Ada pula yang biasa saja dan ..hmm kurang bagus. Namun dengan kehadiran Blue Jasmine di tahun 2013, sekali lagi Woody Allen membuktikan kalau ia memang master-nya membuat film dan menulis cerita yang mempermainkan psikologi manusia. Emosional dan dramatis. Menyentuh dan membuat miris, namun tetap ada senyum didalamnya. Definitely one of his best movie in the last 20 years, and of course, one of my favourite too.






REVIEW: JACK RYAN: SHADOW RECRUIT

Viktor Cherevin: You Americans like to think of yourselves as direct. Perhaps you are just rude.
Jack Ryan: Perhaps you are just touchy.

Saya menonton Jack Ryan di hari pertama penayangannya pada hari Kamis lalu. Bukan karena tidak sabar, lebih pada sambil menunggu macet selepas pulang kerja. Karena rata-rata semua film sudah ditonton, jadi tidak ada salahnya menonton Jack Ryan. Jujur, saya tidak terlalu tertarik menonton film ini. Menurut saya akan biasa banget dan terlalu 'Mission Impossible'. Namun dengan tidak adanya ekspektasi sama sekali, saya ternyata sangat menikmati film ini. Tidak spesial memang, namun ketegangan yang disajikan dari awal hingga akhir begitu intens sehingga film ini menjadi tontonan yang seru dan menyenangkan. Very entertaining!

Diangkat dari karakter terkenal yang dibuat Tom Clancy, Jack Ryan bercerita tentang seorang pemuda yang membongkar akun finansial teroris asal Rusia yang ingin menjatuhkan finansial Amerika. Film dibuka ketika Jack (Chris Pine) yang merasa terpanggil untuk mengabdi kepada negara setelah ia menyaksikan kejadian 9/11. Ia lalu bertugas di Afghanistan dan mengalami cedera punggung parah yang mengharuskannya menjalani terapi yang lumayan lama. Seorang agen CIA bernama Harper (Kevin Costner) mendatanginya di tempat rehabilitasi dan menawarkannya untuk menjadi mata-mata. Ia lalu diminta untuk melanjutkan kuliahnya sampai mendapatkan gelar doktor dan bekerja di Wall Street Bank sebagai analis. Sepuluh tahun kemudian ia lalu menemukan kejanggalan pada sebuah akun milik Viktor Cherevin (Kenneth Branagh) asal Russia sampai pada akhirnya ia ditugaskan untuk pergi ke Russia dan membongkar semua terorisme ini. Dalam tugasnya ini, ia bukan hanya membantu negara, ia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga tunangannya, Cathy (Keira Knightley).

Menurut saya Chris Pine merupakan pilihan yang 'aman' untuk memerankan reboot Jack Ryan ini. He is a very likeable lead. Dengan wajah yang terlihat seperti 'a Boy Scout on a field trip' face, karakter Jack Ryan kali ini dibangun dengan sangat manis dan realistis. Namun entah kenapa saya merasa Keira Knightley kurang pas memerankan tunangan Jack Ryan, chemistry antara mereka berdua kurang terasa dan ujung-ujungnya karakter Keira jadi terasa sedikit menyebalkan. Kenneth Branagh dan Kevin Costner termasuk pilihan yang oke dengan perannya masing-masing, sayang script yang disajikan memang serba 'nanggung'. Terus terang saya sangat menikmati Jack Ryan: Shadow Recruit ini, namun tidak bisa dipungkiri kalau film ini tidak terlalu istimewa dan forgettable. But did I say that I enjoyed the whole movie?







October 9, 2013

REVIEW: FLU (감기)

"Death is in the air you breathe."

Film Korea tidak dapat dipungkiri memang mulai banyak membanjiri konten bioskop tanah air belakangan ini. Saya pribadi sebetulnya tidak terlalu excited bila harus menyaksikan film Korea di bioskop, underestimate mungkin. 'Ah, di dvd saja!', begitu biasanya. Lagipula drama Korea juga terlalu melekat dengan kisahnya yang mendayu-dayu dan unyu (baca: menye-menye). Namun film-film Korea terakhir yang saya tonton di bioskop ternyata tidak mengecewakan sama sekali. Terakhir saya menonton Mr.Go (2013) yang menurut saya merupakan film keluarga yang menyenangkan untuk ditonton. Begitu melihat ada film FLU, saya langsung penasaran, entah kenapa saya memang selalu tertarik dengan film-film bertemakan disaster atau virus seperti Contagion (2011) misalnya. Seru saja!

Tidak ada ekspektasi apapun saya akhirnya menyaksikan FLU pada pemutaran premiere-nya. Dan saya pun tidak menyangka dapat dibuat tegang dari awal sampai akhir film. Tempo film sendiri berjalan sangat cepat sehingga dari awal saya tidak merasa bosan sama sekali, mengingat durasi film yang cukup panjang. Memang, seperti pada film Korea yang lain, ada beberapa scene yang terlalu diulur, dengan kata lain 'too much drama', tetapi secara keseluruhan FLU menurut saya adalah one of the best Korean movie I've seen. Penggarapannya maksimal, jalan cerita menarik, para pemain aktingnya luar biasa. Hal-hal minor yang menjadi kekurangan seperti efek CGI yang masih jelek sekali menurut saya tidak terlalu menjadi masalah, intinya I enjoyed this movie so much.

Cerita dimulai ketika adanya sebuah virus mematikan yang berasal dari sebuah kontainer perdagangan manusia dari Filipina menuju Korea. Bundang, yang menjadi tujuan kontainer itu pun langsung menjadi sorotan karena dalam kurang dari 24 jam virus flu mematikan ini menyebar dengan sangat cepat keseluruh penjuru kota. Kematian yang sangat cepat dan mengenaskan ini terjadi bertubi-tubi sebelum pemerintah sempat mengambil tindakan lebih lanjut, masyarakat Bundang terjangkit virus ini setiap menit!

Kang Ji Goo (Jang Hyuk) adalah seorang petugas pemadam kebakaran. Suatu hari ia menyelamatkan Kim In Hae (Soo Ae), seorang dokter muda cantik yang ternyata sudah memiliki seorang anak perempuan, Kim Mi Reu (Park Min Ha). Ji Goo pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada In Hae, namun sayang tidak lama setelah itu, wabah virus mematikan tersebut langsung mengguncang kota Bundang. Ji Goo pun berusaha sekuat tenaga untuk melindungi In Hae dan putrinya agar selamat dari wabah virus flu.

Bersiap-siap untuk jatuh kecil dengan gadis kecil bernama Park Min Ha! Aktingnya super duper jempolan! Anda akan dibuat tertawa dan terharu melihat tingkah lugu dan menggemaskan Min Ha dalam film ini. But seriously, I think I've never seen a little girl who can act sooo natural like her. Jang Hyuk juga bermain sangat baik dalam film ini. Bicara soal aktor Korea, Jang Hyuk memang merupakan salah satu aktor favorit saya juga selain Cha Tae Hyun (My Sassy Girl, Hello Ghost). Soo Ae pun berhasil mengimbangi Jang Hyuk dan mereka terlihat cocok bermain dalam satu frame. Para pemeran pendukung yang lain juga oke dengan karakternya masing-masing, terutama sang presiden! God, he's so cool! Kalian harus lihat bagaimana si Pak Presiden ini kebingungan menangani kasus yang ada apalagi ditambah tekanan sana sini dari pihak luar negri dan pada akhirnya keputusan yang diambil pun membuat seisi bioskop tepuk tangan. Kharismatik, itu lebih tepat.

Akhirnya saya bisa bilang bahwa FLU adalah film yang layak untuk ditonton. It's a good movie, really. Tidak sempurna memang, jalan cerita juga lumayan klise memang, tapi tempo cerita dibuat sangat intens dan seru untuk ditonton. Penonton akan dibuat tegang, tertawa geli, sampai terharu, emosi dijamin campur aduk! Ini memang jagonya film maker Korea! Selagi menonton FLU kalau ada orang sebelah anda yang batuk-batuk pasti anda akan jadi parno sendiri, like what happened to me lol. But seriously, go see it guys, this movie was an enjoyable one for me, I'm sure you will enjoy it too. :)





October 8, 2013

REVIEW: GRAVITY 3D

"Do you dare to live in space?"

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang astronot. Membayangkan berkunjung ke luar angkasa saja sudah membuat saya bergidik ngeri. Namun tema yang diangkat Gravity karya Alfonso Cuaron ini berhasil membuat saya penasaran seperti apa sih rasanya hidup di luar angkasa. Saya tidak ingat apakah saya sempat bernafas di beberapa menit awal film, that's just how intense the opening minutes of Gravity are. Visualisasi yang spektakuler berhasil membuat penonton terkesima dengan gambar yang disajikan di layar, sound minim yang sengaja diciptakan pun semakin menambah ketegangan. Lama kelamaan intensitas yang sudah ada dari awal pun semakin terbangun dan membuat anda seakan sesak napas.

Gravity bercerita tentang Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney). Kowalski adalah seorang astronot veteran yang sudah sering berkunjung ke luar angkasa dan ia sangat menikmati hal itu. Stone adalah seorang ilmuwan yang sedang menjalani misi pertamanya ke luar angkasa untuk mengimplementasikan teknologi temuannya pada Hubble telescope. Lima belas menit pertama dalam film ini kita diperlihatkan apa yang mereka kerjakan di luar angkasa dan setelah itu terdengarlah pesan bahwa misi dibatalkan karena adanya serpihan pecahan pesawat Russia. Suasana menjadi tegang ketika Stone dan Kowalski tidak bisa lagi melakukan komunikasi ke Bumi, pesawat mereka pun hancur, dan mereka mau tidak mau harus mencari cara agar bisa selamat di luar angkasa. Dengan sisa oksigen yang tidak banyak, waktu yang sedikit, mereka berdua harus beradu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Sandra Bullock dan George Clooney menurut saya merupakan pasangan yang pas, chemistry yang terjalin dalam film ini sangat terasa dan masing-masing dari mereka pun memberikan performa akting yang brilian. Karakter masing-masing yang dimainkan juga sepertinya menempel sempurna pada keduanya. Alfonso Cuaron sepertinya paham betul dengan apa yang ia buat kali ini, ia seperti menciptakan sebuah seni berlatar belakang angkasa luar. Indah sekali. Mulai dari movement para pemain, pemandangan bumi dari atas, luar angkasa itu sendiri, sampai pecahan-pecahan puing yang dasyat. Mungkin ada beberapa orang yang tidak terlalu suka menonton film tiga dimensi, but trust me for this one you gotta watch the 3D version. Luar angkasa, adalah latar belakang yang tepat untuk menunjukkan pada penonton bagaimana efek 3D dapat begitu terasa dalam sebuah film serta sensasi menonton yang amat beda.

Terus terang jalan cerita Gravity memang bisa dibilang sangat simple. Saya yakin bagi sebagian orang film ini akan terasa membosankan, I think with this kind of movie it's either you love it or you hate it. Namun menurut saya pribadi, kesuksesan sang sutradara mengemas film ini sedemikian rupa dengan hanya diisi oleh dua aktor merupakan sebuah prestasi yang cemerlang. Ide yang sederhana ini berhasil ia tuangkan menjadi sebuah tontonan berseni. It is very, very, intense. Kudos untuk pengamatan detail Cuaron pada suara yang ada dalam film ini, dimana hal ini semakin menambah ketegangan dalam setiap scene-nya. Gravity surely gave me a whole different cinematic experience.






July 20, 2013

REVIEW: THE CONJURING

"Look what she made me do."

James Wan is definitely a horror genius! Saw pertama yang disutradarainya tahun 2004 merupakan titik awal kejeniusannya dikenal dunia. That is a great slasher entertainment! Lalu tahun 2010 kemarin, Wan juga menakuti penonton dalam Insidious. Saya lumayan suka dengan Insidious yang menurut saya merupakan sebuah oldschool horror, reviewnya bisa dibaca disini. Tapi, semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan The Conjuring! Trust me, this movie will make you jump from your seat and scream like a little girl! Semua sudah di planned oleh James Wan dengan sangat baik, mulai dari cast, score, tone warna, script; and it turned out to be an epic shit horror! To make it worse, this movie is based on a true story. Damn.

Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) adalah pasangan suami istri paranormal yang bisa dibilang terkenal akan kemahiran mereka dalam memecahkan kasus gaib. Mereka mengajarkan tentang kekuatan ilmu hitam dan cara menanganinya dalam sebuah kelas, sambil juga tetap menerima kasus-kasus dan mengumpulkan semua footage yang ada. Mereka bahkan 'mengoleksi' barang-barang yang terisi ilmu hitam dan mengumpulkannya dalam satu kamar di rumah mereka, menurut Ed dan Lorraine akan lebih aman kalau barang-barang jahat ini dikumpulkan dalam satu tempat dibanding berada di tangan orang yang salah.

Ada satu kasus yang tidak mereka ceritakan pada public karena kasus ini merupakan kasus yang paling seram dan sulit selama mereka menjadi paranormal. Kasus ini dimulai ketika Carolyn (Lily Taylor) datang meminta bantuan Ed dan Lorraine untuk mencoba melihat apa yang terjadi didalam rumah baru mereka. Roger (Ron Livingston) dan Carolyn serta kelima anak perempuan mereka yang baru pindah ke sebuah rumah baru disamping danau mendapatkan gangguan-gangguan sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki ke rumah tersebut. Semakin lama gangguan ini semakin membabi buta sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mencari bantuan The Warrens. Hal ini di konfirmasi oleh Lorraine yang langsung mendapatkan perasaan tidak enak dan merasa sesuatu yang amat buruk pernah terjadi dalam rumah tersebut.

Saya suka bagaimana James Wan pelan-pelan membangun intensitas horror dalam film ini. Dimulai dengan ketakutan yang masih bisa ditolerir sampai berujung dengan seisi bioskop yang menjerit bersama. Bukan berarti anda akan dibuat santai di awal, oh tidak, anda tetap akan merasa tegang sejak awal film dimulai dan hal ini akan dibangun semakin kuat mulai pertengahan menjelang akhir. Banyak film horror yang misinya hanya menakuti penonton dengan membuat kaget dan mempertontonkan wujud super seram, tapi sebuah film horror yang baik adalah yang memiliki jalan cerita serta membuat para penontonnya bukan hanya kaget tapi takut secara emosional. That what makes it a good horror movie!

I can say that The Conjuring is simply the best horror movie I've seen. It's a classic! Sebuah horror pintar dengan ketakutan-ketakutan orisinil yang belum pernah anda lihat dimanapun. Disaat menonton, anda akan berfikir dalam hati dan mengambil ancang-ancang kemana ketakutan ini akan berujung, akan tetapi James Wan rupanya tau jalan pikiran anda dan malah menakuti anda dari sisi lain, ini yang membuat penonton tidak kuat menahan teriakan. End credit film ini juga sangat keren. Saya beruntung sekali bisa menyaksikan lebih dulu dalam preview screening kemarin malam, semua orang tepuk tangan setelah film usai. Clap, clap!





July 12, 2013

REVIEW: PACIFIC RIM 3D

"In order to fight monsters, we created monsters of our own."

I went to see Pacific Rim with no expectations at all. I thought, well okay, another Transformers movie which not gonna be as good as Transformers, but hell I was wrong. Tetapi ternyata dengan tidak adanya ekspektasi sama sekali membuat saya sangat menikmati menonton Pacific Rim, meskipun dua teman yang nonton bersama saya ternyata tidak suka, and they're boys. Jadi ya, balik lagi film itu memang tergantung selera orang masing-masing, kebetulan I really enjoyed this movie. I watched it on IMAX 3D and I thought it was a mindblowing experience! The special effects and the robots fighting scenes are really cool, you don't wanna miss it! I think the 3D version is recommended. Jalan cerita sendiri sebetulnya so-so, tidak terlalu istimewa. Tapi trust me, this is one of the great summer movie this year! Jangan ekspektasi tinggi-tinggi, langsung nonton aja. :)

Beberapa tahun dari sekarang, alien's monsters Kaiju yang muncul dari portal dasar laut Pasifik mulai datang menyerang Bumi. Perlahan tapi pasti mereka mulai menghancurkan infrastruktur yang ada dan membunuh manusia yang mereka temui. Negara-negara mulai cemas dan akhirnya mereka memutuskan untuk bekerjasama membuat robot-robot yang diberi nama program Jaeger. Robot Jaeger harus dikendalikan dua orang pilot yang saling bertautan memorinya. Semakin kuat ikatan yang ada antara kedua pilot tersebut, maka semakin baiklah pengendalian robot Jaeger. Raleigh Becket (Charlie Hunnam) merupakan salah satu top Jaeger's pilot. Namun setelah kematian kakaknya, ia memutuskan untuk tidak menjadi pilot lagi. Lima tahun kemudian pimpinan kelompok resistance, Stacker Pentecost (Idris Elba) kembali mencari Raleigh dan mengajaknya ikut dalam pembasmian Kaiju dikarenakan level monster Kaiju yang semakin lama semakin tinggi dan penghancuran yang dilakukan sudah mengarah ke kiamatnya Bumi.

Sejujurnya ketika awal film saya merasa agak aneh dengan film ini, serius nggak; bercanda juga nggak. Namun seiring dengan berjalannya film saya jadi mengerti bahwa Del Toro sengaja membuat Pacific Rim tidak seserius itu! Semua pemain sepertinya sengaja dibuat 'lebay', beberapa scene sengaja dibuat 'cheesy', dan tentu saja adegan pertarungan antar robot dibuat 'wah' sekali! Tidak disangka trik ini berhasil! Overall, saya merasa menonton Pacific Rim seperti sedang bermain sebuah permainan video game yang seru dan membuat kita ingin bertepuk tangan ketika setiap adegan pertempuran selesai. Charlie Hunnam bisa dibilang annoyingly lovable disini; sebel tapi suka. Gimana yah?! :p Idris Elba top lah! Rinko Kikuchi awalnya menurut saya agak 'off' tapi lama-lama saya jadi berfikir, mungkin memang sengaja dibentuk seperti ini karakternya agak sedikit anime. Kehadiran Charlie Day sebagai seorang Dr.Newton Geiszler juga sangat menghibur, begitu juga dengan Ron Perlman as Hannibal Chau. Pokoknya saran saya kalau kalian ingin menonton Pacific Rim adalah 'WHY SO SERIOUS?!'.