November 29, 2010

12th JIFFEST 2010 - SHORT REVIEWS: HONEY (BAL), WAYS OF THE SEA (HALAW), WHEN WE LEAVE (DIE FREMDE)

















Honey (Bal) - Turkey
Yusuf (Bora Altas) adalah seorang bocah yang hidup bersama ayah dan ibunya di sebuah daerah pegunungan terpencil di Turki. Ia termasuk anak yang pendiam dan tidak punya teman. Satu-satunya teman terbaiknya adalah sang ayah. Ayah Yusuf, Yakub (Erdal Besikcioglu), adalah seorang peternak lebah. Yusuf sering menemani ayahnya pergi mengambil madu di hutan. Baginya, hutan merupakan sebuah tempat yang sangat menarik, penuh dengan segala misterinya. Meski terlihat sangat luwes di depan sang ayah, Yusuf mendapatkan kesulitan di sekolah. Ia selalu malu apabila disuruh membaca, suaranya terputus-putus. Suatu hari lebah-lebah menghilang dari sarangnya, lalu sang ayah mengambil keputusan untuk pergi ke sebuah daerah yang lebih jauh guna membuat sarang baru. Hari demi hari berlalu namun Yakub tak kunjung pulang. Yusuf pun menjadi tambah diam dan tidak berbicara dengan sang ibu. Setiap hari ia menunggu ayahnya pulang dari hutan. Yusuf lalu nekad pergi ke hutan untuk mencari sang ayah. Sebuah perjalanan yang tidak berujung..

>>> Menurut saya film ini membosankan. Tidak ada musik yang dipakai sama sekali mulai dari awal sampai akhir film (well, ada sih di satu scene). Yang ada hanya suara jangkrik dan angin. Dialog-dialog pun sangat amat irit, apalagi filmnya termasuk panjang; sekitar 103menit. Jadi banyak sekali silent moments dalam film ini, ahhh..bosan. Thank God, sang aktor cilik pemeran utama, Bora Altas, sangat lucu dan pintar berakting. Gemas sekali melihatnya! Anak ini yang menolong saya agar tidak tertidur menyaksikan film ini. Ceritanya sendiri menurut saya terlalu simple (menurut saya lho). Atau mungkin juga apa karena ini adalah film terakhir dari trilogi karya Semih Kapanoglu, saya belum menonton yang pertama dan kedua jadi kurang mendapatkan 'feel' yang disampaikan. Film pertamanya berjudul Egg (Yumurta); menceritakan kisah Yusuf pada saat berumur 40-an, lalu Milk (Süt); tentang masa remaja Yusuf. Tentu film yang menjadi official submission Turkey untuk Best Foreign Languange di ajang Oscar mendatang bukanlah sebuah film yang jelek, hanya mungkin otak saya belum sampai kesana.










































Ways of the Sea (Halaw)Philippines
Halaw bercerita tentang kaum miskin di Filipina yang mencoba mengadu nasib menuju Sabah, Malaysia; menggunakan perahu kayu sebagai imigran gelap. Perahu yang ditumpangi kali ini berisi beberapa orang; ada anak kecil dan kakaknya yang menuju Sabah dengan harapan dapat bertemu dengan ibunya yang bekerja disana, ada juga penjual emas dan anaknya yang mencoba peruntungan di Sabah, lalu germo yang membawa mangsanya untuk 'dijual' disana, dll. Masing-masing punya rencana sendiri sesampai di Sabah, namun dengan sebuah tujuan yang sama yaitu memperoleh kehidupan yang mereka pikir akan lebih baik daripada menetap di Filipina. Akan tetapi, perjuangan untuk melintasi perbatasan Malaysia tidak mudah. Banyak patroli yang berkeliaran, mereka harus menanggung resiko apabila tertangkap.

>>> Film kedua saya di Jiffest ternyata juga tidak terlalu memuaskan. Menurut saya jalan cerita film ini sebenarnya sudah oke, karena hal-hal mengenai imigran gelap selalu menarik perhatian. Namun, penyajiannya membuat saya sebal. Mulai dari gambar yang sedikit buram dan gelapnya minta ampun, lalu sound yang berantakan; bayangkan saja bagaimana mulut para aktor yang sudah bergerak di layar lebar lalu suara baru keluar beberapa detik setelahnya! Hal tersebut tentu mengganggu sekali kenikmatan menonton saya. Bukan hanya itu, entah kenapa menurut saya akting para aktor dan aktris Filipina dalam ini tidak terlalu bagus, lebih bagus akting para pemain Indonesia.










































When We Leave (Die Fremde) - Germany
Seorang wanita asal Turki bernama Umay (Sibel Kekkili) telah menikah dan mempunyai seorang anak lelaki yang amat lucu, Cem (Nizam Schiller). Namun, sang suami Kemal (Ufuk Bayraktar) adalah seorang suami yang biadab dan sering main tangan. Sekujur tubuh Umay habis dipukuli Kemal apabila suaminya sedang dalam mood yang kurang baik. Dalam hal sex pun Kemal selalu semena-mena. Cem juga sering dibentak dan dikurung dalam kamar yang gelap. Suatu hari, Umay yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan suaminya, memutuskan untuk pulang ke Jerman menemui keluarganya yang tinggal disana. Tidak disangka, begitu ia memberitahu keluarganya bahwa dirinya dan Kemal lebih baik berpisah saja, sang ayah malah menentang keras. Begitu juga dengan kakaknya, Mehmet (Tamer Yigit). Mereka menganggap bahwa Umay adalah anak yang durhaka karena telah menikah dan punya anak namun malah menelantarkan suaminya, padahal Umay sudah menceritakan perlakuan suaminya, tetap saja keluarganya yang kolot lebih mementingkan omongan masyarakat daripada anaknya sendiri. Merasa tidak bisa lagi tinggal bersama keluarganya, Umay membawa Cem pergi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya agar mereka tidak bisa disakiti lagi oleh siapapun. Keadaan bertambah gawat ketika Kemal ingin mengambil paksa Cem dari tangan Umay, hal ini bahkan disetujui keluarga Umay. Gila.

>>> Akhirnya film ketiga saya di Jiffest memuaskan juga! Saya sangat menyukai film ini. Jalan cerita, akting para pemain, dan emosi yang dipancarkan sangat terasa dan mengalir pas. Lagi-lagi aktor cilik dalam film ini sangat lucu, rasanya ingin saya bawa pulang saja. Dari awal saya seru sekali mengikuti perjalanan Umay dan anaknya melewati lika-liku kehidupan yang mereka alami. Saya sampai geregetan sendiri melihat kelakuan keluarga Umay yang menurut saya 'freak'. Apa kalian pernah nonton sebuah film yang pada saat akhir film anda disuguhkan sebuah ending yang membuat anda diam terpaku tidak dapat berkata-kata dan tiba-tiba 'jrenggg' filmnya habis. The End. Inilah drama yang diberikan Die Fremde, sebuah ending yang mengejutkan dan membuat saya lemas ketika diharuskan keluar gedung theater. Saya kaget dan tidak terima. I love this movie! Film ini juga merupakan official submission dari Jerman untuk kategori Best Foreign Languange di Oscar mendatang lho! So far, kalau dibanding dengan saingannya, Bal, saya lebih menjagokan Die Fremde. :)




November 26, 2010

REVIEW: UNSTOPPABLE





































"This is Will Coalson your conductor speaking, we are gonna run this bitch down."

Unstopabble diangkat dari kisah nyata tentang sebuah kereta barang yang melaju tak terkendali tanpa masinis. Film ini disutradarai oleh Tony Scott (The Taking of Pelham 1 2 3, Deja Vu, Man on Fire, Top Gun) dan merupakan hasil kolaborasinya yang kesekian kali dengan aktor Denzel Washington. Dengan plot cerita yang bisa dikatakan cukup sederhana, Scott berhasil mengemas film ini dengan apik dan membuat para penonton enggan untuk meninggalkan bangku mereka. Tempo cerita berjalan cepat dengan ketegangan demi ketegangan yang terus melaju membuat adrenalin semakin terpacu. Pemilihan Denzel Washington pun terasa sangat tepat dan pas dengan karakter yang dimainkan. Chris Pine juga terlihat mampu mengimbangi kharisma dan performa seniornya. Pasangan yang lovable ini tentu saja memberi nilai tambah bagi keseluruhan film. Love them both!

Pada hari pertama bekerja, seorang konduktor kereta api yang masih muda, Will Coalson (Chris Pine), dipasangkan dengan masinis veteran bernama Frank Barnes (Denzel Washington). Keadaan sedikit memanas pada awalnya karena Frank bersikap sinis dengan Will dikarenakan ia merasa orang-orang baru seperti Will yang membuat dirinya dipaksa untuk pensiun. Di tempat lain, seorang masinis bernama Dewey (Ethan Suplee) meninggalkan kereta yang sedang dibawanya karena ia berniat untuk mengganti jalur. Sialnya, karena kesalahan teknis kereta itu tiba-tiba melaju cepat dan tidak sempat lagi dikejarnya. Kereta itu merupakan kereta barang yang panjangnya kurang lebih 1,5 km dan mengangkut barang-barang berbahaya seperti bahan kimia yang mudah terbakar. Kereta ini harus segera dihentikan sebelum membahayakan banyak orang, karena ia sedang melaju ke kawasan padat penduduk di daerah Pennsylvania.

Tony Scott dengan jelas menggambarkan disini bahwa karakter Will dan Frank merupakan para pria dengan kehidupan normal, lengkap dengan masalah keluarga masing-masing. Sosok heroik dalam film ini berhasil mendulang simpati, kembali lagi ke keberhasilan Scott membangun karakter mereka dari awal film. Akting yang dibawakan Denzel Washington dan Chris Pine tidak perlu diragukan lagi. Meski berbeda generasi, mereka terlihat bisa saling mengisi satu sama lain, terbukti dari chemistry yang tercipta diantara mereka sangat terasa. Rosario Dawson juga berhasil menjadi 'pemanis' dalam film action ini. Plot cerita tentu sangat simple, semua orang yang membaca sinopsisnya tentu sudah bisa menduga bagaimana film ini akan berakhir. Namun, pengemasan menuju ending-lah yang membuat saya tidak kecewa dengan film ini. Memang bukan sebuah film yang istimewa, akan tetapi Unstoppable merupakan sebuah hiburan yang seru. Lumayan untuk membuat jantung anda terpompa menyaksikan aksi heroik dua aktor Hollywood papan atas guna menghentikan kereta super cepat. Great entertainment! :)





November 22, 2010

REVIEW: THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO (Män som hatar kvinnor)


























"Based on the worldwide bestseller."

The Girl with the Dragon Tattoo diangkat dari novel best seller karangan Stieg Larssons, seorang pengarang dan jurnalis asal Swedia. Ini merupakan novel pertama dari trilogi Millennium yang ditulisnya. Niels Arden Oplevs mengangkat film yang berjudul asli 'Män som hatar kvinnor' dalam bahasa Swedia ini dengan sangat baik. Awalnya saya kurang tertarik menyaksikan film ini karena saya sendiri belum membaca novelnya, lagipula pemainnya saya tidak kenal semua. Apalagi ditambah dengan dialog dalam bahasa Swedia yang masih asing di telinga. Akan tetapi, keisengan saya menonton berbuah sebuah kepuasan. The Girl with the Dragon Tattoo sangat seru untuk dinikmati. Plot cerita dijabarkan dengan sangat apik lengkap dengan misteri yang membuat penonton penasaran. Sangat recommended untuk yang menyukai film ala detektif dengan sentuhan thriller.

Empat puluh tahun yang lalu, Harriet Vanger menghilang dari tempat tinggalnya. Jasadnya tidak pernah diketemukan, sehingga membuat keluarganya besar Vanger yang kaya raya bertanya-tanya apakah Harriet sudah meninggal atau belum. Sang paman, Hanrik Vanger (Sven-Bertil Taube), yakin kalau Harriet telah dibunuh, selama bertahun-tahun ia sudah mengandalkan segala macam cara untuk menemukan pembunuhnya, namun tidak pernah berhasil. Lalu ia menyewa seorang jurnalis yang sedang terlibat masalah hukum, Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist). Mikael lalu dibantu oleh seorang hacker wanita berpenampilan sangar, Lisbeth Salander (Noomi Rapace). Mereka berdua lalu berusaha memecahkan teka-teki yang sudah ada berpuluh-puluh tahun ini. Usaha mereka tidak berjalan mulus karena ternyata sang pembunuh masih merupakan bagian dari keluarga besar Vanger.

Cinematografi film ini digarap dengan sangat baik. Sang aktris utama, Noomi Rapace juga menunjukkan performa yang kuat dan luar biasa. Begitu juga dengan akting Michael Nyqvist sebagai Mikael Blomkvist dan Sven-Bertil Taube sebagai Hanrik Vanger yang juga bermain baik dengan karakternya masing-masing, sehingga penonton bisa percaya dengan apa yang mereka mainkan. Plot cerita film ini sendiri menurut saya cukup menarik dan membuat penasaran, ini dari sudut pandang saya, seseorang yang belum membaca novelnya. Durasi 2,5 jam memang cukup panjang namun saya tidak merasa bosan sama sekali. Saya tidak sabar untuk menyaksikan film kedua dan ketiganya; The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornet's Nest. Hanya tayang di bioskop Blitzmegaplex. :)




November 13, 2010

REVIEW: YOU AGAIN






































"What doesn't kill you... is going to marry your brother."

You Again menceritakan tentang bagaimana masa SMU bisa sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang kedepannya. Marni (Kristen Bell) pada waktu SMU selalu jadi loser, apalagi didukung dengan wajahnya yang berjerawat dan kacamata ala kutubuku. Seperti yang kita tahu, dimana ada pecundang disitu pasti ada anggota cheerleader yang populer, Joanna atau JJ (Odette Yusman) berperan sebagai ketua cheerleader yang cantik dan seolah sempurna tersebut. JJ selalu memperolok Marni, sehingga membuat trauma mendalam. Namun itu menjadikan acuan Marni untuk berubah, sehingga sekarang ia bisa mendapat pekerjaan di perusahaan Public Relations terkenal. Ketika Marni akan pulang kampung guna menghadiri pernikahan sang adik, Will (James Wolk), betapa kagetnya ia ketika ternyata sang calon mempelai wanita adalah JJ, musuh bebuyutannya selama SMU dulu! Lebih parahnya lagi, ibu Marni, Gail (Jamie Lee Curtis) juga bertemu dengan musuhnya sewaktu SMU, bibi JJ yang bernama Ramona (Sigourney Weaver). Suasana menjadi tegang seketika.

Kalau dari segi cerita sih seperti biasa, klise dan mudah sekali ditebak. Namun, You Again tidak bisa dibilang proyek gagal, karena banyak scenes yang memang mengocok perut. Kristen Bell yang terakhir membuat saya kecewa sekali dengan When in Rome (2010) kali ini tampil lebih baik. Meskipun terus terang, saya merasa bosan dengan peran-peran yang diambil Bell, terkesan tidak menantang dan stuck disitu-situ saja. Odette Yusman pastinya berhasil menarik minat para pria untuk menonton film ini, tentu saja bermodalkan kecantikannya. Tapi boleh dibilang, akting Odette Yusman bagus juga. Beberapa aktris lagi yang mencuri perhatian tentu saja Jamie Lee Curtis dan Sigourney Weaver! Oh my God, scenes yang menyandingkan mereka berdua dalam satu frame selalu menggelikan dan membuat saya tertawa. Tidak ketinggalan penampilan sang nenek lincah, Betty White, yang masih sangat centil dan konyol disini. Intinya, kalau deretan cast, You Again sudah memiliki para aktris yang perfecto!

Jangan berharap banyak dari film ini. Nikmati saja dan tertawalah! Mungkin beberapa hari setelah menonton kita akan lupa dengan isi filmnya, tapi hey it's okay selama filmnya bisa menghibur. Betul khan? Ini memang bukan film penting, tapi menurut saya penting juga sekali-sekali menonton film ringan seperti You Again, karena anda tidak perlu berfikir dan terlalu serius dalam menonton, lihat saja ke layar dan tertawa! You Again masih layak ditonton koq, saya sendiri merasa sangat terhibur sepanjang film. Memang lebih direkomendasikan untuk ditonton para wanita, tetapi meskipun anda pria; tidak ada salahnya melewatkan akhir pekan dengan menonton film komedi ini. Semoga semuanya terhibur! :)





November 4, 2010

REVIEW: THE SOCIAL NETWORK





































"A story about the founders of the social-networking website, Facebook."

Sejak mendengar nama David Fincher yang akan duduk di bangku sutradara dalam proyek film ini, saya langsung sangat excited! Fincher merupakan salah satu sutradara favorit saya, sudah banyak film-film berkualitas yang berhasil dihasilkannya, sebut saja Se7en (1995) dan The Curious Case of Benjamin Button (2008). Tentu saja tidak ketinggalan, Fight Club (1999), yang selalu masuk ke jajaran film kesukaan saya. Kali ini dengan The Social Network, Fincher kembali membuat saya terkesima. Film ini menceritakan biografi Mark Zuckerberg, pembuat website Facebook yang sangat fenomenal itu. Ada juga rekan-rekan Mark dalam mendirikan Facebook dari awal. Seru rasanya melihat visualisasi bagaimana awal terbentuknya sebuah website yang memang membuat para penggunanya yang tersebar di hampir seluruh belahan dunia menjadi sangat addicted. Perhatian Fincher pada setiap detail dalam film ini patut diacungi dua jempol, sampai-sampai The Social Network disebut-sebut akan menjadi kandidat kuat dalam beberapa nominasi Oscar berikutnya.

Mark Zuckerberg (Jessie Eisenberg) adalah seorang mahasiswa Harvard yang sangat jenius dalam bidang pemograman komputer. Ia telah membuat beberapa website yang memang menjadi heboh di universitas tersebut. Suatu hari ia mendapatkan ide untuk membuat sebuah website social-networking yang awalnya ia beri nama The Facebook. Mark pun mengajak sahabatnya, Eduardo Saverin (Andrew Garfield), untuk memberikan suntikan finansial dan bersama-sama menjalankan proyek yang mereka yakini akan menjadi 'besar' ini. Tidak disangka hanya dalam waktu dua jam sejak peluncuran perdananya, Facebook telah mendapat kunjungan sebanyak 22.000 hits! Namun tentu saja jalan yang mereka tempuh tidak mulus, mulai dari gugatan yang diajukan senior mereka di Harvard karena mereka merasa Mark telah mencuri ide mereka dan juga tawaran bantuan mencurigakan dari Sean Parker (Justin Timberlake); pendiri website Napster. Tentu saja jalan yang ditempuh seorang Mark Zuckerberg untuk menjadi 'the youngest billionaire in history' tidak akan mudah.

Saya terkesan sekali dengan deretan cast yang dipilih David Fincher untuk film ini, mulai dari Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, sampai Justin Timberlake. Mereka semua bermain sangat brilian, tidak terkecuali Timberlake. Terus terang tadinya saya sangat meremehkan kehadiran Timberlake disini, saya pikir ia hanya akan menjadi 'perusak', but hey, saya salah! Justin Timberlake bermain apik disini, ini film pertamanya yang menurut saya berhasil membuat penonton yakin bahwa selain bernyanyi, ia juga bisa berakting. Kalau berbicara tentang Jesse Eisenberg, OH MY GOD, saya tidak tahu harus berkata apa! Siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain Eisenberg? Fincher tahu itu, ia tahu kalau Eisenberg adalah pilihan yang sangat tepat! Mulai dari wajah dan kesan 'geek', sampai kualitas akting yang superb. Dialog-dialog diucapkan Eisenberg dengan sangat meyakinkan dan sempurna tanpa cela. Awesome job! The Social Network bertopang pada skrip yang luar biasa dan akting para pemainnya. Masalah satu-satunya mungkin hanya ada pada ending yang menggantung, tetapi menurut saya memang sebaiknya dibuat seperti itu, jadi penonton bisa menebak-nebak sendiri bagaimana kelanjutannya. Akhirnya ada satu lagi film yang menerobos masuk kedalam list 'Best Movies 2010' versi Jagoan Movies! Woohoo!





November 2, 2010

REVIEW: MEGAMIND 3D




































"Happy Metro Man day, Metro City!"

Setelah sukses besar dengan 'How to Train Your Dragon' pada awal tahun 2010, kali ini DreamWorks Animation kembali dengan animasi terakhirnya pada penghujung tahun ini, Megamind. Menggandeng para komedian yang terkenal untuk mengisi suara pada karakternya seperti Will Ferrell, Tina Fey, dan Jonah Hill. Tidak ketinggalan aktor kawakan, Brad Pitt yang turut menyumbangkan suara meskipun hanya muncul beberapa menit saja. Ada pula suara Ben Stiller dan Justin Theroux yang turut meramaikan animasi ini. Sang sutradara sendiri, Tom McGrath adalah sutradara yang telah berhasil membuat Madagascar (2005) dan Madagascar 2 (2008). Menurut saya Megamind lumayan berhasil untuk jadi tontonan yang menghibur, akan tetapi karena tahun ini era animasi sedang heboh-hebohnya, entah apakah Megamind mampu melekat dengan baik di hati penonton?

Megamind (Will Ferrell) adalah penjahat yang sangat ingin menaklukkan sebuah kota bernama Metro City. Namun sayang, Metro City sudah mempunyai seorang pahlawan super yang dipuja warga yaitu Metro Men (Brad Pitt). Metro Men dan Megamind sudah saling mengenal sejak kecil dan tentu saja Metro Men selalu berada jauh diatas Megamind dalam hal apapun. Sekarang pun sama, setiap kali ia mencoba merebut Metro City dari Metro Men, usahanya selalu gagal. Namun siapa sangka kalau tiba-tiba usaha Megamind untuk melenyapkan Metro Men berhasil! Tetapi setelah kepergian Metro Men, Megamind malah merasa bosan dan tidak ada tantangan lagi dalam menjalani hidup. Akhirnya Megamind memutuskan untuk membuat dan melatih seorang superhero baru yang ia beri nama, Titan (Jonah Hill). Megamind berharap kehadiran Titan bisa mengisi kekosongan dan kejenuhan dalam hatinya setelah ditinggal Metro Men.

Saya berkesempatan menyaksikan Megamind 3D lebih dulu pada pemutaran perdananya hari Sabtu kemarin. Seru sekali karena screening tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh superhero seperti Hellboy, Batman, Wonder Woman, Ultraman, dll. Sayang saya tidak membawa kamera sehingga tidak bisa mengabadikan momen tersebut. Faktor 3D yang ada disini tidak terlalu spesial, maka bagi anda yang ingin mengirit ongkos nonton yaa tidak perlu menonton versi 3D-nya. Cerita tentang superhero memang selalu menarik untuk ditonton, apalagi kalau yang bisa diterima oleh segala macam usia. Megamind termasuk salah satunya, menurut saya film ini bisa diterima mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Sayang, mulai pertengahan memang intensitas cerita sedikit mengendor dan cenderung dipaksakan sehingga saya merasa bosan dan tidak tertarik lagi untuk mengetahui kelanjutannya. Secara keseluruhan, Megamind tentu bukanlah sebuah animasi yang gagal. Namun jika dibandingkan dengan 'superhero' animasi tahun ini seperti Toy Story 3, Despicable Me, dan How to Train Your Dragon; rasanya Megamind kurang beruntung. :)